Seringkali yang Paling Sulit itu Berangkatnya

Hari Minggu itu selalu punya harapan yang sama.

Santai.
Rebahan.
Minum teh atau kopi tanpa buru-buru.
Dan kalau bisa… tidak mendengar kata:
“Umiii…”

minimal selama lima belas menit.

Karena setelah empat hari (kebetulan minggu ini ada libur tanggal merah dan cuti) berkutat dengan pekerjaan kampus, mengajar, mahasiswa, revisi, dan segala drama kehidupan orang dewasa, rasanya hari Minggu memang identik dengan keinginan untuk sedikit memulihkan kewarasan.

Tapi ya begitulah hidup emak-emak.

Semesta sering kali punya agenda lain.

Belajar Tahsin sama Ibu Guru


***

Hari ini sebenarnya ada agenda di sekolah anak saya.

Sekolah mengadakan kegiatan tasqif untuk wali murid. Semacam penguatan atau kajian rutin untuk orang tua siswa. Tema hari ini adalah tafsir QS. Al-Kautsar.

Dan jujur saja, saya sebenarnya cukup semangat ingin hadir.

Karena selama hampir setahun menjadi wali murid di sekolah anak saya, belum pernah sekali pun saya bisa datang ke kegiatan tasqif sebelumnya.

Biasanya acara diadakan hari Sabtu.
Dan hari Sabtu adalah hari saya mengajar di kampus.

Jadi ketika kali ini acaranya hari Minggu dan saya sedang tidak ada agenda, dalam hati saya langsung berkata:
“Pokoknya harus hadir.”

Niatnya sudah kuat sekali.

Tapi seperti biasa…
ujian pertama seorang ibu bukan dimulai di luar rumah.

Melainkan di dalam rumah sendiri.

***

Undangan dimulai jam 8 pagi.

Namun sampai jam 9…
saya masih belum siap berangkat.

Entah kenapa pagi ini anak-anak seperti sedang menguji kesabaran ibunya berjamaah.

Dari bangun tidur sampai menjelang jam 9, kegiatan saya isinya:
ngurus bocil,
nyuci,
beberes,
gendong anak,
dan menenangkan anak yang entah kenapa rewel sejak pagi.

Si adek yang biasanya bisa tidur lagi setelah digendong, hari ini justru semakin segar.

Sudah dikelonin.
Sudah digendong.
Sudah dibujuk.

Tetap saja tidak mau tidur.

Dan yang bikin suasana makin lengkap, abang juga ikut-ikutan rewel.

Di titik itu saya sudah hampir menyerah.

Rasanya lebih realistis untuk rebahan di rumah dibanding memaksakan datang ke sekolah dalam keadaan telat.

Sampai akhirnya uti berkata:
“Udah sana siap-siap aja dulu.”

Saya langsung menjawab,
“Lah udah telat ini. Undangannya aja jam 8.”

Dan seperti kebanyakan orang tua yang sudah kenyang pengalaman datang ke acara tepat waktu tapi acaranya belum mulai, uti menjawab santai:
“Paling juga belum dimulai.”

Ditambah lagi suasana pagi tadi gerimis dan mendung.

Akhirnya si adek diajak keluar sama uti dan abang untuk bermain sebentar.

Dan saya pun mulai siap-siap dengan kecepatan emak-emak yang sudah pasrah tapi tetap berusaha.

***

Sampai di sekolah, ternyata benar.

Acara masih berlangsung di sesi sambutan.

Masjid sekolah sudah cukup ramai oleh wali murid.

Dan seperti kebanyakan acara sekolah lainnya, jumlah ibu-ibu jauh lebih banyak dibanding bapak-bapak.

Saya kadang memang penasaran.

Kenapa ya urusan sekolah anak lebih sering dihadiri ibu dibanding ayah?

Padahal kalau dipikir-pikir, anaknya kan milik bersama.

Atau mungkin memang para ibu punya kekuatan khusus:
tetap datang ke acara sekolah meskipun sebelumnya sudah bertarung dengan drama rumah sejak pagi.

***

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan sosialisasi koperasi sekolah.

Programnya ada tabungan hari raya dan arisan barang.

Sampai siang tadi saya masih belum tergoda untuk ikut.
Entahlah.
Mungkin karena isi kepala emak-emak sudah terlalu penuh dengan rincian anggaran kehidupan lainnya.

***

Acara kemudian dilanjutkan dengan belajar tahsin untuk wali murid.

Materinya QS. Al-Ikhlas dan Al-Lahab.

Dan jujur saja, bagian ini ternyata cukup menyenangkan.

Saya jadi teringat masa-masa dulu saat masih sering ikut belajar tahsin di masjid-masjid waktu kuliah.

Bahkan saat S2 saya sempat ikut semacam kursus tahsin juga.

Walaupun ya…
sekarang banyak lupanya.

Ternyata hafalan orang dewasa itu unik.
Yang diingat sering kali justru lirik lagu lama dibanding panjang pendek bacaan mad.

***

Setelah tahsin selesai, acara dilanjutkan dengan tausiyah dari Ustad Rokib Lc tentang tafsir QS. Al-Kautsar.

Awalnya saya sempat berpikir:
“Ah, cuma tiga ayat.”

Tapi ternyata pembahasannya hampir dua jam.

Dan justru di situ saya sadar:
kadang sesuatu yang pendek belum tentu sederhana.

QS. Al-Kautsar yang hanya terdiri dari tiga ayat ternyata punya makna yang sangat dalam.

Tentang nikmat.
Tentang sholat.
Tentang berkurban.
Tentang bagaimana manusia seharusnya bersyukur atas apa yang sudah diberikan Allah.

Dan rasanya pas sekali.
Karena besok sudah mulai 1 Dzulhijjah.

Artinya sebentar lagi Idul Adha datang.

***

Alhamdulillah, tahun ini saya dan keluarga bisa mulai berkurban lagi setelah beberapa tahun sebelumnya kami lebih memprioritaskan akikah anak.

Dan entah kenapa, mendengar pembahasan tentang kurban hari ini terasa lebih mengena.

Mungkin karena semakin bertambah usia, kita mulai sadar bahwa ibadah bukan hanya soal menggugurkan kewajiban.

Tetapi juga soal belajar ikhlas melepaskan sesuatu yang kita sayangi.

***

Di perjalanan pulang tadi saya sempat berpikir satu hal.

Kadang seorang ibu memang harus melewati banyak drama kecil hanya untuk bisa duduk tenang menghadiri satu majelis ilmu.

Mulai dari anak rewel.
Rumah yang belum rapi.
Waktu yang molor.
Sampai rasa malas yang sebenarnya sudah muncul sejak pagi.

Namun ternyata, ada hal-hal baik yang memang perlu sedikit diperjuangkan untuk didatangi.

Dan mungkin hari ini saya belajar bahwa:
meskipun hidup sering terasa sibuk dan melelahkan, jiwa juga tetap perlu diisi.

Karena tubuh manusia mungkin lelah oleh pekerjaan.

Tapi hati…
sering kali lelah karena terlalu lama jauh dari pengingat-pengingat kebaikan.

Konsep Efisiensi Dalam Ekonomi Produksi

Memahami Cara Produksi Yang "Baik", "Hemat", dan "Menguntungkan"

Rekan-rekan mahasiswa, sabtu lalu sebenarnya kita sudah membahas teori efisiensi ini di kelas. Tapi karena yang hadir kemarin hanya tiga orang, jadi saya buatkan versi singkatnya di blog ini supaya rekan-rekan yang belum sempat masuk tetap bisa mengikuti materinya. Saya coba jelaskan dengan bahasa yang lebih santai dan sederhana supaya materi lebih gampang dipahami. Semoga tulisan ini  bisa membantu rekan-rekan memahami konsep efisiensi dengan lebih jelas. Dan untuk yang kemarin sudah hadir di kelas, semoga tulisan ini juga bisa menjadi pengingat sekaligus memperkuat pemahaman rekan-rekan semua ya... cmiiw.

flyer ini  dibuat dengan bantuan AI

A. Pendahuluan

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sering berbicara tentang efisiensi, meskipun tidak selalu memakai istilah tersebut. Misalnya, ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan tugas lebih cepat dengan hasil bagus, tetapi ada juga yang menghabiskan waktu lama namun hasilnya biasa saja. Ada petani yang menghasilkan panen tinggi di lahan sempit, sementara petani lain dengan lahan lebih luas justru hasilnya lebih rendah.

Nah, disitulah konsep efisiensi menjadi penting.

Di dalam ekonomi produksi, efisiensi berkaitan dengan bagaimana suatu usaha menggunakan sumberdaya yang dimiliki (seperti tenaga kerja, modal, pupuk, benih, mesin atau lahan)untuk menghasilkan output semaksimal mungkin. Semakin baik penggunaan input tersebut, maka semakin efisien kegiatan produksinya.

Konsep ini sangat penting dalam pertanian, terutama usahatani tanaman pangan. Mengapa? Karena petani sering menghadapi keterbatasan sumberdaya seperti lahan yang terbatas, modal terbatas, harga input mahal, teknologi yang belum merata dan risiko dari cuaca dan hama penyakit.

Karena itu, keberhasilan produksi tidak hanya ditentukan oleh "berapa banyak input" yang digunakan, tetapi juga "seberapa baik input tersebut dimanfaatkan".

B. Tiga Sumber Pertumbuhan Produktivitas

    Produktivitas menunjukkan kemampuan menghasilkan output dari sejumlah input tertentu. Dalam ekonomi produksi, pertumbuhan produktivitas umumnya berasal dari tiga sumber utama, yaitu:

1. Perubahan Teknologi

    Perubahan teknologi berarti adanya inovasi atau pembaruan dalam proses produksi sehingga hasil menjadi lebih baik. Seperti penggunaan benih unggul, penggunaan mesin modern, adanya irigasi buatan seperti irigasi tetes, adanya smart farming seperti green house dan drone pertanian, dan lain sebagainya.

    Bayangkan 2 petani menanam padi di lahan yang sama luasnya. Petani pertama masih memakai cara tradisional, sedangkan petani kedua menggunakan benih unggul dan alat modern. Dengan input yang relatif sama, hasil panen petani kedua bisa lebih tinggi. Itulah dampak perubahan teknologi.

    Analogi sederhananya seperti mahasiswa yang mengetik tugas memakai komputer dibanding menulis tangan. Waktu lebih cepat, tenaga lebih hemat, dan hasil lebih rapi.

2. Peningkatan Efisiensi Teknis

    Efisiensi teknis terjadi ketika produsen mampu menghasilkan output maksimum dari input yang dimiliki. Artinya, teknologi yang digunakan sama, tetapi ada perbedaan kemampuan dalam memanfaatkannya.

    Contoh: dua petani memakai jenis pupuk yang sama, luas lahan yang sama dan jumlah tenaga kerja yang sama. Namun, hasil panennya berbeda karena salah satu petani lebih tepat dalam: waktu pemupukan, pengairan, pengendalian hama, dan pengelolaan lahan. Berarti, petani tersebut lebih efisien secara teknis. Dengan kata lain, efisiensi teknis lebih menekankan pada kemampuan manajamen produksi.

3. Peningkatan Skala Usaha

    Skala usaha berkaitan dengan ukuran produksi. Kadang-kadang, semakin besar usaha dijalankan, biaya produksi per unit justru semakin menjadi lebih murah. 

    Contohnya: petani dengan lahan sangat kecil mungkin harus menyewa traktor dengan biaya tinggi untuk sedikit lahan. Namun jika lahannya luas, biaya penggunaan traktor dapat "dibagi" ke lebih banyak hasil produksu sehingga lebih hemat.

    Analogi sederhananya seperti membeli air minum: Botol kecil biasanya lebih mahal per liter, tetapi galon besar lebih murah per liternya. Artinya, skala yang lebih besar sering memberikan efisiensi biaya.

C. Permasalahan Pengembangan Usahatani Pangan

    Dalam praktiknya, pengembangan usahatani pangan menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Beberapa permasalahan utama antara lain:

1. Lahan semakin sempit : Alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan atau industri menyebabkan luas lahan produktif menurun.

2. Modal terbatas: Banyak petani kesulitan membeli input berkualitas karena keterbatasan modal.

3. Teknologi belum merata: Tidak semua petani memiliki akses terhadap teknologi modern dan informasi pertanian.

4. Produktivitas masih rendah: Kadang input sudah banyak digunakan, tetapi hasil belum optimal karena pengelolaan belum efisien.

5. Risiko produksi tinggi: Cuaca, banjir, kekeringan, dan hama sering memengaruhi hasil produksi.

Karena berbagai masalah tersebut, peningkatan produksi tidak cukup hanya dengan menambah input. Yang lebih penting adalah bagaimana meningkatkan efisiensi penggunaan input. 

D. Urgensi Pengukuran Efisiensi

    Mengapa efisiensi perlu diukur? 

    Karena tanpa pengukuran, kita tidak tahu apakah suatu usaha sudah berjalan optimal atau belum. Dengan mengukur efisiensi dapat membantu kita untuk:

1. mengetahui tingkat kinerja usaha

2. menemukan sumber pemborosan

3. menentukan strategi peningkatan produksi

4. membantu pengambilan keputusan

5. meningkatkan keuntungan usaha

    Misalnya, jika 2 petani memakai input yang hampir sama tetapi hasilnya berbeda jauh, maka pengukuran efisiensi dapat membantu menjelaskan penyebabnya.

    Dalam kebijakan pertanian, pengukuran efisiensi juga penting untuk:

1. evaluasi program pemerintah

2. penyuluhan pertanian

3. distribusi bantuan

4. peningkatan produktivitas nasional

E. Konsep Efisiensi

    Secara sederhana, efisiensi berarti menggunakan sumberdaya secara tepat untuk memperoleh hasil terbaik. Dalam ekonomi produksi, efisiensi menunjukkan hubungan antara a) input (faktor produksi); b) output (hasil produksi).

    Semakin besar output yang dihasilkan dari sejumlah input tertentu, maka semakin efisien proses produksinya. Namun, efisiensi tidak hanya soal "hasil produksi yang banyak". Efisiensi juga berkaitan dengan biaya, harga input dan keuntungan yang diperoleh. 

F. Efisiensi Teknis, Alokatif, dan Ekonomis

1. Efisiensi teknis

    Efisiensi teknis berarti kemampuan menghasilkan output maksimum dari sejumlah input tertentu. Fokusnya adalah "Apakah input yang ada sudah dimanfaatkan sebaik mungkin?"

    Contoh: Jika dengan 1 ha lahan sebenarnya bisa menghasilkan 7 ton padi, tetapi petani hanya menghasilkan 4 ton, berarti secara teknis belum efisien.

2. Efisiensi Alokatif

    Efisiensi alokatif berkaitan dengan kemampuan menggunakan kombinasi input yang paling murah berdasarkan harga input. Fokusnya adalah "Apakah biaya produksi sudah digunakan secara optimal?"

    Contoh: petani terlalu banyak memakai pupuk mahal padahal hasil tambahan produksinya kecil. Secara teknis mungkin bagus, tetapi secara biaya belum efisien.

    Analogi sederhananya seperti naik ojek online yang memang pilihan yang cepat, tetapi jika jaraknya dekat dan bisa ditempuh jalan kaki, maka pilihan itu belum efisien secara biaya.

3. Efisiensi Ekonomis

    Efisiensi ekonomis merupakan gabungan antara efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Artinya, usaha tidak hanya mampu menghasilkan output maksimal, tetapi juga menggunakan kombinasi input dengan biaya paling optimal. Secara sederhana, produksinya tinggi dan biayanya juga hemat. Jika hanya hasil tinggi tetapi biaya sangat besar, maka belum tentu efisien secara ekonomis.

flyer ini  dibuat dengan bantuan AI

Sekian pembahasan singkat tentang konsep efisiensi pada materi kali ini. Semoga penjelasan sederhana ini bisa membantu teman-teman memahami inti dari konsep efisiensi dan penerapannya dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Jangan ragu untuk membaca ulang materi ini jika masih ada bagian yang belum dipahami. Sampai jumpa di pembahasan berikutnya, dan tetap semangat belajar ya!

Hujan Hari Ini Tidak Turun dari Langit Saja

Hari ini seharusnya saya mengajar jam 8 pagi.

Tapi sejak subuh hujan turun deras sekali. Jalanan basah, langit gelap, dan suasana pagi rasanya lebih cocok untuk menarik selimut dibanding berangkat ke kampus.

Akhirnya kelas saya geser ke jam 1 siang.

Dan seperti biasa, grup WhatsApp mulai ramai.

Satu per satu mahasiswa izin.

Ada yang bilang kehujanan.
Ada yang sakit.
Ada yang terkendala kendaraan.
Ada juga yang alasannya cukup singkat sampai saya sendiri bingung harus percaya sepenuhnya atau tidak.

Di titik tertentu sebagai dosen, kadang memang muncul pertanyaan kecil dalam kepala:
“Ini benar-benar kendala… atau cuaca memang terlalu nyaman untuk rebahan?”

Tapi ya sudahlah.

Kadang dosen juga pernah jadi mahasiswa.
Jadi sedikit banyak paham bagaimana kuatnya godaan hujan di pagi hari.

***

Namun yang membuat semangat saya makin turun adalah ketika kelas dimulai.

Jam sudah menunjukkan pukul 13.30.

Dan yang hadir…
tiga orang.

Tiga.

Jumlah yang kalau dipikir-pikir lebih cocok disebut rapat kecil daripada suasana perkuliahan.

Saya sempat berpikir:
dibatalkan saja apa ya?

Tapi di sisi lain, kasihan juga mahasiswa yang sudah datang.

Mereka sudah melawan hujan, rasa malas, dan mungkin godaan kasur untuk tetap hadir ke kelas.

Akhirnya kuliah tetap berjalan.

***

Materi hari ini sebenarnya cukup penting:
konsep efisiensi.

Dan jujur saja, saya termasuk dosen yang agak malas mengulang materi dari awal untuk mahasiswa yang tidak hadir.

Bukan karena pelit ilmu.

Tapi karena menjelaskan konsep itu butuh energi.
Butuh alur.
Butuh suasana diskusi.

Kalau nanti diulang lagi, rasanya seperti menonton episode yang sama dua kali dalam waktu berdekatan.

Masalahnya, dengan jumlah mahasiswa yang hanya tiga orang, suasana kelas otomatis jadi berbeda.

Diskusi interaktif yang biasanya hidup mendadak terasa sunyi.

Saya berbicara.
Mahasiswa mendengarkan.
Lalu hening.

Dan entah kenapa, energi di kelas itu memang menular.

Kalau mahasiswa pasif, dosen ikut kehilangan tenaga.
Kalau dosen lelah, kelas ikut terasa berat.

Hari ini semuanya terasa saling mendung.

Hujan tidak hanya turun dari langit saja. 

***

Mungkin juga karena sebelum mengajar saya sudah lebih dulu menguras energi.

Dari jam 10 sampai sekitar setengah satu tadi saya menguji mahasiswa skripsi.

Belum sempat makan siang.
Belum sempat duduk tenang.
Belum sempat benar-benar menarik napas.

Jadi ketika masuk kelas, rasanya baterai sosial dan baterai akademik sudah tinggal garis merah.

Mahasiswa bimbingan skripsi yang seharusnya konsultasi hari ini pun akhirnya saya minta dijadwalkan ulang minggu depan.

Dan target menyelesaikan artikel publikasi?
Belum tersentuh sama sekali.

Belum lagi kuesioner penelitian DRTPM yang masih menunggu diselesaikan.

Sementara di luar sana, langit masih mendung sampai sore.

Rasanya suasana hari ini seperti ikut berkonspirasi membuat semua pekerjaan terasa lebih berat dari biasanya.



***

Kadang memang ada hari-hari seperti ini.

Hari ketika daftar pekerjaan terasa panjang sekali.
Tapi tenaga dan suasana hati justru sedang tidak bersahabat.

Dan anehnya, menjadi dosen sering kali bukan soal tidak punya kemampuan menyelesaikan pekerjaan.

Tetapi soal menjaga energi agar tetap cukup untuk bertahan menjalani semuanya sekaligus.

Mengajar.
Membimbing.
Menguji.
Meneliti.
Menulis publikasi.
Mengurus administrasi.
Dan tetap mencoba menjadi manusia normal di sela-selanya.

***

Namun mungkin, tidak semua hari memang harus produktif dengan sempurna.

Ada hari-hari yang memang hanya perlu dijalani pelan-pelan.

Karena tubuh juga punya batas.
Pikiran juga bisa lelah.
Dan semangat pun kadang perlu waktu untuk kembali penuh.

Mungkin sore ini saya memang belum berhasil menyelesaikan semua target.

Tapi setidaknya hari ini saya tetap datang mengajar.
Tetap masuk kelas.
Tetap mencoba berjalan meskipun langkahnya terasa berat.

Dan mungkin itu juga sudah cukup.

Karena hidup orang dewasa sering kali bukan tentang berhasil menyelesaikan semuanya sekaligus.

Ternyata Menjadi Dosen Tidak Sesepi Itu!!


Foto bersama dosen FP3

Kurang lebih sudah delapan tahun saya menyandang title sebagai dosen.

Kalau dipikir-pikir, delapan tahun itu bukan waktu yang sebentar. Kalau dianalogikan seperti orang merantau ke negeri lain, delapan tahun sudah cukup lama untuk membuat seseorang berubah.

Saat kembali, mungkin jalan-jalannya masih sama, gedung-gedungnya masih berdiri di tempat yang sama, tapi cara pandangnya sudah berbeda.

Dan mungkin itu juga yang terjadi pada saya

***

Saya mulai menjadi dosen sekitar tahun 2019.

Waktu itu saya sudah memiliki satu anak yang masih berusia sekitar 10 bulan. Suami jauh di luar kota, kami menjalani LDM, bahkan sampai hari ini.

Jadi kalau diingat-ingat lagi, awal perjalanan saya menjadi dosen, tidak terlalu ideal.

Lebih mirip seseorang yang sedang mencoba tetap waras sambil belajar banyak hal sekaligus: menjadi ibu; menjadi dosen; dan menjalani kehidupan baru yang semuanya terasa asing.

***

Hari pertama saya datang ke kampus masih cukup jelas di ingatan.

Waktu itu kampus kami masih "nebeng" di sekolah. Karena ruangannya dipakai bersama, rapat pembagian mata kuliah dilakukan siang hari setelah aktivitas sekolah selesai.

Sebelum rapat dimulai, saya datang ke ruang dosen untuk berkenalan. Ada satu ruang kelas yang saat itu digunakan sebagai kantor sekaligus tempat transit dosen.

Dengan modal nekat dan sedikit rasa percaya diri 'palsu', saya masuk lalu mengucapkan salam.

Kemudian saya memperkenalkan diri ke dosen-dosen yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Kalau dipikir sekarang, rasanya agak 'cringe' juga.

Bayangkan saja, orang-orang sedang fokus bekerja, lalu tiba-tiba ada dosen baru muncul memperkenalkan diri dengan senyum canggung.

Dan bagian paling lucunya adalah setelah saya selesai memperkenalkan diri... semua kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tidak ada yang penasaran dengan saya hahahahha...

Tidak ada obrolan panjang.

Tidak ada momen dramatis seperti di film-film.

Saya tetap duduk sendirian.

***

Waktu itu saya hanya punya satu kenalan dosen, kebetulan teman SMA yang memang sudah lebih dulu mengajar di sana.

Selain itu, saya benar-benar tidak mengenal siapa-siapa.

Hari-hari mengajar saya lalui seperti mahasiswa kupu-kupu:

datang,

mengajar,

lalu pulang.

Tidak ada nongkrong di ruang dosen.

Tidak ada ngobrol santai.

Tidak ada cerita-cerita antar dosen.

Bahkan saya sendiri waktu itu belum benar-benar tahu siapa saja dosen yang satu prodi dengan saya.

Lucunya lagi, homebase saya saat itu masih di Perikanan, padahal bidang keilmuan saya sebenarnya Agribisnis.

Dan di masa itu, saya mendapat mata kuliah: Tingkah Laku Ikan.

Jujur saja, waktu pertama membaca nama mata kuliah itu, saya sempat berpikir: "Memangnya ikan juga perlu diajarkan sopan santun?"

Di kepala saya waktu itu, mata kuliah tersebut terdengar seperti pelajaran pendidikan karakter versi bawah air.

Absurd sekali memang.

***

Setelah pembagian mata kuliah selesai, muncul kebingungan lain.

Saya harus mengajar seperti apa?

Cara menjadi dosen yang benar itu bagaimana?

Apa saja sebenarnya tugas dosen selain masuk kelas?

Waktu itu saya benar-benar buta tentang dunia akademik.

Tentang jabatan fungsional, BKD, penelitian, publikasi, bahkan TRI DHARMA pun saya belum benar-benar memahami.

Saya hanya tahu satu hal: besok harus masuk kelas dan mengajar mahasiswa.

Itu saja.

***

Tahun 2020 menjadi salah satu titik perubahan besar.

Kampus kami akhirnya memiliki gedung sendiri.

Walaupun waktu itu kondisinya masih sangat sederhana. Bangunannya bediri di tengah area persawahan, panas, gersang, dan belum ada AC sama sekali.

Kalau siang, rasanya seperti sedang diuji ketahanan mental sekaligus ketahanan kulit.

Tapi anehnya, justru di tempat baru itulah semuanya mulai terasa lebih hidup.

Kami mulai punya ruang dosen sendiri.

Mulai punya tempat duduk bersama.

Mulai ada obrolan-obrolan kecil sebelum dan sesudah mengajar.

Dan dari obrolan ringan itulah saya mulai belajar banyak hal.

Tentang jenjang karier dosen.

Tentang BKD.

Tentang penelitian.

Tentang pengabdian.

Tentang publikasi.

dan tentang akreditasi.


Saya baru sadar: ternyata menjadi dosen itu banyak sekali "maratonnya".

***

Saya masih ingat ketika pertama kali ingin mengurus jabatan fungsional.

Salah satu syaratnya adalah memiliki publikasi artikel sebagai penulis pertama.

Masalahnya, selama dua tahun mengajar saya belum pernah publikasi sama sekali.

Penelitian belum ada.

Pengabdian pun belum pernah benar-benar dilakukan.

Lalu saya harus menulis apa?

Di titik itulah kami mulai bergerak bersama.

Mulai membuat penelitian sederhana.

Mulai melakukan pengabdian.

Mulai belajar menulis artikel dan membiasakannya setiap semester.

Mulai saling membantu memahami sistem yang sebelumnya terasa rumit.

Dan perlahan-lahan, semuanya mulai berjalan.

***

Sampai akhirnya hari ini, alhamdulillah saya sudah sampai di jabatan lektor.

Kalau dipikir sekarang, perjalanan itu ternyata cukup panjang juga.

Dan yang paling saya syukuri bukan hanya tentang jabatannya.

Tapi tentang orang-orang yang hadir selama prosesnya.

Karena saya akhirnya sadar: dunia akademik tidak bisa dijalani sendirian.

Dosen mungkin terlihat sibuk dengan target masing-masing.

Tapi pada akhirnya, banyak hal hanya bisa dilewati kalau saling membantu.

Saling mengingatkan.

Saling support.

Saling berbagi informasi.

Dan kadang, saling menguatkan saat sama-sama lelah.

***

Semakin lama menjadi dosen, saya justru semakin merasa bahwa lama mengajar bukan berarti paling tahu segalanya.

Kadang dosen yang baru masuk justru punya semangat dan kemampuan yang jauh lebih hebat.

Dan itu tidak masalah.

Karena dunia akademik seharusnya memang bukan tempat untuk merasa paling tinggi.

Melainkan tempat untuk terus belajar.

***

Pada akhirnya, bagi saya menjadi dosen bukan hanya tentang mengajar di kelas.

Ada banyak proses kehidupan yang ikut tumbuh di dalamnya.

Belajar bekerjasama.

Belajar memahami orang lain.

Belajar menerima perbedaan.

Belajar legowo terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan terlalu jauh.

Karena persinggunan antarmanusia pasti akan selalu ada.

Dan mungkin kedewasaan bukan tentang menghindari itu semua.

Tetapi tentang tetap bisa berjalan bersama meskipun isi kepala setiap orang tidak pernah benar-benar sama.

Dan setelah delapan tahun ini, saya akhirnya mengerti satu hal sederhana:

ternyata menjadi dosen bukan soal siapa yang paling pintar berjalan sendiri. Tetapi siapa yang mau tetap belajar, tetap bertumbuh, dan tetap berjalan bersama orang lain.




Belum Selesai Olahraga, Hidup sudah Kasih Plot Twist

Sudah hampir dua minggu saya tidak olahraga.

Bahkan sekadar jalan santai muterin lapangan sepak bola pun tidak sempat. Entah karena hujan yang belakangan rajin datang pagi dan sore, atau karena pulang dari kampus selalu sudah terlalu petang untuk memulai olahraga.

Weekend pun ikut lewat begitu saja.

Kadang ada anak yang sakit.

Kadang ada urusan pergi.

Kadang memang tubuh dan pikiran sama-sama memilih rebahan dibanding bergerak.

Dan akhirnya, efeknya mulai terasa.

Badan pegal-pegal. Tidur tidak nyaman. Mood gampang naik turun. Pokoknya tubuh mulai protes seperti mahasiswa yang revisinya belum disentuh dosen pembimbing.

***

Hari ini kebetulan tanggal merah.

Dalam hati saya sudah membayangkan: "Ah, akhirnya bisa olahraga sebentar buat menyelamatkan kewarasan".

Walaupun ya... sebagai ibu dengan tiga anak, konsep me time itu sebenarnya cukup abstrak.

Karena bahkan saat ingin  olahraga sendiri pun, tetap ada kemungkinan berangkat bersama anak-anak.

Dan benar saja. Akhirnya saya pergi ke lapangan ditemani dua anak. 

Jujur saja, sebenarnya ada sedikit rasa malas membawa mereka.

Bukan karena tidak senang bersama anak, tapi karena pengalaman selalu mengajarkan: kalau dua anak sudah berkumpul di satu tempat, kemungkinan damai itu tipis.

Biasanya ada saja yang bikin: rebutan; nangis; ngambek; atau tiba-tiba minta pulang saat saya baru mulai pemanasan.

Tapi ya sudahlah.

Kalau ditinggal di rumah juga kasihan uti dan akungnya. Di rumah masih ada si bungsu yang memang tidak saya ajak ke lapangan.

Akhirnya, berangkatlah kami bertiga pagi tadi.

***

Saya mulai berjalan memutari lapangan seperti biasa.

Baru putaran pertama, si kakak bilang, "ummi, pipis".

Subhanallah.

Untung saja ada masjid di depan lapangan. Jadi olahraga pagi ini resmi dimulai dengan menemani anak ke toilet.

Selesai urusan pipis, lanjut lagu muter lapangan.

Dan jujur, memulai olahraga lagi setelah lama berhenti ternyata berat juga. Badan rasanya seperti sedang negosiasi.        

"Yakin mau lanjut?"

"Rebahan aja gimana?"

Tapi, ya harus semangat kan?

Putaran kedua aman.

Putaran ketiga juga masih terkendali.

Masuk putaran keempat, tiba-tiba langkah terasa aneh.

Ada yang terasa longgar di kaki. 

Saya lihat ke bawah.

Dan ternyata....

Sepatu saya copot bagian alasnya. Benar-benar mangap. Persis seperti orang kelaparan yang belum makan dua hari.

Ya Allah...

target jalan kaki belum tercapai, sepatu sudah menyerah duluan.

Sepertinya dia juga kaget melihat pemiliknya tiba-tiba semangat olahraga lagi setelah jeda hampir dua minggu.

Sepatu dah mangap kelaperan

***

Tapi karena semangat masih ada, saya lanjut saja berjalan.

Dengan teknik baru tentunya: lari kecil sambil berharap injakan kaki bisa membuat sepatu "ngelem sendiri".

Tidak ilmiah memang. Tapi kadang manusia memang suka berharap pada hal-hal yang tidak masuk akal.

Sementara itu, anak-anak duduk menunggu di motor sambil sesekali memperhatikan saya yang berjalan dengan sepatu setengah pensiun.

Dan entah kenapa, di momen seperti itu saya merasa hidup memang lucu.

Dulu waktu belum punya anak, olahraga tinggal pakai sepatu lalu pergi.

Sekarang?

Olahraga bisa berubah menjadi: nemenin pipis, melerai anak, ngejar target langkah, sambil memastikan sepatu tidak benar-benar tercerai-berai di tengah lapangan.

***

Akhirnya saya bertahan sampai putaran ketujuh.

Tubuh mulai lelah.

Nafas mulai berat.

Saya pun duduk sebentar untuk istirahat.

Lalu.. Handphone berdering.

Dan biasanya, seorang ibu tahu: telepon di saat seperti itu jarang membawa kabar santai.

Benar saja.

Dari rumah dikabarkan si bungsu demam dan muntah-muntah.

Di titik itu saya cuma diam sebentar, sambil sinar matahari membelai lembut wajah yang berkeringat.

Hmmm... cobaan apa lagi ini ya Allah?

Libur yang sebelumnya saya bayangkan akan diisi dengan sedikit ketenangan, olahraga, dan me time, mendadak berubah menjadi mode siaga.

Dan anehnya, kehidupan ibu-ibu memang sering seperti itu.

Kita merencanakan istirahat.

Tapi hidup punya agenda lain.

***

Namun di perjalanan pulang tadi saya berpikir satu hal.

Mungkin bagi seorang ibu pekerja, terutama yang juga menjadi dosen, hidup memang jarang benar-benar tenang.

Selalu ada yang dipikirkan.

Selalu ada yang dikerjakan.

Selalu ada yang diprioritaskan sebelum diri sendiri.

Kadang kita hanya ingin satu jam saja untuk bernafas pelan, olahraga santai, atau menikmati pagi tanpa drama.

Tapi seringkali, justru di tengah kekacauan kecil itulah hidup berjalan.

Di antara sepatu copot.

Anak pipis mendadak.

Target olahraga yang tidak tercapai.

Dan telepon dari rumah yang membuat langkah harus segera dipercepat pulang.

Mungkin memang begitu bentuk kehidupan seorang ibu.

Tidak selalu rapih.

Tidak selalu sesuai rencana.

Tidak selalu tenang.

Tapi tetap dijalani.

Tetap diusahakan.

Tetap kuat, meskipun sambil menghela nafas panjang.

Dan saya rasa, itu juga bentuk cinta yang paling sederhana.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             

Ketika Penyuluhan Berubah Menjadi Simulasi Evakuasi Massal

Hari ini kegiatan pengabdian masyarakat berlangsung cukup menyenangkan. 

PKM Prodi Agribisnis UNU Lampung

    Mahasiswa diminta praktik langsung melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Jadi, posisi kami para dosen hari ini lebih banyak mengamati, menilai, dan sesekali membantu jika ada bagia yang mulai tidak terkendali.

Keadaan masih kondusif sewaktu mahasiswa memberikan penyuluhan

    Mitranya adalah Kelompok Wanita Tani (KWT). Kurang lebih ada sekitar 15 ibu-ibu peserta dari KWT dan 18 mahasiswa yang bertugas menjadi penyuluh hari ini. Sebagian membawa catatan kecil, sebagian membawa rasa penasaran, sebagian membawa anak kecil bahkan bayi yang turut meramaikan suasana dan sebagian membawa banyolan. Nah, yang terakhir ini yang bikin suasana jadi happy sepanjang kegiatan. Banyolan khas ibu-ibu, ngapak lagi kan. "Ora ngapak, ora kepenak".

    Topik penyuluhannya cukup menarik. Pembuatan ecoenzym dan Pupuk Cair Organik (POC). Bahan dasarnya ada yang dari kulit nanas, sayuran segar, sampah sisa dapur, pelepah pisang dan urin sapi.

    Mahasiswa dibagi menjadi enam kelompok. Masing-masing tampil bergantian menjelaskan materi dan mempraktikkan proses pembuatannya secara langsung. Tidak lupa mahasiswa sudah membawa sampel hasil dari praktik sebelumnya di rumah.

    Dan jujur saja, melihat mahasiswa berdiri di depan masyarakat selalu menjadi pengalaman yang menarik.  Karena saat praktik seperti itu, mereka bukan hanya diuji soal penguasaan materi. Mereka juga belajar: bagaimana berbicara dengan masyarakat, bagaimana menghadapi audiens, bagaimana menjelaskan hal teknis dengan bahasa sederhana, dan bagaimana tetap tenang ketika situasi di lapangan tidak sesuai rencana. 

    Yang terakhir itu ternyata yang paling penting.

***

    Secara umum semua kelompok berjalan lancar. Ibu-ibu KWT terlihat sangat antusias. Mereka aktif menjawab pertanyaan, ikut berdiskusi, bahkan semangat sekali ketika mahasiswa mulai membagikan doorprize kecil-kecilan.

    Ada kebahagiaan sederhana ketika melihat suasana penyuluhan terasa hidup seperti itu.

    Karena keberhasilan penyuluhan sebenarnya bukan di seberapa panjang materi disampaikan, tetapi di seberapa nyaman orang mau terlibat dalam percakapan.

    Dan ibu-ibu hari ini benar-benar membuat suasasna terasa hangat, meskipun faktanya sangat panas dan bikin keringat mengalir deras.

***

    Namun, seperti banyak kegiatan lapangan lainnya, selalu ada satu momen yang akhirnya paling diingat dibanding seluruh rangkaian acara.

    Dan momen itu datang dari kelompok terakhir.

    Mereka mendapat tema : Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Urin Sapi.

    Awalnya semua terlihat normal.

    Mahasiswa datang dengan penuh percaya diri sambil membawa sebuah drigen berukuran cukup besar. Dari wajah mereka terlihat meyakinkan bahwa praktik kali ini akan berjalan sukses. 

    Sampai akhirnyaa.... 

    Drigen itu dibuka.

    Dan dalam hitungan detik, keadaan berubah drastis.

***

    Aroma urin sapi langsung menyerbu area praktik tanpa ampun.

    Bukan aroma yang samar-samar.

    Bukan juga aroma yang masih bisa ditoleransi sambil pura-pura kuat.

    Ini tipe aroma yang membuat manusia tiba-tiba mempertanyakan keputusan hidupnya. Diam di tempat atau lariiii!!!

    Masalahnya, urin yang dibawa ternyata belum difermentasi.

    Jadi ketika tutup drigen dibuka, angin siang itu dengan sangat setia membantu menyebarkan aromanya ke segala arah.

    Dan pemandangan berikutnya benar-benar di luar materi penyuluhan.

    Ibu-ibu mulai bubar perlahan meninggalkan panggung sandiwara mahasiswa.

    Beberapa menutup hidung. Ada yang batuk-batuk. Ada yang mual bahkan sampai muntah. Perut rasanya seperti dikocok atau mabok laut. Mirip-miriplah.

    Yang paling lucu, dosen-dosennya pun ikut menyelamatkan diri. Siapa yang mau tenggelam bersama aroma urin busuk itu hah???

Keadaan saat masih kondusif untuk foto-foto

    Tidak ada lagi wibawa akademik saat itu. Semua setara di hadapan aroma urin sapi.

***

    Saya masih ingat bagaimana area praktik mendadak berubah seperti simulasi evakuasi darurat. Padahal beberapa menit sebelumnya suasana masih penuh diskusi ilmiah tentang pembuatan ecoenzyme dan pupuk cair organik. Bahkan di kelompok pertama, aroma ecoenzyme dari kulit nanas begitu wangi atau harum. Tapi kenapa di akhir sesi justru aroma urin yang hadir menggantikannya??

produk ecoenzyme kulit nanas hasil praktik mahasiswa

    Untung saja itu kelompok terakhir.

    Kalau bukan, mungkin setelah itu tidak ada lagi peserta yang bersedia mendekat ke area praktik. 

    Dan untungnya, ibu-ibu KWT tetap tertawa menghadapi kekacauan kecil tersebut. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang tersinggung. Justru suasana berubah menjadi penuh cerita dan candaan.

    Kadang memang kegiatan lapangan yang paling diingat bukan yang paling sempurna, tetapi yang paling manusiawi dan yang paling memberi kesan.

***

    Di balik kejadian lucu hari ini, saya rasa ada pelajaran sederhana yang cukup penting untuk mahasiswa.  Bahwa praktik lapangan tidak selalu berjalan sesuai teori di kelas. 

    Kadang alat yang dipersiapkan bermasalah. Kadang situasi berubah tiba-tiba. Kadang ada hal-hal kecil yang luput diperhatikan, tetapi justru menjadi pusat perhatian semua orang.

    Dan dari situ mahasiswa belajar satu hal penting: bahwa ilmu di lapangan bukan hanya soal benar atua salah, tetapi juga soal kesiapan menghadapi keadaan yang tidak terduga.

***

    Namun di luar semua kekacauan aroma tadi, saya cukup senang melihat bagaimana mahasiswa mulai belajar berbicara langsung dengan masyarakat.

    Karena menjadi sarjana bukan hanya tentang memahami teori.

    Tetapi juga tentang: mampu menjelaskan ilmu dengan sederhana; mampu berinteraksi dengan masyarakat; dan mampu tetap tenang.... meskipun sedang dikejar aroma urin sapi yang menyengat ke segala arah.

    Dan saya rasa, itu adalah bentuk pembelajaran yang tidak akan mudah mereka lupakan.

    Well, apapun cerita hari ini, terimakasih sudah membuat suasana hati saya baik dan semakin baik. 









Catatan Kecil Setelah Menguji Skripsi

Kenapa Ruang Ujian Skripsi Selalu Terasa Lebih Panas?

Ruang ujian skripsi selalu terasa berbeda.

Entah kenapa, meskipun pendingin ruangan menyala sejak pagi, suasananya tetap terasa lebih panas dibanding hari-hari biasa. Mungkin bukan karena suhu ruangan yang berubah, melainkan karena ada banyak kepala yang dipenuhi kecemasan di dalamnya.

Dalam pandangan saya, mahasiswa yang akan menjalani sidang skripsi seharusnya sudah cukup siap. Mereka sudah melewati proses panjang: menyusun penelitian, revisi berkali-kali, bertemu dosen pembimbing, memperbaiki kesalahan kecil yang tidak pernah benar-benar habis. Bahkan mungkin ada yang semalaman berlatih presentasi di depan cermin atau membaca ulang isi skripsinya sampai dini hari.

Namun anehnya, ketika sudah duduk di kursi sidang, semua persiapan itu kadang seperti menguap begitu saja.

Jawaban yang sebelumnya terasa lancar mendadak sulit keluar. Tangan mulai dingin. Nada bicara berubah. Pikiran-pikiran sebelum masuk ruang sidang sering kali lebih kuat dibanding kesiapan yang sudah dibangun jauh-jauh hari.

Mungkin memang seperti itu rasanya diuji.

Bukan hanya diuji tentang isi skripsi, tetapi juga diuji tentang seberapa tenang seseorang menghadapi rasa takutnya sendiri.

***

Ada satu bagian dari sidang skripsi yang selalu saya sukai.

Bukan ketika mahasiswa mempresentasikan hasil penelitiannya. Bukan juga saat penguji mulai melontarkan pertanyaan demi pertanyaan.

Melainkan bagian akhir, ketika suasana mulai sedikit mencair dan percakapan perlahan bergerak ke arah yang lebih personal.

Di sesi itu, mahasiswa biasanya tidak lagi berbicara sebagai peserta sidang. Mereka mulai berbicara sebagai manusia yang sedang menyelesaikan satu fase penting dalam hidupnya.

Di situlah sering muncul cerita-cerita yang sebelumnya tidak pernah terlihat.

Tentang perjuangan yang diam-diam dipikul sendiri.
Tentang rasa lelah yang disembunyikan di balik senyum.
Tentang orangtua yang terus berusaha mendukung meskipun keadaan tidak selalu mudah.

Dan di bagian itu pula, saya sering merasa bahwa air mata kadang mampu menjelaskan banyak hal yang tidak sanggup disampaikan kata-kata.

***

Siang kemarin, di sebuah ruang sidang yang sebenarnya cukup dingin, seorang mahasiswa diminta menyampaikan beberapa kalimat setelah sidangnya selesai.

Awalnya semua berjalan biasa saja.

Ucapan terima kasih mengalir lancar dari bibirnya. Ia berterima kasih kepada dosen penguji, dosen pembimbing, dan semua orang yang sudah membantunya sampai di titik itu.

Namun suasana mulai berubah ketika ia mengucapkan kata:
“maaf.”

Kata itu ditujukan kepada dosen pembimbingnya.

Dengan suara yang mulai pelan, ia merasa belum mampu memberikan jawaban terbaik selama sidang berlangsung. Setelah itu, matanya mulai memerah. Beberapa kali ia mencoba menahan tangis, tetapi suaranya mulai bergetar.

Sebagai ketua sidang, saya melihat ada sesuatu yang jauh lebih besar dibanding rasa gugup karena ujian.

Barangkali ada rasa takut mengecewakan.
Barangkali ada rasa lelah yang selama ini ditahan sendiri.

Atau mungkin, ada perasaan bahwa semua perjuangan ini belum benar-benar mampu membalas pengorbanan orangtuanya.

***

Saya kemudian bertanya kepadanya,
“Apa yang ingin kamu sampaikan kepada orangtua di rumah?”

Ruangan mendadak menjadi lebih sunyi.

Ia terdiam cukup lama.

Sampai akhirnya, dengan suara yang mulai terbata karena tangis yang tidak lagi bisa disembunyikan, ia berkata,

“Terima kasih ibu yang sudah mensupport saya sejauh ini.

Maaf kalau sampai sekarang saya masih menjadi beban orangtua.”

Setelah kalimat itu selesai diucapkan, ia kembali diam.

Dan entah kenapa, kalimat itu terasa tinggal cukup lama di dalam kepala saya.

***

Benarkah seorang anak adalah beban bagi orangtuanya?

Saya rasa banyak anak diam-diam pernah memiliki perasaan itu. Terutama ketika melihat orangtuanya bekerja terlalu keras, mengorbankan banyak hal, sementara dirinya sendiri merasa belum mampu memberikan apa-apa.

Padahal mungkin, menjadi anak bukan tentang seberapa cepat bisa membalas semua pengorbanan.

Karena di saat seorang anak sedang belajar menjadi dewasa, orangtua pun sebenarnya sedang belajar menjadi orangtua.

Kalimat dari dosen pembimbingnya siang itu terasa sangat menenangkan.

“Jangan pernah merasa menjadi beban bagi orangtua.

Maafkan orangtua jika dalam bersikap mereka sering lupa bahwa kamu juga baru pertama kali menjadi anak.

Dan maafkan juga orangtua, karena menjadi orangtua pun adalah proses yang baru pertama kali mereka jalani.”

Setelah kalimat itu selesai diucapkan, ruang sidang terasa berubah.

Bukan lagi sekadar ruang ujian skripsi.

Melainkan ruang kecil tempat manusia saling memahami luka, perjuangan, dan perannya masing-masing dalam hidup.

Dan mungkin memang begitu hidup berjalan.

Kita semua sebenarnya sedang belajar menjalani peran yang belum pernah kita jalani sebelumnya.



Seringkali yang Paling Sulit itu Berangkatnya

Hari Minggu itu selalu punya harapan yang sama. Santai. Rebahan. Minum teh atau kopi tanpa buru-buru. Dan kalau bisa… tidak mendengar k...