Ternyata Menjadi Dosen Tidak Sesepi Itu!!


Foto bersama dosen FP3

Kurang lebih sudah delapan tahun saya menyandang title sebagai dosen.

Kalau dipikir-pikir, delapan tahun itu bukan waktu yang sebentar. Kalau dianalogikan seperti orang merantau ke negeri lain, delapan tahun sudah cukup lama untuk membuat seseorang berubah.

Saat kembali, mungkin jalan-jalannya masih sama, gedung-gedungnya masih berdiri di tempat yang sama, tapi cara pandangnya sudah berbeda.

Dan mungkin itu juga yang terjadi pada saya

***

Saya mulai menjadi dosen sekitar tahun 2019.

Waktu itu saya sudah memiliki satu anak yang masih berusia sekitar 10 bulan. Suami jauh di luar kota, kami menjalani LDM, bahkan sampai hari ini.

Jadi kalau diingat-ingat lagi, awal perjalanan saya menjadi dosen, tidak terlalu ideal.

Lebih mirip seseorang yang sedang mencoba tetap waras sambil belajar banyak hal sekaligus: menjadi ibu; menjadi dosen; dan menjalani kehidupan baru yang semuanya terasa asing.

***

Hari pertama saya datang ke kampus masih cukup jelas di ingatan.

Waktu itu kampus kami masih "nebeng" di sekolah. Karena ruangannya dipakai bersama, rapat pembagian mata kuliah dilakukan siang hari setelah aktivitas sekolah selesai.

Sebelum rapat dimulai, saya datang ke ruang dosen untuk berkenalan. Ada satu ruang kelas yang saat itu digunakan sebagai kantor sekaligus tempat transit dosen.

Dengan modal nekat dan sedikit rasa percaya diri 'palsu', saya masuk lalu mengucapkan salam.

Kemudian saya memperkenalkan diri ke dosen-dosen yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Kalau dipikir sekarang, rasanya agak 'cringe' juga.

Bayangkan saja, orang-orang sedang fokus bekerja, lalu tiba-tiba ada dosen baru muncul memperkenalkan diri dengan senyum canggung.

Dan bagian paling lucunya adalah setelah saya selesai memperkenalkan diri... semua kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tidak ada yang penasaran dengan saya hahahahha...

Tidak ada obrolan panjang.

Tidak ada momen dramatis seperti di film-film.

Saya tetap duduk sendirian.

***

Waktu itu saya hanya punya satu kenalan dosen, kebetulan teman SMA yang memang sudah lebih dulu mengajar di sana.

Selain itu, saya benar-benar tidak mengenal siapa-siapa.

Hari-hari mengajar saya lalui seperti mahasiswa kupu-kupu:

datang,

mengajar,

lalu pulang.

Tidak ada nongkrong di ruang dosen.

Tidak ada ngobrol santai.

Tidak ada cerita-cerita antar dosen.

Bahkan saya sendiri waktu itu belum benar-benar tahu siapa saja dosen yang satu prodi dengan saya.

Lucunya lagi, homebase saya saat itu masih di Perikanan, padahal bidang keilmuan saya sebenarnya Agribisnis.

Dan di masa itu, saya mendapat mata kuliah: Tingkah Laku Ikan.

Jujur saja, waktu pertama membaca nama mata kuliah itu, saya sempat berpikir: "Memangnya ikan juga perlu diajarkan sopan santun?"

Di kepala saya waktu itu, mata kuliah tersebut terdengar seperti pelajaran pendidikan karakter versi bawah air.

Absurd sekali memang.

***

Setelah pembagian mata kuliah selesai, muncul kebingungan lain.

Saya harus mengajar seperti apa?

Cara menjadi dosen yang benar itu bagaimana?

Apa saja sebenarnya tugas dosen selain masuk kelas?

Waktu itu saya benar-benar buta tentang dunia akademik.

Tentang jabatan fungsional, BKD, penelitian, publikasi, bahkan TRI DHARMA pun saya belum benar-benar memahami.

Saya hanya tahu satu hal: besok harus masuk kelas dan mengajar mahasiswa.

Itu saja.

***

Tahun 2020 menjadi salah satu titik perubahan besar.

Kampus kami akhirnya memiliki gedung sendiri.

Walaupun waktu itu kondisinya masih sangat sederhana. Bangunannya bediri di tengah area persawahan, panas, gersang, dan belum ada AC sama sekali.

Kalau siang, rasanya seperti sedang diuji ketahanan mental sekaligus ketahanan kulit.

Tapi anehnya, justru di tempat baru itulah semuanya mulai terasa lebih hidup.

Kami mulai punya ruang dosen sendiri.

Mulai punya tempat duduk bersama.

Mulai ada obrolan-obrolan kecil sebelum dan sesudah mengajar.

Dan dari obrolan ringan itulah saya mulai belajar banyak hal.

Tentang jenjang karier dosen.

Tentang BKD.

Tentang penelitian.

Tentang pengabdian.

Tentang publikasi.

dan tentang akreditasi.


Saya baru sadar: ternyata menjadi dosen itu banyak sekali "maratonnya".

***

Saya masih ingat ketika pertama kali ingin mengurus jabatan fungsional.

Salah satu syaratnya adalah memiliki publikasi artikel sebagai penulis pertama.

Masalahnya, selama dua tahun mengajar saya belum pernah publikasi sama sekali.

Penelitian belum ada.

Pengabdian pun belum pernah benar-benar dilakukan.

Lalu saya harus menulis apa?

Di titik itulah kami mulai bergerak bersama.

Mulai membuat penelitian sederhana.

Mulai melakukan pengabdian.

Mulai belajar menulis artikel dan membiasakannya setiap semester.

Mulai saling membantu memahami sistem yang sebelumnya terasa rumit.

Dan perlahan-lahan, semuanya mulai berjalan.

***

Sampai akhirnya hari ini, alhamdulillah saya sudah sampai di jabatan lektor.

Kalau dipikir sekarang, perjalanan itu ternyata cukup panjang juga.

Dan yang paling saya syukuri bukan hanya tentang jabatannya.

Tapi tentang orang-orang yang hadir selama prosesnya.

Karena saya akhirnya sadar: dunia akademik tidak bisa dijalani sendirian.

Dosen mungkin terlihat sibuk dengan target masing-masing.

Tapi pada akhirnya, banyak hal hanya bisa dilewati kalau saling membantu.

Saling mengingatkan.

Saling support.

Saling berbagi informasi.

Dan kadang, saling menguatkan saat sama-sama lelah.

***

Semakin lama menjadi dosen, saya justru semakin merasa bahwa lama mengajar bukan berarti paling tahu segalanya.

Kadang dosen yang baru masuk justru punya semangat dan kemampuan yang jauh lebih hebat.

Dan itu tidak masalah.

Karena dunia akademik seharusnya memang bukan tempat untuk merasa paling tinggi.

Melainkan tempat untuk terus belajar.

***

Pada akhirnya, bagi saya menjadi dosen bukan hanya tentang mengajar di kelas.

Ada banyak proses kehidupan yang ikut tumbuh di dalamnya.

Belajar bekerjasama.

Belajar memahami orang lain.

Belajar menerima perbedaan.

Belajar legowo terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan terlalu jauh.

Karena persinggunan antarmanusia pasti akan selalu ada.

Dan mungkin kedewasaan bukan tentang menghindari itu semua.

Tetapi tentang tetap bisa berjalan bersama meskipun isi kepala setiap orang tidak pernah benar-benar sama.

Dan setelah delapan tahun ini, saya akhirnya mengerti satu hal sederhana:

ternyata menjadi dosen bukan soal siapa yang paling pintar berjalan sendiri. Tetapi siapa yang mau tetap belajar, tetap bertumbuh, dan tetap berjalan bersama orang lain.




Belum Selesai Olahraga, Hidup sudah Kasih Plot Twist

Sudah hampir dua minggu saya tidak olahraga.

Bahkan sekadar jalan santai muterin lapangan sepak bola pun tidak sempat. Entah karena hujan yang belakangan rajin datang pagi dan sore, atau karena pulang dari kampus selalu sudah terlalu petang untuk memulai olahraga.

Weekend pun ikut lewat begitu saja.

Kadang ada anak yang sakit.

Kadang ada urusan pergi.

Kadang memang tubuh dan pikiran sama-sama memilih rebahan dibanding bergerak.

Dan akhirnya, efeknya mulai terasa.

Badan pegal-pegal. Tidur tidak nyaman. Mood gampang naik turun. Pokoknya tubuh mulai protes seperti mahasiswa yang revisinya belum disentuh dosen pembimbing.

***

Hari ini kebetulan tanggal merah.

Dalam hati saya sudah membayangkan: "Ah, akhirnya bisa olahraga sebentar buat menyelamatkan kewarasan".

Walaupun ya... sebagai ibu dengan tiga anak, konsep me time itu sebenarnya cukup abstrak.

Karena bahkan saat ingin  olahraga sendiri pun, tetap ada kemungkinan berangkat bersama anak-anak.

Dan benar saja. Akhirnya saya pergi ke lapangan ditemani dua anak. 

Jujur saja, sebenarnya ada sedikit rasa malas membawa mereka.

Bukan karena tidak senang bersama anak, tapi karena pengalaman selalu mengajarkan: kalau dua anak sudah berkumpul di satu tempat, kemungkinan damai itu tipis.

Biasanya ada saja yang bikin: rebutan; nangis; ngambek; atau tiba-tiba minta pulang saat saya baru mulai pemanasan.

Tapi ya sudahlah.

Kalau ditinggal di rumah juga kasihan uti dan akungnya. Di rumah masih ada si bungsu yang memang tidak saya ajak ke lapangan.

Akhirnya, berangkatlah kami bertiga pagi tadi.

***

Saya mulai berjalan memutari lapangan seperti biasa.

Baru putaran pertama, si kakak bilang, "ummi, pipis".

Subhanallah.

Untung saja ada masjid di depan lapangan. Jadi olahraga pagi ini resmi dimulai dengan menemani anak ke toilet.

Selesai urusan pipis, lanjut lagu muter lapangan.

Dan jujur, memulai olahraga lagi setelah lama berhenti ternyata berat juga. Badan rasanya seperti sedang negosiasi.        

"Yakin mau lanjut?"

"Rebahan aja gimana?"

Tapi, ya harus semangat kan?

Putaran kedua aman.

Putaran ketiga juga masih terkendali.

Masuk putaran keempat, tiba-tiba langkah terasa aneh.

Ada yang terasa longgar di kaki. 

Saya lihat ke bawah.

Dan ternyata....

Sepatu saya copot bagian alasnya. Benar-benar mangap. Persis seperti orang kelaparan yang belum makan dua hari.

Ya Allah...

target jalan kaki belum tercapai, sepatu sudah menyerah duluan.

Sepertinya dia juga kaget melihat pemiliknya tiba-tiba semangat olahraga lagi setelah jeda hampir dua minggu.

Sepatu dah mangap kelaperan

***

Tapi karena semangat masih ada, saya lanjut saja berjalan.

Dengan teknik baru tentunya: lari kecil sambil berharap injakan kaki bisa membuat sepatu "ngelem sendiri".

Tidak ilmiah memang. Tapi kadang manusia memang suka berharap pada hal-hal yang tidak masuk akal.

Sementara itu, anak-anak duduk menunggu di motor sambil sesekali memperhatikan saya yang berjalan dengan sepatu setengah pensiun.

Dan entah kenapa, di momen seperti itu saya merasa hidup memang lucu.

Dulu waktu belum punya anak, olahraga tinggal pakai sepatu lalu pergi.

Sekarang?

Olahraga bisa berubah menjadi: nemenin pipis, melerai anak, ngejar target langkah, sambil memastikan sepatu tidak benar-benar tercerai-berai di tengah lapangan.

***

Akhirnya saya bertahan sampai putaran ketujuh.

Tubuh mulai lelah.

Nafas mulai berat.

Saya pun duduk sebentar untuk istirahat.

Lalu.. Handphone berdering.

Dan biasanya, seorang ibu tahu: telepon di saat seperti itu jarang membawa kabar santai.

Benar saja.

Dari rumah dikabarkan si bungsu demam dan muntah-muntah.

Di titik itu saya cuma diam sebentar, sambil sinar matahari membelai lembut wajah yang berkeringat.

Hmmm... cobaan apa lagi ini ya Allah?

Libur yang sebelumnya saya bayangkan akan diisi dengan sedikit ketenangan, olahraga, dan me time, mendadak berubah menjadi mode siaga.

Dan anehnya, kehidupan ibu-ibu memang sering seperti itu.

Kita merencanakan istirahat.

Tapi hidup punya agenda lain.

***

Namun di perjalanan pulang tadi saya berpikir satu hal.

Mungkin bagi seorang ibu pekerja, terutama yang juga menjadi dosen, hidup memang jarang benar-benar tenang.

Selalu ada yang dipikirkan.

Selalu ada yang dikerjakan.

Selalu ada yang diprioritaskan sebelum diri sendiri.

Kadang kita hanya ingin satu jam saja untuk bernafas pelan, olahraga santai, atau menikmati pagi tanpa drama.

Tapi seringkali, justru di tengah kekacauan kecil itulah hidup berjalan.

Di antara sepatu copot.

Anak pipis mendadak.

Target olahraga yang tidak tercapai.

Dan telepon dari rumah yang membuat langkah harus segera dipercepat pulang.

Mungkin memang begitu bentuk kehidupan seorang ibu.

Tidak selalu rapih.

Tidak selalu sesuai rencana.

Tidak selalu tenang.

Tapi tetap dijalani.

Tetap diusahakan.

Tetap kuat, meskipun sambil menghela nafas panjang.

Dan saya rasa, itu juga bentuk cinta yang paling sederhana.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             

Ketika Penyuluhan Berubah Menjadi Simulasi Evakuasi Massal

Hari ini kegiatan pengabdian masyarakat berlangsung cukup menyenangkan. 

PKM Prodi Agribisnis UNU Lampung

    Mahasiswa diminta praktik langsung melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Jadi, posisi kami para dosen hari ini lebih banyak mengamati, menilai, dan sesekali membantu jika ada bagia yang mulai tidak terkendali.

Keadaan masih kondusif sewaktu mahasiswa memberikan penyuluhan

    Mitranya adalah Kelompok Wanita Tani (KWT). Kurang lebih ada sekitar 15 ibu-ibu peserta dari KWT dan 18 mahasiswa yang bertugas menjadi penyuluh hari ini. Sebagian membawa catatan kecil, sebagian membawa rasa penasaran, sebagian membawa anak kecil bahkan bayi yang turut meramaikan suasana dan sebagian membawa banyolan. Nah, yang terakhir ini yang bikin suasana jadi happy sepanjang kegiatan. Banyolan khas ibu-ibu, ngapak lagi kan. "Ora ngapak, ora kepenak".

    Topik penyuluhannya cukup menarik. Pembuatan ecoenzym dan Pupuk Cair Organik (POC). Bahan dasarnya ada yang dari kulit nanas, sayuran segar, sampah sisa dapur, pelepah pisang dan urin sapi.

    Mahasiswa dibagi menjadi enam kelompok. Masing-masing tampil bergantian menjelaskan materi dan mempraktikkan proses pembuatannya secara langsung. Tidak lupa mahasiswa sudah membawa sampel hasil dari praktik sebelumnya di rumah.

    Dan jujur saja, melihat mahasiswa berdiri di depan masyarakat selalu menjadi pengalaman yang menarik.  Karena saat praktik seperti itu, mereka bukan hanya diuji soal penguasaan materi. Mereka juga belajar: bagaimana berbicara dengan masyarakat, bagaimana menghadapi audiens, bagaimana menjelaskan hal teknis dengan bahasa sederhana, dan bagaimana tetap tenang ketika situasi di lapangan tidak sesuai rencana. 

    Yang terakhir itu ternyata yang paling penting.

***

    Secara umum semua kelompok berjalan lancar. Ibu-ibu KWT terlihat sangat antusias. Mereka aktif menjawab pertanyaan, ikut berdiskusi, bahkan semangat sekali ketika mahasiswa mulai membagikan doorprize kecil-kecilan.

    Ada kebahagiaan sederhana ketika melihat suasana penyuluhan terasa hidup seperti itu.

    Karena keberhasilan penyuluhan sebenarnya bukan di seberapa panjang materi disampaikan, tetapi di seberapa nyaman orang mau terlibat dalam percakapan.

    Dan ibu-ibu hari ini benar-benar membuat suasasna terasa hangat, meskipun faktanya sangat panas dan bikin keringat mengalir deras.

***

    Namun, seperti banyak kegiatan lapangan lainnya, selalu ada satu momen yang akhirnya paling diingat dibanding seluruh rangkaian acara.

    Dan momen itu datang dari kelompok terakhir.

    Mereka mendapat tema : Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Urin Sapi.

    Awalnya semua terlihat normal.

    Mahasiswa datang dengan penuh percaya diri sambil membawa sebuah drigen berukuran cukup besar. Dari wajah mereka terlihat meyakinkan bahwa praktik kali ini akan berjalan sukses. 

    Sampai akhirnyaa.... 

    Drigen itu dibuka.

    Dan dalam hitungan detik, keadaan berubah drastis.

***

    Aroma urin sapi langsung menyerbu area praktik tanpa ampun.

    Bukan aroma yang samar-samar.

    Bukan juga aroma yang masih bisa ditoleransi sambil pura-pura kuat.

    Ini tipe aroma yang membuat manusia tiba-tiba mempertanyakan keputusan hidupnya. Diam di tempat atau lariiii!!!

    Masalahnya, urin yang dibawa ternyata belum difermentasi.

    Jadi ketika tutup drigen dibuka, angin siang itu dengan sangat setia membantu menyebarkan aromanya ke segala arah.

    Dan pemandangan berikutnya benar-benar di luar materi penyuluhan.

    Ibu-ibu mulai bubar perlahan meninggalkan panggung sandiwara mahasiswa.

    Beberapa menutup hidung. Ada yang batuk-batuk. Ada yang mual bahkan sampai muntah. Perut rasanya seperti dikocok atau mabok laut. Mirip-miriplah.

    Yang paling lucu, dosen-dosennya pun ikut menyelamatkan diri. Siapa yang mau tenggelam bersama aroma urin busuk itu hah???

Keadaan saat masih kondusif untuk foto-foto

    Tidak ada lagi wibawa akademik saat itu. Semua setara di hadapan aroma urin sapi.

***

    Saya masih ingat bagaimana area praktik mendadak berubah seperti simulasi evakuasi darurat. Padahal beberapa menit sebelumnya suasana masih penuh diskusi ilmiah tentang pembuatan ecoenzyme dan pupuk cair organik. Bahkan di kelompok pertama, aroma ecoenzyme dari kulit nanas begitu wangi atau harum. Tapi kenapa di akhir sesi justru aroma urin yang hadir menggantikannya??

produk ecoenzyme kulit nanas hasil praktik mahasiswa

    Untung saja itu kelompok terakhir.

    Kalau bukan, mungkin setelah itu tidak ada lagi peserta yang bersedia mendekat ke area praktik. 

    Dan untungnya, ibu-ibu KWT tetap tertawa menghadapi kekacauan kecil tersebut. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang tersinggung. Justru suasana berubah menjadi penuh cerita dan candaan.

    Kadang memang kegiatan lapangan yang paling diingat bukan yang paling sempurna, tetapi yang paling manusiawi dan yang paling memberi kesan.

***

    Di balik kejadian lucu hari ini, saya rasa ada pelajaran sederhana yang cukup penting untuk mahasiswa.  Bahwa praktik lapangan tidak selalu berjalan sesuai teori di kelas. 

    Kadang alat yang dipersiapkan bermasalah. Kadang situasi berubah tiba-tiba. Kadang ada hal-hal kecil yang luput diperhatikan, tetapi justru menjadi pusat perhatian semua orang.

    Dan dari situ mahasiswa belajar satu hal penting: bahwa ilmu di lapangan bukan hanya soal benar atua salah, tetapi juga soal kesiapan menghadapi keadaan yang tidak terduga.

***

    Namun di luar semua kekacauan aroma tadi, saya cukup senang melihat bagaimana mahasiswa mulai belajar berbicara langsung dengan masyarakat.

    Karena menjadi sarjana bukan hanya tentang memahami teori.

    Tetapi juga tentang: mampu menjelaskan ilmu dengan sederhana; mampu berinteraksi dengan masyarakat; dan mampu tetap tenang.... meskipun sedang dikejar aroma urin sapi yang menyengat ke segala arah.

    Dan saya rasa, itu adalah bentuk pembelajaran yang tidak akan mudah mereka lupakan.

    Well, apapun cerita hari ini, terimakasih sudah membuat suasana hati saya baik dan semakin baik. 









Catatan Kecil Setelah Menguji Skripsi

Kenapa Ruang Ujian Skripsi Selalu Terasa Lebih Panas?

Ruang ujian skripsi selalu terasa berbeda.

Entah kenapa, meskipun pendingin ruangan menyala sejak pagi, suasananya tetap terasa lebih panas dibanding hari-hari biasa. Mungkin bukan karena suhu ruangan yang berubah, melainkan karena ada banyak kepala yang dipenuhi kecemasan di dalamnya.

Dalam pandangan saya, mahasiswa yang akan menjalani sidang skripsi seharusnya sudah cukup siap. Mereka sudah melewati proses panjang: menyusun penelitian, revisi berkali-kali, bertemu dosen pembimbing, memperbaiki kesalahan kecil yang tidak pernah benar-benar habis. Bahkan mungkin ada yang semalaman berlatih presentasi di depan cermin atau membaca ulang isi skripsinya sampai dini hari.

Namun anehnya, ketika sudah duduk di kursi sidang, semua persiapan itu kadang seperti menguap begitu saja.

Jawaban yang sebelumnya terasa lancar mendadak sulit keluar. Tangan mulai dingin. Nada bicara berubah. Pikiran-pikiran sebelum masuk ruang sidang sering kali lebih kuat dibanding kesiapan yang sudah dibangun jauh-jauh hari.

Mungkin memang seperti itu rasanya diuji.

Bukan hanya diuji tentang isi skripsi, tetapi juga diuji tentang seberapa tenang seseorang menghadapi rasa takutnya sendiri.

***

Ada satu bagian dari sidang skripsi yang selalu saya sukai.

Bukan ketika mahasiswa mempresentasikan hasil penelitiannya. Bukan juga saat penguji mulai melontarkan pertanyaan demi pertanyaan.

Melainkan bagian akhir, ketika suasana mulai sedikit mencair dan percakapan perlahan bergerak ke arah yang lebih personal.

Di sesi itu, mahasiswa biasanya tidak lagi berbicara sebagai peserta sidang. Mereka mulai berbicara sebagai manusia yang sedang menyelesaikan satu fase penting dalam hidupnya.

Di situlah sering muncul cerita-cerita yang sebelumnya tidak pernah terlihat.

Tentang perjuangan yang diam-diam dipikul sendiri.
Tentang rasa lelah yang disembunyikan di balik senyum.
Tentang orangtua yang terus berusaha mendukung meskipun keadaan tidak selalu mudah.

Dan di bagian itu pula, saya sering merasa bahwa air mata kadang mampu menjelaskan banyak hal yang tidak sanggup disampaikan kata-kata.

***

Siang kemarin, di sebuah ruang sidang yang sebenarnya cukup dingin, seorang mahasiswa diminta menyampaikan beberapa kalimat setelah sidangnya selesai.

Awalnya semua berjalan biasa saja.

Ucapan terima kasih mengalir lancar dari bibirnya. Ia berterima kasih kepada dosen penguji, dosen pembimbing, dan semua orang yang sudah membantunya sampai di titik itu.

Namun suasana mulai berubah ketika ia mengucapkan kata:
“maaf.”

Kata itu ditujukan kepada dosen pembimbingnya.

Dengan suara yang mulai pelan, ia merasa belum mampu memberikan jawaban terbaik selama sidang berlangsung. Setelah itu, matanya mulai memerah. Beberapa kali ia mencoba menahan tangis, tetapi suaranya mulai bergetar.

Sebagai ketua sidang, saya melihat ada sesuatu yang jauh lebih besar dibanding rasa gugup karena ujian.

Barangkali ada rasa takut mengecewakan.
Barangkali ada rasa lelah yang selama ini ditahan sendiri.

Atau mungkin, ada perasaan bahwa semua perjuangan ini belum benar-benar mampu membalas pengorbanan orangtuanya.

***

Saya kemudian bertanya kepadanya,
“Apa yang ingin kamu sampaikan kepada orangtua di rumah?”

Ruangan mendadak menjadi lebih sunyi.

Ia terdiam cukup lama.

Sampai akhirnya, dengan suara yang mulai terbata karena tangis yang tidak lagi bisa disembunyikan, ia berkata,

“Terima kasih ibu yang sudah mensupport saya sejauh ini.

Maaf kalau sampai sekarang saya masih menjadi beban orangtua.”

Setelah kalimat itu selesai diucapkan, ia kembali diam.

Dan entah kenapa, kalimat itu terasa tinggal cukup lama di dalam kepala saya.

***

Benarkah seorang anak adalah beban bagi orangtuanya?

Saya rasa banyak anak diam-diam pernah memiliki perasaan itu. Terutama ketika melihat orangtuanya bekerja terlalu keras, mengorbankan banyak hal, sementara dirinya sendiri merasa belum mampu memberikan apa-apa.

Padahal mungkin, menjadi anak bukan tentang seberapa cepat bisa membalas semua pengorbanan.

Karena di saat seorang anak sedang belajar menjadi dewasa, orangtua pun sebenarnya sedang belajar menjadi orangtua.

Kalimat dari dosen pembimbingnya siang itu terasa sangat menenangkan.

“Jangan pernah merasa menjadi beban bagi orangtua.

Maafkan orangtua jika dalam bersikap mereka sering lupa bahwa kamu juga baru pertama kali menjadi anak.

Dan maafkan juga orangtua, karena menjadi orangtua pun adalah proses yang baru pertama kali mereka jalani.”

Setelah kalimat itu selesai diucapkan, ruang sidang terasa berubah.

Bukan lagi sekadar ruang ujian skripsi.

Melainkan ruang kecil tempat manusia saling memahami luka, perjuangan, dan perannya masing-masing dalam hidup.

Dan mungkin memang begitu hidup berjalan.

Kita semua sebenarnya sedang belajar menjalani peran yang belum pernah kita jalani sebelumnya.



MENJELANG UMUR 40 TAHUN, HATI-HATI DIINTAI OLEH KOLESTROL

Hai, aku seorang perempuan yang saat ini usiaku mulai merangkak mendekati angka 40 tahun. Di usia yang saat ini di angka 36 tahun, banyak sekali keluhan yang mulai aku rasakan terutama untuk kesehatan. Yang pasti dan sering bahkan setiap bulan menghampiriku adalah keluhan demam, pusing, batuk dan pilek. Penyakit ini hadir tidak hanya mengghinggapi diriku, tetapi juga anak-anakku dan seisi rumah. Memang dari dulu yang namanya flu itu sudah pasti mudah tertular kalau aku. Sejak jaman gadis dan masih sekolah, kalau sudah ada yang kena pilek dan batuk.. hem, jangan nunggu lama, setelah berinteraksi aku akan langsung tertular. Bahkan untuk sembuh, minimal waktu yang aku butuhkan adalah dua minggu, pernah juga sampai sebulan bahkan beberapa bulan. Entah deh, sangkking seringnya kadang malas untuk berobat. Atau, berobat tapi obatnya tidak diminum. Yang penting sudah ke dokter, diperiksa dan dikasih obat. Hadeeeh...

Nah, sekarang ini keluhanku makin banyak. Keluhan yang cukup intens adalah masuk angin dan asam lambung. Penyakit asam lambung atau magh ini sudah aku idap sejak gadis. Jaman masih gadis kalu magh sudah kambuh, bisa-bisa ngguling-ngguling di atas kasur. Karena sesak di bagian ulu hati, dan lambung benar-benar krues-krues sampai muntah. Dan, asam lambung ini terus aku rasakan bahkan sejak menikah dan memiliki anak. Tapi, kalau saya amati, untuk kurun waktu setahun sampai dua tahun ke belakang ini asam lambung saya jarang kambuh dan kalau kambuh tidak melilit seperti jaman gadis atau awal berumah tangga. Alhamdulillah. Kalau ditanya obatnya apa? Sepertinya nggak ada khusus menelateni minum herbal apapun. Saya hanya menjaga pola makan agar tidak terlambat setiap waktunya. Makan tiga kali sehari. Meskipun untuk porsi dan menunya belum bisa saya kontrol.

Selanjutnya, saat ini saya sering merasa pegal linu di beberapa tempat di bagian tubuh. Area pinggang dan pinggul, area pundah dan leher, area lutut, dan area pergelangan tangan dan jari-jari tangan. Keluhan ini makin intens dirasakan setelah memiliki anak ke-tiga. Mungkin karena saya kehilangan banyak kalsium selama proses hamil dan menyusui, tanpa saya  imbangi dengan asupan bergizi dan olahraga teratur. Selain itu juga, saya sering merasa kesemutan atau kebas di area kaki dan tangan. Gringgingan kalau orang bilang. Baru duduk sebentar sudah kesemutan. Sebetulnya keluhan-keluhan ini sudah saya sadari sejak lama. Selama ini saya menduga-duga sebenarnya sakit apa dan saya tidak banyak melakukan perubahan terutama untuk pola hidup saya. Sampai di empat hari yang lalu, saya betul-betul merasa takut karena rahang (area dagu) tiba-tiba seperti mengeras, tegang, kaku, pegel, meskipun saya hanya terdiam (tidak bicara, tidak makan atau bergerak). Sementara dibagian atas kelopak mata, rasanya tegang juga. Ditambah area leher dan pundak yang juga kenceng dan sangat kaku. Tanpa ba bi bu lagi karena merasa sudah tidak nyaman, sebelum kerja saya sempatkan mampir ke bidan untuk periksa. 

Sesampainya di bidan, saya ungkapkan setiap keluhan-keluhan yang saya rasakan dan bidan menyarankan tes kolestrol. Tidak disangka setelah di tes, kolestrol saya di angka 237 dengan tensi darah 120/70. Saat itu, saya benar-benar kaget karena kolestrol saya sangat tinggi (normally di bawah 200). Pantas saja semua tubuh terasa kaku terutama di bagian pundak dan leher, rahang dan area mata. Kalau kliyengan dan pusing sih tidak terlalu saya rasakan. Tapi memang tidak nyaman sama sekali. Untuk bekerja di hari itu, saya sudah merasa tidak nyaman. Ada 5 macam obat yang diberikan oleh bidan, yaitu:

1. Obat asam lambung (Triocid, Suspensi, 60 ml, Zennith) >> 3x1 sebelum makan

2. Vitamin (Neurodex) >> 1x1

3. Obat nyeri rahang (tidak ada nama dan merk) >> 2x1

4. Obat kolestrol (Simvastatin, Selvim,20 mg) >> 1x1

5. Kalsium (Calcifar) >> 1x1

Hari pertama sampai hari keempat (hari ini) saya masih merasakan rahang mengeras, dan bagian mata atas itu pusing. Kepala masih sempoyongan. Semacam hilang timbul begitu sebenarnya, tapi yang jelas di badan tidak nyaman dan tidak fresh. Saya sudah minum rebusan daun salam, jahe dan serai. Dua gelas per hari. Dan hari ke-empat ini tadi saya mulai berjalan kaki. Setelah mengitari lapangan bola sebanyak 5x, memang di badan merasa lebih segar. Hanya saja di kepala ini masih terasa berat. Terutama area rahang dan mata serta leher dan pundak.

Mmmm... disadari atau tidak, saya meyakini bahwa harus ada perubahan pola hidup ke arah yang lebih baik. Atur menu makanan yang dimakan, atur istirahat, dan yang pasti atur pikiran dan emosi. Karena, saya mengamati diri saya sendiri, emosi saya beberapa tahun ke belakang tidak stabil. Efeknya ke anak-anak saya. Saya mudah marah, mudah teriak, dan sulit mengendalikan emosi terlebih kalau ketiga anak saya banyak tingkah. Di satu sisi saya butuh istirahat setelah pulang kerja, tapi di satu sisi anak saya banyak tingkah karena mungkin ingin bermain bersama uminya. Apapun itu, saya berharap setelah ini ada perubahan di diri saya ke arah yang lebih baik. Saya ingin sehat dan hidup lebih lama. Saya harus memupuk tekad untuk mulai sadar kesehatan dengan menjaga pola makan, pola istriahat, dan juga olahraga teratur. Ya Allah, sehatkan badanku, sehatkan pendengaranku, sehatkan penglihatanku. Allahumma baarik.  

Kendala Kemitraan Pada Usaha Peternakan

       


    Hari ini, kuliah Dasar-Dasar Agronomi membahas materi tentang klasifikasi pada tanaman. Materi berkembang dan diskusi dengan mahasiswa berjalan sampai pada munculnya pertanyaan dari mahasiswa tentang "Apa kendala kemitraan pada usaha peternakan? Pastinya yang namanya bermitra, biasanya ada gap atau ketidakpuasan antarpihak. Dan bagaimana cara mengatasinya?".
    Pertanyaan belum bisa terjawab pada saat perkuliahan secara baik, sehingga saya memintanya menjadi PR bagi saya untuk mencari tahu jawaban yang tepat. Pada tulisan kali ini, saya ingin mengulas jawaban dari pertanyaan mahasiswa tersebut, mudah-mudahan bisa dipahami dengan baik dan menjawab rasa penasaran mahasiswa sehingga menambah wawasan atau pengetahuan bagi mahasiswa.
    Kemitraan di sektor pertanian dan peternakan saat ini sudah banyak dilakukan, baik antara pemerintah dengan masyarakat, perusahaan swasta dengan masyarakat, atau organisasi-organisasi masyarakat sosial dengan masyarakat. Kemitraan berarti suatu bentuk persekutuan antara dua pihak atau lebih yang membentuk suatu ikatan kerjasama atas dasar kesepakatan dan rasa saling membutuhkan dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kapabilitas di suatu bidang usaha tertentu atau tujuan tertentu untuk mendapatkan hasil yang baik. Adanya kemitraan diharapkan dapat memberikan keuntungan kepada masing-masing pihak yang bermitra. Selain itu, kemitraan secara tidak langsung merupakan bentuk tanggungjawab moral para pemodal untuk memberdayakan masyarakat agar terbangun ekonomi yang lebih baik terutama di pedesaan. Pemberdayaan masyarakat desa perlu diupayakan agar masyarakat desa dapat secara mandiri memenuhi kebutuhannya terutama masyarakat marginal yang terbatas akan sumberdaya, seperti kaum perempuan, dan kelompok-kelompok yang terabaikan secara sosial. Pemberdayaan juga merupakan usaha peningkatan kemampuan, motivasi dan peran dari semua unsur atau lapisan di dalam masyarakat agar dapat tercipta suatu sumber pendapatan (bentuk usaha) dalam rangka mencapai kesejahteraan sosial. Ada beberapa keuntungan jika kemitraan ini diterapkan antara lain: 1. Peternak atau petani mendapatkan bantuan pemrodalan seperti bibit/benih dan obat-obatan; 2. Peternak atau petani memperoleh pendampingan dan pembinaan (tenaga ahli) mengenai usaha ternak atau usahatani baik secara teori maupun pratik dan juga pengawasan selama kegiatan mitra berlangsung; dan 3. Adanya keterjaminan pasar untuk hasil/produk dari kegiatan bermitra.
        Sebagai contoh adalah kemitraan antara PT Great Giant Live Stock dengan kelompok peternak sapi di sekitar wilayah perusahaan dengan pola kemitraan inti-plasma. PT GGLC merupakan anak perusahaan dari PT GGPC yang tergabung dalam Gunung Sewu Grub. Perusahaan GGLC  dalam hal ini menjalankan tanggung jawab sosial  (Corporate Social Responsibility atau CSR) yang saat ini menjadi Created Shared Value atau CSV. Perbedaan CSV  dan CSR yaitu jika CSR berfokus pada doing good atau melakukan kebaikan sedangkan CSV berfokus pada integrasi aktivitas perusahaan dengan menjadi bagian dari masyarakat. Dengan kata lain, CSV yang digagas oleh Michael Porter dan Mark Kramer  merupakan suatu strategi bisnis yang menciptakan keunggulan kompetitif dengan menghasilkan nilai ekonomi sekaligus nilai sosial bagi masyarakat. Konsepnya, CSV berfokus pada hubungan antara kemajuan perusahaan dan kemajuan komunitas, dimana solusi terhadap masalah sosial menjadi peluang bisnis baru yang berkelanjutan.

       Kembali pada pertanyaan mahasiswa, apakah kegiatan kemitraan dapat memunculkan kendala-kendala selama berlangsung? Jawabannya, kembali kepada setiap jenis kemitraan yang terjadi. Jika yang dimaksud adalah potensi masalah, bisa saja ada. Bentuknya? Macam-macam. Tidak bisa digeneralisir. Kita harus melihatnya per kasus. Berdasarkan hasil penelitian pada jurnal file:///C:/Users/USER-PC/Downloads/320-Article%20Text-1063-1-10-20221214.pdf kemitraan yang terjadi antara PT GGLC dengan kelompok peternak Limousin masih bisa dirasakan dan ditemukan. Kendalanya adalah keinginan untuk mampu meningkatkan kapasitas usaha masih terkendala pada keterbatasan waktu, manajemen dan sumberdaya. Secara operasional, PT GGLC sebagai inti telah memfasilitasi bantuan berupa akses sumber modal, kredit bank, pakan berupa kulit nanas, kulit singkong, konsentrat, obat-obatan, bibit sapi (jika pola mitranya weaner), jaminan harga produk, keberlanjutan usaha dan pendampingan atau tenaga ahli. Berikutnya, jika peternak ingin membesarkan atau memperluas skala usaha maka peternak harus bisa fokus dan mengelola usaha dengan baik (dan ini yang menjadi kendalanya). 

    Adapun selama kegiatan bermitra dengan PT GGLC, hambatan yang pernah dirasakan oleh masyarakat lebih kepada peraturan dan kebijakan dari PT GGLC yang dirasa membebani masyarakat, namun saat ini sudah dihapuskan. Contohnya seperti, adanya aturan dari perusahaan bahwa selama bermitra, peternak sebagai plasma tidak diperbolehkan membudidayakan ternak selain daripada ternak yang dimitrakan. Hal tersebut dirasakan memberatkan peternak, karena peternak juga ingin memiliki ternak sendiri yang tidak terikat dengan perusahaan sehingga jika sewaktu-waktu butuh dana darurat, bisa dijual kapanpun tanpa harus menunggu jadwal panen yang ditentukan perusahaan. Kendala lainnya adalah adanya syarat minimal ternak yang harus dimiliki plasma, yang awalnya minimal harus 6 ekor, saat ini telah dikurangi menjadi 4 ekor. Artinya, meskipun kemitraan memiliki potensi masalah atau kendala, hal tersebut dapat diselesaikan jika ada komunikasi yang baik antara pihak yang bermitra. Dan tentu saja kemitraan dapat berjalan dengan baik, jika pihak yang bermitra dapat menjalani kesepakatan-kesepakatan yang telah dibentuk di awal kemitraan akan dilaksanakan. 

        Contoh lainnya, adalah pada kemitraan penggemukan domba di Kabupaten Bogor. Hasil penelitian berikut ini https://media.neliti.com/media/publications/40179-ID-pengaruh-kemitraan-terhadap-keuntungan-usaha-penggemukan-domba-di-kabupaten-bogo.pdf menunjukkan adanya keharusan perbaikan terutama pada kesepakatan atau perjanjian tertulis antar pihak-pihak yang bermitra yaitu antara lembaga pembiayaan (BPZIS Bank Mandiri),  perusahaan CV. MT Farm, dan peternak. Perjanjian hitam di atas putih akan melindungi secara hukum ketiga pihak tersebut dan menjadi landasan untuk motivasi, komitmen dan semangat dalam menyukseskan kerjasama tersebut. Selain itu, pendampingan dan pembinaan perlu dilakukan secara insentif terutama oleh peran dari lembaga penghubung yaitu CV. MT Farm. Dalam hal ini, CV MT Farm harus bisa memfasilitasi tenaga ahli yang bisa mendampingi proses budidaya dan manajemen usaha ternak penggemukan domba. 

       Demikian jawaban singkat atas pertanyaan mahasiswa pada diskusi hari ini. Semoga dapat menjawab atas apa yang ditanyakan. Anda bisa mencari literasi dari artikel jurnal penelitian untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang pola kemitraan, persyaratan kemitraan, dan keuntungan secara kuantitatif dari kegiatan kemitraan baik pada sektor pertanian, peternakan maupun perikanan. Terimakasih atas perhatiannya. 

Privatisasi Sumberdaya Publik: Solusi atau Problem Baru?

Salah satu topik menarik di mata kuliah Ekonomi Pertanian adalah topik tentang sumberdaya dan pengelolaannya. Secara umum sumberdaya adalah segala sesuatu yang dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi setiap kebutuhannya. Sumberdaya alam ada yang dapat diperbaharui seperti tanaman, hewan, air, dan angin. Sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui contohnya bahan bakar fosil, mineral dan logam, serta uranium. Secara kepemilikan, sumberdaya alam ada yang bersifat privat dan ada yang bersifat publik. Sumberdaya alam milik privat artinya sumberdaya alam yang secara hukum atau praktik dikuasai dan dimiliki oleh individu atau badan perorangan/swasta sehingga mereka memiliki hak untuk menggunakan, mengelola, memindahtangankan ataupun melarang orang lain untuk memanfaatkannya. Adapun sumberdaya publik (public goods) artinya sumberdaya yang banyak dimanfaatkan dan bisa diakses oleh semua orang. 

Pada tulisan kali ini, saya ingin menyoroti tentang sumberdaya alam yang bersifat publik, yang kalau dilihat lebih dalam lagi ternyata sangat kompleks persoalannya.

Dilema Keberlanjutan Prodi Perikanan Kampus Se-Indonesia

Untuk para dosen yang berada di homebase perikanan, sepertinya tahun ini sedang pada galau karena proses akreditasi yang terhambat. Semenjak ada peralihan akreditasi dari BAN PT ke Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) ternyata membawa perubahan-perubahan kebijakan. Di kampus saya saat ini, ada dua prodi perikanan yaitu Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSDP) dan Teknologi Hasil Perikanan (THP). Keduanya sudah habis masa re-akreditasinya. Seharusnya dari 2024 kemarin PSDP dan THP sudah pengajuan akreditasi tapi karena terkendala berbagai masalah internal kampus yang harus diselesaikan, proses pengajuan akreditasi menjadi tertunda. Alhamdulillah tahun 2025 ini, masalah internal kampus sudah selesai. Namun, saat akan pengajuan bagi akreditasi kedua prodi tersebut terkendala di sistem dan LAM nya. Pertama, untuk prodi PSDP. Proses pengajuan akreditasi terkendala di sistem SAPTO 2.0 yang belum ada menu pengajuan akreditasinya. Kedua, untuk prodi THP. Proses pengajuan akreditasi terkendala karena belum ada LAM yang bisa menaungi prodi THP. Kalau THP masuk ke LAM Perikanan, kendalanya karena adanya teknologinya. Kalau masuk ke LAM teknologi, prodi THP di UNU Lampung tidak ada teknologi penggunaan mesin-mesin sehingga kurang relevan juga. Ada wacana dari fakultas bagaimana kalau sebaiknya diajukan sebagai prodi baru saja, jadi antara PSDP dna THP di merger menjadi prodi PERIKANAN. Selain di sistem SAPTO 2.0 BAN PT ada menu pengajuan prodi baru, juga karena dengan prodi PERIKANAN dirasa lebih luas cakupannya. Jika dilihat dari keadaan internal di kampus kami, dosen perikanan di kampus kami sudah mencukupi jika mengajukan prodi baru, karena sudah ada 6 dosen perikanan, sementara jumlah minimum pendirian prodi minimal 5 dosen yang bidang keilmuannya linier. Selain itu, mencari mahasiswa untuk masuk ke prodi THP dan PSDP ini sulit sekali. Kedua prodi tersebut selalu minim mahasiswa di antara prodi lainnya di FP3 (Agribisnis dan Peternakan). Saya rasa karena kedua prodi tersebut masih sangat asing di telinga masyarakat. Seandainya prodinya jelas Perikanan maka masyarakat jauh lebih familiar. 

Diskusi 1 Matakuliah Dasar-Dasar Agronomi

Hallo, hari ini saya ada jadwal ngajar di kampus mata kuliah Dasar-dasar Agronomi. Materi hari ini tentang perkembangbiakan pada tanaman. Perkembangbiakan artinya proses biologis dimana tanaman menghasilkan individu baru untuk melestarikan jenisnya. Secara umum perkembangbiakan tanaman terdiri dari perkembangbiakan generatif (seksual) dan perkembangbiakan vegetatif (aseksual). Perkembangbiakan generatif  yaitu perkembangbiakan melalui pembuahan, melibatkan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina yang hasilnya berupa biji. Sedangkan perkembangbiakan vegetatif adalah perkembangbiakan tanpa melalui pembuahan, yang terjadi secara alami maupun buatan.




Pada pertemuan hari ini saya membuka sesi tanya jawab dengan mahasiswa dan ada dua pertanyaan dari mahasiswa yang berhubungan dengan topik terkait. 

 1. Pertanyaan pertama  

Para petani padi seringkali melakukan penyemprotan BOOM padi pada tanaman padi di usia 40-45 dan 50-60 hari setelah tanam. Penyemprotan padi menggunakan BOOM padi bertujuan untuk meningkatkan kualitas panen dan memperbanyak pengisian biji dan buah pada tanaman padi. Pertanyaannya, penggunaan BOOM padi apakah termasuk perkembangbiakan vegetatif buatan atau modifikasi tanaman?

2. Pertanyaan kedua

Pertanyaan (a) : Apa yang membedakan antara perkembangbiakan tanaman melalui cara generatif dan vegetatif agar tanaman cepat berbuah?

Pertanyaan (b) : Bagaimana cara kita mendapatkan keturunan F1 dari tanaman yang kita tanam? Agar dapat menghemat pembelian benih yang terlalu mahal di masa tanam selanjutnya?

Baik, pada kesempatan ini saya akan menjawab kedua pertanyaan setelah sebelumnya saya mencoba menjawab di kelas pada saat kuliah berlangsung. Namun, karena saya merasa jawaban saya saat di kelas belum sistematis dan perlu tambahan referensi serta penjelasan maka saya mencoba menerangkan lebih detail di blog ini. Untuk jawabannya sebagai berikut:

1. Jawaban Pertanyaan dari Penanya Pertama

Pertama, kita mesti tahu apa itu BOOM padi dan apa itu modifikasi tanaman. BOOM padi selama ini diketahui memiliki manfaat untuk memaksimalkan pengisian malai padi dan meningkatkan kualitas gabah sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi. Berdasarkan kandungannya, BOOM padi merupakan gabungan tiga produk yang terdiri dari Recor 250 EC, Bigest 40 EC dan produk pupuk majemuk Multi NPK Padi (Sumber Jurnal :file:///C:/Users/Lenovo/Downloads/jurnaladmin,+Artikel+9_compressPdf.pdf). BOOM Padi merupakan istilah populer yang merujuk pada paket lengkap nutrisi dan perlindungan tanaman padi, yang dirancang untuk meningkatkan hasil panen. Paket ini biasanya terdiri dari pupuk, fungisida dan zat pengatur tumbuh (ZPT). Artinya, BOOM padi merupakan salah satu jenis pupuk dan berarti merupakan salah satu jenis input produksi dalam usahatani padi. Salah satu merk dagang BOOM Padi adalah BOOM Flower. BOOM Flower merupakan suplemen tanaman yang salah satunya mengandung 2,2% nitrogen aromatik. Nitrogen aromatik ini berbeda dengan nitrogen massal yang biasa digunakan seperti urea dan amonium sulfat. Nitrogen aromatik merupakan suplemen untuk pupuk nitrogen massal dan dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dengan cepat.  Cara kerja BOOM Flower adalah sebagai berikut:

  1. Boom flower disemprotkan pada permukaan daun. Langsung diserap tanaman melalui stomata dan dialirkan ke seluruh sistem tanaman.
  2. Boom flower bekerja secara translaminar dan sistemik pada jaringan tanaman.
  3. Bool flower bergerak melalui jaringan meristematik tanaman yang sedang tumbuh.
  4. Suplemen ini dapat memperkuat pertumbuhan vegetatif dengan meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi serta membantu proses pembungaan dan pembentukan buah. 

Adapun yang dimaksud dengan Modifikasi Tanaman adalah penggunaan teknik bioteknologi modern untuk merubah sifat gen dari tumbuhan. Tumbuhan yang telah dirubah dengan teknik modifikasi genetik ini biasa disebut dengan istilah Genetically Modified Organism (GMO). Ada beberapa jenis teknik modifikasi tanaman antara lain perkawinan silang, fusi protoplas, pengeditan genom, mutagenesis, poliploidi dan transgenesis. Untuk mengetahui masing-masing definisi atau konsep dari teknik modifikasi di atas bisa kita baca pada (Sumber Artikel : https://croplifeindonesia.or.id/jenis-jenis-modifikasi-tanaman/).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka menurut hemat saya, saya dapat menyimpulkan bahwa penggunaan BOOM padi pada tanaman padi TIDAK atau BUKAN termasuk upaya perkembangbiakan vegetatif buatan maupun upaya modifikasi tanaman. Perlu diingat kembali bahwa perkembangbiakan tanaman secara vegetatif buatan adalah teknik perkembangbiakan tumbuhan yang dilakukan oleh manusia tanpa melalui proses perkawinan. Tujuannya adalah untuk memperbanyak jumlah tanaman tersebut. Sementara BOOM Padi bertujuan untuk memperbanyak jumlah produksi padi yang dihasilkan. Memang, salah satu cara kerja BOOM Padi adalah dapat memperkuat pada fase pertumbuhan vegetatif tanaman, hal ini bukan berarti BOOM Padi dapat disebut sebagai salah satu metode atau teknik perkembangbiakan vegetatif buatan. Memperkuat fase pertumbuhan vegetatif artinya tahap pertumbuhan pada tanaman yang dimulai dari tahap perkecambahan benih dimana tunas dan akar pertama mulai tumbuh. Selanjutnya, fase vegetatif terus berlanjut hingga tanaan mulai menunjukkan tanda-tanda akan berbunga. Penggunaan BOOM Padi juga bukan merupakan upaya modifikasi tanaman karena modifikasi tanaman adalah proses perubahan sifat genetik tumbuhan melalui teknik bioteknologi, khususnya rekayasa genetika, untuk menghasilkan sifat yang diinginkan, seperti tahan hama, tahan penakit atau peningkatan hasil panen. Di dalam modifikasi tanaman, sifat-sifat ini melekat sejak tanaman ini ditanam. Sementara BOOM Padi dilakukan pada saat tanaman sudah mencapai umur 40-60 hari setelah tanam. Dengan demikian, BOOM padi hanyalah salah satu upaya peningkatan jumlah produksi dengan menggunakan pupuk yang mengandung nitrogen aromatik, bukan salah satu bentuk teknik perkembangbiakan pada tanaman ataupun modifikasi tanaman. 

2. Jawaban Pertanyaan dari Penanya Kedua

(a) Berdasarkan konsep atau definisi, perkembangbiakan generatif melibatkan sel kelamin jantan dan betina pada tanaman yang prosesnya dilakukan melalui penyerbukan baik secara alami maupun buatan (bantuan manusia atau hewan). Sementara perkembangbiakan vegetatif tidak melibatkan sel kelamin jantan dan betina (aseksual). Dilihat dari keuntungannya, perkembangbiakan generatif dapat menghasilkan variasi genetik baru sehingga tanaman diharapkan akan lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan. Sementara perkembangbiakan vegetatif, tujuannya untuk mempercepat menghasilkan tanaman baru dimana tanaman baru yang dihasilkan akan memiliki sifat genetik yang sama persis dengan induknya (tanpa variasi). Hal yang paling mendasar dari kedua perkembangbiakan di atas, menurut hemat saya adalah orientasi yang diinginkan atau diharapkan apakah untuk tujuan bisnis  atau bukan. Jika secara generatif, dalam konteks usahatani komersil, petani akan lama dalam memperoleh hasil produksi, karena fase pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman harus dimulai dari perkecambahan atau tunas sampai nanti menghasilkan buah atau biji yang akan dipanen. Sementara, dengan metode perkembangbiakan vegetatif, petani dapat memangkas waktu fase pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman (terutama vase pertumbuhan vegetatif tanaman). Jika produk yang dihasilkan oleh petani berupa bibit tanaman, maka petani tidak perlu menunggu proses penyerbukan dan pembuahan untuk menghasilkan tanaman baru. Petani dapat melakukannya dengan sistem okulasi atau cangkok atau teknik vegetatif lainnya sehingga bibit tanaman yang dihasilkan akan lebih banyak jika dalam waktu yang sama dibanding dengan teknik generatif.

(b)  Apa sih tanaman F1 atau Fillial 1? Di dalam ilmu pemuliaan tanaman, tanaman F1 adalah tanaman yang dihasilkan dari proses persilangan suatu tanaman indukan yang memiliki sifat genetik tertentu. Sebagai contoh, jika kita menyilangkan tanaman kacang berbunga merah, dengan tanaman kacang berbunga putih, maka hasil persilangan tersebut adalah tanaman F1 yang mungkin akan menghasilkan warna baru misalnya campuran merah dan putih yaitu pink. Barangkali pertanyaannya yang lebih tepat, apakah ketika petani menanam tanaman F1 kemudian panen, dan hasilnya digunakan kembali untuk benih, hasil panennya akan didapatkan kualitas yang sama?? Misalnya, petani ingin menanam kembali kacang yang berbunga pink (karena di pasaran mungkin belum ada benih serupa). Bagaimana mendapatkan benih kacang berwarna pink yang bermutu??

Salah satu input usahatani adalah penggunaan benih. Benih yang diharapkan tentu saja benih yang bermutu dan berkualitas, sehingga produksi yang didapatkan akan tinggi. Benih bermutu dapat dilihat dari 3 hal yaitu mutu genetis, mutu fisiologis, dan mutu fisik benih. Mutu genetis yaitu penampilan benih murni dari varietas tertentu yang menunjukkan identitas genetis dari tanaman induknya. Mutu fisiologis yaitu kemampuan daya hidup (viabilitas) benih yang mencakup daya kecambah dan kekuatan tumbuh benih. Mutu fisik benih yaitu penampilan benih secara prima dilihat dari ukuran homogen, bernas, bersih dari campuran, bebas hama dan penyakit maupun kemasan yang aman. 

Benih bermutu tidak harus berupa benih bersertifikat yang diperoleh dari produsen benih tetapi juga bisa diproduksi sendiri asalkan dengan metode yang benar. Selama ini, petani yang menggunakan benih bersertifikat terkendala oleh faktor biaya, karena harganya yang mahal. Petani bisa saja melakukan upaya menghasilkan benih sendiri dari kegiatan usahataninya, dalam rangka menurunkan biaya produksi khususnya untuk perolehan atau pembelian benih sebagai input produksi. Untuk memproduksi benih bermutu, petani harus memperhatikan aspek budidaya mulai dari penyiapan lahan sampai panen. Antara lain: pengaturan jarak tanam, pemupukan, pengairan, perlindungan terhadap OPT, pemupukan harus tepat jenis, dosis, waktu dan frekuensi serta pemeliharaan seperti roguing. Saat pemanenan juga harus dilakukan dengan baik dianjurkan secara manual agar tidak menurunkan kualitas benih, dan dilakukan pada tingkat masak fisiologis. Untuk mendapatkan benih bermutu dan tahan disimpan, biji yang sudah dipanen perlu dikeringkan sampai dengan kadar air tertentu (padi 13%) kemudian dilakukan pembersihan dan pemilahan. Sambil menunggu musim tanam, benih yang sudah didapatkan hendaknya disimpan dalam wadah yang kedap udara seperti toples, kaleng, atau plastik poy etilen.

Dengan demikian, menurut hemat saya sangat memungkin petani untuk menghasilkan benih sendiri dari kegiatan usahatani yang dilakukannya. Hanya perlu diperhatikan metode-metode yang baik dan benar dalam proses menghasilkan benih tersebut. Perlu diingat juga bahwa keberhasilan suatu produksi usahatani selain dipengaruhi oleh kualitas benih juga oleh input-input produksi lainnya seperti kualitas lahan, pupuk, pengendalian hama penyakit, keadaan air, dan lainnya. Jadi, jika benihnya bermutu tapi kondisi lingkungan mikro lainnya dan input yang lain tidak diperhatikan maka produksi yang dihasilkan bisa jadi gagal sekalipun penggunaan benih bersertifikat. 

Demikian jawaban saya untuk pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan. Terimakasih atas atensinya semoga bisa dipahami dengan baik. 



MATA KULIAH DASAR-DASAR AGRONOMI

Hallo rekan-rekan mahasiswa Agribisnis semester 2. Di semester genap ini, kalian akan mendapatkan satu mata kuliah yang barangkali baru pertama kali kalian mendengarnya. Ya, mata kuliah ini adalah Dasar-Dasar Agronomi atau yang biasa disingkat dengan Dasgron. Mata kuliah ini sebetulnya bukan tergolong mata kuliah keprodian, khususnya di Agribisnis. Tetapi, sebagai mahasiswa pertanian kalian perlu tahu juga dong bagaimana pertanian dipandang dari makna yang lebih sempit. Mata kuliah Dasgron bersifat wajib dan terdiri dari 3 sks. Seharusnya, di dalam pembelajaran mata kuliah ini diperlukan adanya praktik di lapangan yang biasanya dalam bentuk kegiatan budidaya. Dasgron adalah mata kuliah yang menjelaskan peranan produksi bidang pertanian untuk kebutuhan pangan dan non pangan di dalam kehidupan manusia dan pembangunan nasional. Perkuliahan Dasar-Dasar Agronomi ini ditujukan untuk memberikan bekal kepada mahasiswa agar memiliki kemampuan dalam menguasai konsep dan teori teknologi di bidang pertanian dan budidaya tanaman berbasis komoditas secara mandiri maupun bekerja sama dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. Mahasiswa mampu menganalisis, menginterpretasi, merancang dan mengembangkan teknologi yang efisien, tepat guna yang bermanfaat bagi masyarakat dalam peningkatan produksi pertanian sesuai kaidah pertanian berkelanjutan.  Berikut ini adalah bahan ajar dari pertemuan 1-14 yang bisa anda download dan pelajari secara mandiri. Link tersedia di bawah ini ya. 

Buku referensi matkul Dasgron yang bisa anda miliki


RPS Dasgron : https://drive.google.com/file/d/1O4DvMv9DJCaGm5N2by9IKHPdMroQlzSp/view?usp=sharing

Pertemuan 1: Konsep Dasar dan Ruang Lingkup Dasgron

Pertemuan 3: Agronomi sebagai bahan pangan dan industri



Pertemuan 4: Klasifikasi tanaman

Pertemuan 5: Lingkungan tanaman 

Pertemuan 6 : Pertumbuhan  tanaman

Pertemuan 7 : Perkembangan tanaman

Pertemuan 8: PTS

Pertemuan 9 : Pembiakan tanaman
Pertemuan 10 : Teknik budidaya tanaman

Pertemuan 11 : Usaha mencapai produksi maksimum (panca usahatani)

Pertemuan 12 : Sistem tanam SRI dan Jajar Legowo

Pertemuan 13 : Peningkatan Mutu Pasca Panen

Pertemuan 14 : Pertanian Organik

Pertemuan 15 : Pemuliaan tanaman

Pertemuan 16:  PAS

MATA KULIAH KEWIRAUSAHAAN

Mata kuliah Kewirausahaan dirancang untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa dalam menciptakan dan mengelola usaha secara mandiri. Mata kuliah ini mencakup berbagai topik, seperti:

  • Pemahaman dasar kewirausahaan: definisi, karakteristik wirausaha, dan peran kewirausahaan dalam perekonomian.
  • Proses kreatif dan inovatif dalam menghasilkan ide bisnis.
  • Penyusunan rencana bisnis (business plan) yang mencakup analisis pasar, strategi pemasaran, aspek keuangan, dan operasional.
  • Studi kasus keberhasilan dan tantangan dalam kewirausahaan.
  • Pengelolaan risiko usaha dan pengambilan keputusan dalam situasi tidak pasti.
  • Penerapan teknologi dalam pengembangan usaha.

Mahasiswa juga didorong untuk membangun pola pikir entrepreneur yang tangguh, kreatif, inovatif, dan etis dalam menjalankan usaha atau memecahkan masalah sosial melalui pendekatan kewirausahaan (social entrepreneurship. Berikut ini link bahan ajar untuk mata kuliah kewirausahaan, silahkan didownload dan dibaca setiap pertemuannya dan dikerjakan tugas mandirinya. Terimakasih.

PERTEMUAN 1 : https://drive.google.com/file/d/1LtNjzgTysTa0GN3kYGJBF86p33ATKAnN/view?usp=sharing

PERTEMUAN 2 : https://drive.google.com/file/d/1an0LePipl9jnKF8N3TL_cIff4tmU4Llq/view?usp=sharing

PERTEMUAN 3 : https://drive.google.com/file/d/1q0JQ7RwjXb8MM-DNT7lQtASdFhKxsJuH/view?usp=sharing

PERTEMUAN 4 : https://drive.google.com/file/d/1ePgnSR0svalLyC9gS5IzXdXBaO9dLGwi/view?usp=sharing

PERTEMUAN 5 : https://drive.google.com/file/d/1xVqN6LsnJaU0CMgRF0s5tVSYDEDIC7QC/view?usp=sharing

PERTEMUAN 6 : https://drive.google.com/file/d/1WogYENHmKWGJBf3eV5lph8TgAb7HTe1X/view?usp=sharing

PERTEMUAN 7 :  https://drive.google.com/file/d/10Y0oM3v2sGPdpd_jeQerZHRYpBpb6dcz/view?usp=sharing

PERTEMUAN 8 : (PTS)

PERTEMUAN 9 : https://drive.google.com/file/d/1ZTf-TsMRSAMxxhSf0bwLlnLFegS1rvEq/view?usp=sharing

PERTEMUAN 10 : https://drive.google.com/file/d/1bCqLhIUmC2ofMoGqBRD5cQrjqHLiOyhu/view?usp=sharing

PERTEMUAN 11 : https://drive.google.com/file/d/1a-kxG4vspGLzH2q6K1Dw7Zn4cnxp_6y-/view?usp=sharing

PERTEMUAN 12 : https://drive.google.com/file/d/16iiYJQHYOok4MYEcSqMsMAw68hFSQQoy/view?usp=sharing

PERTEMUAN 13 : https://drive.google.com/file/d/1rQ-L2DvEHVAd_7BAk1nQvBBz_is7177O/view?usp=sharing

PERTEMUAN 14 : https://drive.google.com/file/d/1VdxTPmn7mXhJZaGNMOELtHrAW90dB3nO/view?usp=sharing

PERTEMUAN 15. TEMPLATE PROPOSAL BISNIS

https://docs.google.com/document/d/13ItXDB7jGDpDUSIQdLREcWlj0EP1TbYs/edit?usp=drive_link&ouid=105885723133983384082&rtpof=true&sd=true

PERTEMUAN 16 : (PAS)

KENAIKAN PPN?? SEMAKIN MEMISKINKAN GOLONGAN EKONOMI RENDAH!!

 Mungkin di antara kita sudah mengetahui bahwa pemerintah berniat menaikkan tarif PPN (Pajak Pertambahan Nilai) per Januari 2025. Nilai kenaikan PPN sebesar 12% dari sebelumnya 11% yang diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP). Tarif PPN sebesar 11% berlaku 1 April 2022 dan akan berganti sebesar 12% pada 1 Januari 2025. Perlu diketahui PPN adalah pajak yang dipungut oleh wajib pajak orang pribadi, badan dan pemerintah yang berstatus Pengusaha Kena Pajak (PKP) atau transaksi jual beli Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP).

Rencana kenaikan PPN ini menimbulkan pro kontra di tengah-tengah masyarakat. Para netizen di platform media sosial yang tidak setuju dengan rencana ini memberikan berbagai alasan.

SEKTOR PERTANIAN SEBAGAI PAHLAWAN EKONOMI NASIONAL

 



Persoalan Sektor Pertanian

       

      Di balik tanaman-tanaman hijau yang tumbuh di lahan-lahan pertanian, sesungguhnya sektor pertanian memiliki polemik yang saling berhubungan dari subsistem hulu hingga hilir. Persoalan sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan sisi ekonomi pertanian, tetapi juga menyangkut hubungan sosial dan budaya yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, penyelesaian masalah di sektor pertanian tidak bisa dilakukan hanya secara parsial tetapi juga secara utuh melihat dari semua aspek.

Menurut Kementerian Pertanian (2019), dalam melaksanakan pembangunan pertanian saat ini, persoalan yang dihadapi antara lain (1) kerusakan lingkungan dan perubahan iklim; (2) infrastruktur, sarana prasarana, lahan dan air; (3) sempitnya kepemilikan lahan; (4) sistem perbenihan dan perbibitan; (5) akses petani terhadap permodalan, kelembagaan dan penyuluhan; (6) koordinasi antar sektor.

Saat ini, tenaga kerja pertanian semakin menurun. Petani aktif saat ini berada pada rentang usia 55-64 tahun, yang dapat mengganggu keberlanjutan pembangunan pertanian. Urbanisasi pemuda dari desa ke kota salah satunya disebabkan karena kurangnya peran pendidikan pada ketersediaan on farm sumberdaya manusia pada pelaku dan pembangunan pertanian.

Sementara itu, luas lahan garapan petani juga semakin menurun. Rata-rata kepemilikan lahan sawah di Indonesia kurang dari 0,25 hektar. Penyebab menurunnya lahan pertanian akibat semakin besarnya alih fungsi lahan sawah menjadi lahan pemukiman. Sempitnya kepemilikan lahan pertanian tidak didukung dengan upaya adopsi teknologi semakin membuat produksi dan produktivitas hasil pertanian menurun.

Pada konteks lingkungan global, terjadi perubahan ekologi kawasan dan perubahan fungsi lahan berpotensi mengurangi kualitas sumberdaya alam. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang terus menerus mengakibatkan kerusakan ekosistem lahan pertanian dan menjadikan hama penyakit bersifat resisten.

Kemudian dari sisi kelembagaan, sebagian petani masih cenderung bergerak secara individu terutama dalam perannya sebagai price taker. Petani tidak memiliki kedudukan untuk menentukan harga-harga pangan hasil panennya sendiri. Petani juga tidak mendapatkan pendampingan secara utuh karena dari sisi kelembagaan penyuluh juga mengalami kekurangan tenaga. Dalam pandangan yang lebih ekstrem, kelembagaan pertanian dibentuk hanya untuk mensukseskan proyek-proyek pemerintah semata tetapi implementasinya tidak memberikan kemudahan pada petani bahkan tidak berujung pada kesejahteraan petani.

Beberapa hal yang disebutkan di atas adalah berbagai macam polemik yang ada di sektor pertanian negara kita, Indonesia. Namun anehnya, berbagai polemik di atas (meski harus tetap diselesaikan) tidak menghambat sektor pertanian untuk bisa menjadi penyelamat ekonomi nasional. Itulah mengapa sektor pertanian dikatakan sebagai sektor penyangga ekonomi nasional.

 

Sektor Pertanian Penyelamat Ekonomi Nasional

 

Sektor pertanian di Indonesia masih menjadi sektor penyangga bagi perekonomian nasional. Struktur perekonomian Indonesia menurut lapangan usaha selama kurun waktu 2019-2022 ditopang oleh tiga sektor penting yaitu industry manufacturing dengan rata-rata kontribusi sebesar 19,29%, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan rata-rata kontribusi sebesar 13,02% serta sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dengan kontribusi rata-rata sebesar 12,93% (BPS, 2023).

Pada masa tersebut, pandemi Covid-19 tengah menjadi perhatian nasional bahkan internasional. Roda perekonomian berjalan lambat, akses distribusi dan pemasaran barang-barang dibatasi serta aktivitas manusia tidak seperti biasanya. Impact-nya, terjadi PHK besar-besaran (≥1,5 juta pekerja dirumahkan), penurunan PMI Manufacturing Indonesia mencapai 45,3% pada tahun 2020, penurunan impor sebesar 3,7% pada triwulan I, dan nilai inflasi naik mencapai angka 2,96% yang disumbangkan dari harga emas dan komoditas pangan (Yamali dan Putri, 2020).

Melihat pada sejarah yang lebih jauh, tahun 2008 dunia mengalami krisis pangan. Penyebabnya adalah karena kenaikan harga minyak bumi dan pupuk serta adanya sepekulasi harga pangan oleh para pedagang internasional. Negara-negara eksportir seperti Thailand dan Vietnam bahkan harus memperketat kebutuhan domestik pangannya sendiri. Hal ini mengakibatkan negara-negara miskin bergejolak secara sosial, ekonomi dan politik karena adanya transmisi harga dari pasar internasional ke pasar domestik. Untungnya, Indonesia saat itu, mampu melindungi pasar domestiknya sendiri dengan berswasembada pangan dan mengisolasi pasar beras domestik dari keran impor. Berfungsinya Bulog sebagai lembaga parastatral saat itu, membantu pemerintah dalam mengangkat harga gabah dan beras di tingkat petani. Hal ini mendorong peningkatan pendapatan petani, memperbesar kesempatan kerja di pedesaan, mengurangi kemiskinan dan mendorong pembangunan pertanian dan pedesaan. Sungguh, sektor pertanian adalah penyelamat ekonomi nasional.

Pada krisis moneter tahun 1998 (Santosa, 2005) pertanian memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Saat itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada titik -13,66%. Seluruh sektor mengalami pertumbuhan yang negatif kecuali sektor pertanian yang mengalami pertumbuhan positif. Sumbangan sektor pertanian dalam PDB tahun 1998 sebesar 0,26%. Meskipun kontribusi sektor pertanian hanya kecil (namun positif), akan tetapi pembangunan pertanian saat itu memiliki makna yang penting. Sektor pertanian mampu memikat hati rakyat untuk kembali terjun ke dunia pertanian sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang sebagian besar terdampak PHK. Sektor ini juga mampu mendayagunakan usaha kecil dan menengah sehingga dapat berkompetisi dalam pemasaran. Disinilah titik mula sektor pertanian yang awalnya hanya dijadikan sebagai “pendukung” berubah menjadi “mesin penggerak” roda perekonomian.

 

Kesimpulan

 

Berbagai polemik yang mendera sektor pertanian seharusnya tidak menjadi kendala untuk berupaya mengembangkan sektor pertanian sebagai mesin penggerak ekonomi nasional. Sejarah membuktikan bahwa pertanian adalah nafas panjang bagi bangsa ini untuk tetap eksis sebagai bangsa besar yang memiliki pengaruh global. Namun demikian, pembangunan sektor pertanian juga harus diikuti sektor lainnya. Hal ini karena sektor pertanian memiliki keterkaitan baik ke depan maupun ke belakang dengan sektor-sektor yang lain.

 

Daftar Pustaka

 

Badan Pusat Statistik. 2023. Produk Domestik Bruto Indonesia Triwulanan. BPS Indonesia.

Kementerian Pertanian. 2019. Policy Brief: Permasalahan, Tantangan dan Kebijakan Pembangunan Pertanian 2020-2024. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Sekretariat Jenderal, Kementerian Pertanian.

Santosa, Purbayu Budi. 2005. Pembangunan Sektor Pertanian Melalui Agribisnis Menuju Ketangguhan Perekonomian Indonesia. JIAKP, Vol.2, No.1, Januari 2005: 674-685.

Yamali, F.R dan Putri, R.N. 2020. Dampak Covid-19 Terhadap Ekonomi Indonesia. Journal of Economics and Business, 4(2), September 2020: 384-388.

Ternyata Menjadi Dosen Tidak Sesepi Itu!!

Foto bersama dosen FP3 Kurang lebih sudah delapan tahun saya menyandang title sebagai dosen. Kalau dipikir-pikir, delapan tahun itu bukan wa...