Dalam analisis pendapatan atau analisis kelayakan investasi, kita harus menghitung biaya input baik input tetap maupun input variabel. Input tetap adalah input yang digunakan dalam kegiatan usaha produksi dan tidak habis digunakan dalam satu kali pemakaian. Contoh penggunaan input tetap dalam usahatani adalah biaya peralatan yang digunakan dalam usahatani. Peralatan yang digunakan setiap waktu, nilai ekonomisnya akan semakin menyusut. Penyusutan peralatan ini disebut sebagai biaya penyusutan yang bisa dihitung dengan berbagai metode.
Secara umum, metode perhitungan biaya penyusutan dibagi menjadi dua yaitu metode rata-rata dan metode menurun. Metode rata-rata terdiri dari metode garis lurus (straight line method) dan metode unit aktivitas (unit of activity method). Adapun metode menurun terdiri dari metode jumlah angka tahun, metode saldo menurun, dan metode saldo menurun ganda.
1. Metode garis lurus (straight line method)
Perhitungan biaya penyusutan aset tetap menggunakan metode garis lurus adalah cara menghitung biaya penyusutan suatu aset yang memiliki karakteristik nilai beban penyusutan sama setiap tahunnya. Nilai penyusutan tersebut tidak akan berubah sampai usia ekonomi aset yang bersangkutan habis. Jika digambarkan dalam bentuk grafik, metode ini akan membentuk garis lurus. Rumus perhitungan biaya penyusutan dengan metode ini adalah sebagai berikut:
Berdasarkan rumus di atas, unsur-unsur dalam rumus dapat dijelaskan sebagai berikut. Harga perolehan merupakan sejumlah uang yang dikeluarkan untuk mendapatkan aktiva tetap sampai aset tersebut siap digunakan. Unsur harga ini penting diketahui untuk dasar perhitungan seberapa besar depresiasi yang harus dialokasikan. Harga perolehan bisa juga disebut harga input tetap. Misalnya petani membeli mesin traktor sebesar 15 juta rupiah. Nilai sisa atau salvage value adalah taksiran nilai atau harga dari input tetap jika sudah digunakan sampai habis umur ekonomisnya. Misalnya, traktor yang dibeli seharga 15 juta rupiah, jika sudah 25 tahun mungkin sudah tidak bisa optimum lagi kemampuannya, dan jika dijual harganya mungkin akan menyusut atau tersisa menjadi 5 juta rupah. Maka nilai 5 juta rupiah itu disebut sebagai nilai sisa. Usia ekonomis menunjukkan masa kebermanfaatan dari input tetap. Misalnya. kebermanfaatan dari mesin traktor hanya 25 tahun, maka 25 tahun disebut usia ekonomis.Penggunaan metode garis lurus ini banyak diadopsi oleh perusahaan karena kepraktisannya dalam perhitungannya. Kelebihan lainnya dari metode ini adalah metode ini memiliki besaran beban penyusutan yang sama setiap tahunnya karena tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya output. Karena beban biaya dianggap konstan untuk semua aset, maka ini menjadi kekurangan dari metode ini. Misalnya, biaya perawatan suatu mesin traktor sejak pemakaian di tahun pertama dan 10 tahun kemudian, tentu akan berbeda. Namun pada metode ini dianggap sama. Oleh karenanya, beban penyusutan yang diakui cenderung tidak mencerminkan usaha yang digunakan dalam menghasilkan pendapatan. Pada metode garis lurus, banyak asumsi yang digunakan seperti taksiran nilai residu/sisa dan umur ekonomis dari suatu aset. Jika taksiran ini salah atau tidak tepat maka bisa menimbulkan kerugian bagi pemilik usaha.
Melihat kekurangan dan kelebihan dari metode garis lurus, menurut saya, metode ini lebih tepat jika digunakan untuk menghitung biaya penyusutan suatu aset tetap pada usaha yang tidak menggunakan mesin atau aset dengan harga mahal. Misalnya, pada usaha UMKM rumahan, jika peralatan yang digunakan hanya peralatan sederhana seperti peralatan dapur, maka metode garis lurus bisa digunakan. Hal ini karena peralatan yang dibeli tidak mahal, yang artinya biaya perawatannya tidak terlalu besar sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai pendapatan yang nantinya diperoleh.
2. Metode penyusutan unit produksi
3. Metode saldo menurun ganda
Metode ini menghasilkan suatu beban penyusutan periodik yang menurun selama estimasi umur ekonomis aset.
4. Metode
jumlah penyusutan digit tahun
5.

Comments
Post a Comment