Hari ini seharusnya saya mengajar jam 8 pagi.
Tapi sejak subuh hujan turun deras sekali. Jalanan basah,
langit gelap, dan suasana pagi rasanya lebih cocok untuk menarik selimut
dibanding berangkat ke kampus.
Akhirnya kelas saya geser ke jam 1 siang.
Dan seperti biasa, grup WhatsApp mulai ramai.
Satu per satu mahasiswa izin.
Ada yang bilang kehujanan.
Ada yang sakit.
Ada yang terkendala kendaraan.
Ada juga yang alasannya cukup singkat sampai saya sendiri bingung harus percaya
sepenuhnya atau tidak.
Di titik tertentu sebagai dosen, kadang memang muncul
pertanyaan kecil dalam kepala:
“Ini benar-benar kendala… atau cuaca memang terlalu nyaman untuk rebahan?”
Tapi ya sudahlah.
Kadang dosen juga pernah jadi mahasiswa.
Jadi sedikit banyak paham bagaimana kuatnya godaan hujan di pagi hari.
***
Namun yang membuat semangat saya makin turun adalah ketika
kelas dimulai.
Jam sudah menunjukkan pukul 13.30.
Dan yang hadir…
tiga orang.
Tiga.
Jumlah yang kalau dipikir-pikir lebih cocok disebut rapat
kecil daripada suasana perkuliahan.
Saya sempat berpikir:
dibatalkan saja apa ya?
Tapi di sisi lain, kasihan juga mahasiswa yang sudah
datang.
Mereka sudah melawan hujan, rasa malas, dan mungkin godaan
kasur untuk tetap hadir ke kelas.
Akhirnya kuliah tetap berjalan.
***
Materi hari ini sebenarnya cukup penting:
konsep efisiensi.
Dan jujur saja, saya termasuk dosen yang agak malas
mengulang materi dari awal untuk mahasiswa yang tidak hadir.
Bukan karena pelit ilmu.
Tapi karena menjelaskan konsep itu butuh energi.
Butuh alur.
Butuh suasana diskusi.
Kalau nanti diulang lagi, rasanya seperti menonton episode
yang sama dua kali dalam waktu berdekatan.
Masalahnya, dengan jumlah mahasiswa yang hanya tiga orang,
suasana kelas otomatis jadi berbeda.
Diskusi interaktif yang biasanya hidup mendadak terasa
sunyi.
Saya berbicara.
Mahasiswa mendengarkan.
Lalu hening.
Dan entah kenapa, energi di kelas itu memang menular.
Kalau mahasiswa pasif, dosen ikut kehilangan tenaga.
Kalau dosen lelah, kelas ikut terasa berat.
Hari ini semuanya terasa saling mendung.
Hujan tidak hanya turun dari langit saja.
***
Mungkin juga karena sebelum mengajar saya sudah lebih dulu
menguras energi.
Dari jam 10 sampai sekitar setengah satu tadi saya menguji
mahasiswa skripsi.
Belum sempat makan siang.
Belum sempat duduk tenang.
Belum sempat benar-benar menarik napas.
Jadi ketika masuk kelas, rasanya baterai sosial dan baterai
akademik sudah tinggal garis merah.
Mahasiswa bimbingan skripsi yang seharusnya konsultasi hari
ini pun akhirnya saya minta dijadwalkan ulang minggu depan.
Dan target menyelesaikan artikel publikasi?
Belum tersentuh sama sekali.
Belum lagi kuesioner penelitian DRTPM yang masih menunggu
diselesaikan.
Sementara di luar sana, langit masih mendung sampai sore.
Rasanya suasana hari ini seperti ikut berkonspirasi membuat
semua pekerjaan terasa lebih berat dari biasanya.
***
Kadang memang ada hari-hari seperti ini.
Hari ketika daftar pekerjaan terasa panjang sekali.
Tapi tenaga dan suasana hati justru sedang tidak bersahabat.
Dan anehnya, menjadi dosen sering kali bukan soal tidak
punya kemampuan menyelesaikan pekerjaan.
Tetapi soal menjaga energi agar tetap cukup untuk bertahan
menjalani semuanya sekaligus.
Mengajar.
Membimbing.
Menguji.
Meneliti.
Menulis publikasi.
Mengurus administrasi.
Dan tetap mencoba menjadi manusia normal di sela-selanya.
***
Namun mungkin, tidak semua hari memang harus produktif
dengan sempurna.
Ada hari-hari yang memang hanya perlu dijalani pelan-pelan.
Karena tubuh juga punya batas.
Pikiran juga bisa lelah.
Dan semangat pun kadang perlu waktu untuk kembali penuh.
Mungkin sore ini saya memang belum berhasil menyelesaikan
semua target.
Tapi setidaknya hari ini saya tetap datang mengajar.
Tetap masuk kelas.
Tetap mencoba berjalan meskipun langkahnya terasa berat.
Dan mungkin itu juga sudah cukup.
Karena hidup orang dewasa sering kali bukan tentang
berhasil menyelesaikan semuanya sekaligus.



.jpeg)




