Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

4 Tips Menemukan Judul Skripsi

Hallo mahasiswa, bagi kalian yang sudah masuk semester 7 pasti sudah diminta untuk mengajukan judul skripsi bukan? Bagaimana pengalaman kamu dalam mengajukan judul skripsi ini? Adakah judul yang pernah ditolak baik oleh fakultas atau dosen pembimbing sehingga kamu harus ganti judul berulang kali? 


Membimbing mahasiswa agribisnis yang sedang skripsi

Sebagai dosen, saya mengajar mata kuliah metodologi penelitian. Biasanya, saya akan meminta mahasiswa untuk menuliskan judul skripsi dalam waktu lima menit? Dan apa jawabannya? Sebagian besar mahasiswa tidak menemukan atau menuliskan judul skripsi tersebut. Jangankan lima menit, bahkan dalam satu semester pun bisa jadi mahasiswa belum mampu menemukan judul skripsi. Fakta ini terjadi pada mahasiswa-mahasiswa saya. Oleh karenanya, yang seharusnya di semester 7 mahasiswa sudah bisa mengajukan judul, ternyata kebanyakan mahasiswa baru mengajukan judul di semester 8.

Tidak mudah mencari judul skripsi. Jikalau mahasiswa mengajukan judul skripsi, belum tentu dia paham dengan apa yang dia tulis. Kebanyakan mahasiswa hanya searching 'judul skripsi agribisnis' di mesin pencarian elektronik, lalu mereka ajukan kepada saya. Pertanyaan pertama yang selalu keluar dari saya ketika mahasiswa mengajukan judul skripsi adalah "Mengapa kamu mengambil topik penelitian ini?". Pertanyaan yang singkat ini, seringkali tidak bisa dijawab oleh mahasiswa. Kalau tidak tersenyum, bergeming, diam ya mahasiswa akan bilang saya tidak tahu bu. Lucu sebenarnya, tapi itulah cerita membimbing mahasiswa yang akan mulai skripsi. Nah, di bawah ini ada beberapa tips memilih judul skripsi. Untuk kamu mahasiswa yang mau skripsi-an, disimak ya informasi di bawah ini.

1. Temukan persoalan atau permasalah yang paling substansi terlebih dahulu

Ya, penelitian itu tidak berangkat dari judul. Hal ini selalu saya tekankan kepada mahasiswa yang akan mengajukan skripsi. Penelitian berangkat dari adanya masalah, yaitu gap atau jarak antara realitas dengan harapan yang diinginkan. Jika petani berharap usahataninya menghasilkan output yang optimum, namun kenyataannya justru gagal panen, maka disini tersirat adanya persoalan atau masalah. Contoh lain, jika komoditas perkebunan banyak dicari oleh pasar internasional tetapi harga domestik justru anjlok bahkan curam, maka disini ada persoalan. Oleh karena itu, temukan terlebih dahulu masalah yang ada dalam suatu fenomena atau realitas di lapangan. Masalah yang muncul inilah yang menarik untuk diteliti, sehingga akan menjawab pertanyaan "mengapa itu terjadi?"

2. Banyaklah membaca realitas di lapangan dan menyadarinya

Banyak mahasiswa agribisnis yang sama sekali tidak mengetahui persoalan-persoalan agribisnis dari hulu sampai ke hilir. Mahasiswa tidak tahu kalau petani seringkali dihadapi oleh persoalan harga produk yang dinamis, faktor alam yang tidak menentu, manajamen yang kurang baik, kebijakan yang mendistorsi pasar, kelembagaan yang tidak mantap dan hal-hal lainnya yang mempengaruhi keberhasilan dari usahatani. Mahasiswa seolah skeptis terhadap fakta-fakta di lapangan. Lebih tertarik dengan bacaan fiksi, nonton drakor atau main di kafe. Tidak masalah hal-hal yang bersifat hiburan tersebut dilakukan, asalkan mahasiswa juga membuka pikiran dan peka dengan keadaan di sekitarnya. Dengan mengetahui banyaknya kasus-kasus pertanian, mahasiswa akan mudah menemukan permasalahan khususnya sektor pertanian. Dan hal ini bisa diajukan sebagai judul skripsi. Biasanya kalau saya, banyak membuka berita-berita pertanian terkini. Apa yang menjadi isu terbaru dan terhangat, sehingga topik penelitian yang saya ambil tidak ketinggalan zaman.

3. Memahami dan mengulang mata kuliah keprodian yang pernah didapatkan

Dengan membaca dan memahami mata kuliah yang pernah diajarkan, khususnya mata kuliah keprodian, kita akan tahu tema-tema apa yang berada di ruang lingkup bidang keilmuan kita. Karena, banyak sekali mahasiswa yang mengajukan judul skripsi di luar cabang ilmunya. Asal ada kata pertanian atau komoditas pertanian, diajukan sebagai judul skripsi. Padahal analisis dan metode penelitiannya tidak sesuai dengan bidang keilmuannya. Misalnya mahasiswa agribisnis ingin mengetahui faktor-faktor pertumbuhan tanaman dengan menggunakan uji coba pupuk organik yang dosisnya dibedakan. Ini tentu tidak sesuai. Memahami mata kuliah keprodian akan memudahkan kita juga dalam menentukan landasan teori dan variabel yang akan kita teliti. Karena bagaimanapun skripsi selalu membutuhkan teori sebagai pondasi awal.

4. Membaca artikel dan buku referensi

Hal terakhir yang tidak boleh ditinggalkan adalah perlunya seorang mahasiswa banyak membaca artikel, buku ajar, berita, dll. Dengan banyak membaca kita akan memperoleh masukan tentang persoalan-persoalan yang tengah dihadapi di dunia agribisnis atau sektor pertanian secara umum. Kita juga bisa menemukan berbagai inovasi teknologi yang itu bermanfaat bagi kita untuk menemukan judul skripsi. Mengambil judul skripsi yang mengadopsi teknologi baru bisa menjadi kebaharuan dalam penelitian kita. 

Nah, itulah tadi 4 tips menemukan judul skripsi. Ingat, skripsi tidak berangkat dari judul. Temukan dulu permasalahanya maka akan lebih mudah untuk menemukan judul skripsinya. Semoga kalian yang akan mengajukan judul skripsi dan yang sedang menjalani skripsi diberikan kemudahan dan kelancaran ya ^,^


OPINI! Penerapan Pertanian Modern di Indonesia

 


sumber : https://www.detik.com/jabar/berita/d-7329222/mentan-ingin-bangun-klaster-pertanian-modern/2

Hallo, di ruang ini kita akan membahas artikel pada gambar di atas (link di bawah gambar). Menteri Pertanian Amran Sulaiman berencana akan membangun klaster pertanian modern yang nantinya SDM yang digunakan adalah generasi millenial. Menurutnya, pertanian modern akan menghemat anggaran hingga triliunan. Nah, apa sebenarnya pertanian modern dan bagaimana pertanian modern itu? Simak yuk, penjelasan di bawah ini.

Pertanian modern adalah pertanian yang bertujuan untuk membantu petani dalam meningkatkan efisiensi dan mengurangi jumlah sumberdaya alam seperti air, tanah, dan energi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan, bahan bakar, dan serat. Perwujudan dari pertanian modern adalah aktivitas agribisnis, pertanian intensif, pertanian organik dan pertanian berkelanjutan. 

Penerapan pertanian modern diharapkan mampu meningkatkan pasokan pangan, menjamin keamanan pangan, meningkatkan keberlanjutan dan menghasilkan lebih banyak biofuel. Namun, pertanian modern yang tidak terjaga dapat menimbulkan efek negatif terutama terhadap lingkungan. Hal ini karena secara teori pertanian modern menginginkan output yang tinggi dengan menggunakan input yang tinggi pula termasuk pestisida dan pupuk kimia. 

Ada banyak contoh penerapan pertanian modern terutama dalam penggunaan teknologi, diantaranya:

1. Sensor tanah dan tanaman

Saat ini banyak peralatan pertanian yang dilengkapi dengan sensor cerdas yang dapat membaca segala sesuatu yang berhubungan dengan tanaman. Contoh teknologi sensor digunakan untuk membaca kesehatan tanaman, tingkat kandungan nitrogen esensial di dalam air. Teknologi sensor bisa digunakan untuk mengukur konduktivitas listrik tanah, lantas dasar, kandungan bahan organik, bahkan karakteristik tanah seperti pH. Dengan menggunakan sensor, petani dapat memeriksa tanamannya dari jarak jauh berdasarkan kondisi lapangan secara real-time.

2. Tanaman yang terhubung dengan Wi-Fi

Penerapan sistem Wifi pada tanaman memiliki mekanisme sebagai berikut: areal pertanian (peternakan) dipasang wifi dan sensor yang dapat merekam dan mengirimkan instruksi ke sistem irigasi otomatis pertanian. Di lain kasus, bisa menambahkan dosis pupuk yang tepat sesuai dengan kebutuhan, sebelum jumlah air yang tepat disebarkan melalui pipa tetes, kemudian pupuk dan air nanti dapat mengalir secara bersamaan ke tanaman. Adanya teknologi ini dapat memaksimalkan efisiensi, mendistribusikan jumlah air yang tepat secara berkala, serta mencegah pemborosan input dan juga biaya. Adapun petani dapat mengakses aktivitas pemantauannya ini melalui gadget atau ponsel pintar.

3. Teknologi bus

Teknologi BUS (Sistem Unit Biner) adalah serangkaian kawat yang membentuk kabel besar yang dihubungkan antara monitor (terminal vitual) dengan implementator. Teknologi yang diaktifkan disebut ISOBUS, sebuah protool komunikasi berdasarkan standar elektronik pertanian ISO 11783 dan Teknologi Controller Area Network atau Cannabis.

4. Robot petani

Salah satu teknologi modern di dunia pertanian adalah penggunaan teknologi drone. Saat ini, sektor pertanian bisa memanfaatkan drone yang bisa digunakan dalam membantu pemupukan dan penyemprotan tanaman di lahan sawah. Teknologi drone dapat menghemat waktu dan biaya tenaga kerja. Teknologi ini dilengkapi dengan GPS yang tepat sehingga mereka dapat dengan mudah menavigasi ruang sempit diantara barisan tanaman. Teknologi drone dapat membantu petani dalam memilih strobery yang matang, selada yang bagus, memotong anggur dan lain-lain.

5. Manajemen panjang gelombang

Pertanian rumahan di perkotaan dan pertanian vertikal saat ini sedang marak dan populer di masyarakat. Penerapannya diantaranya dengan menciptakan panjang gelombang sinar matahari ideal yang disesuaikan dengan pertumbuhan dalam ruangan yang terkompresi. Hal ini memberikan petani kesempatan untuk bercocok tanam sepanjang tahun. 

Mungkin masih banyak lagi jenis teknologi yang diadopsi dalam dunia pertanian modern. Namun demikian, pertanian modern menurut saya juga memiliki kelemahan. Apa saja?

1. SDM petani Indonesia

Meskipun teknologi modern untuk pertanian saat ini mulai berkembang, akan tetapi kalau petani Indonesia saat ini berada pada usia di atas 40 tahun saya rasa ini bisa menjadi kendala. Mengapa? Karena untuk mengaplikasikan teknologi perlu SDM yang fresh dan melek teknologi dan informasi. SDM yang paling tepat adalah generasi millenial. Namun masalahnya, banyak pemuda yang tidak tertarik pada dunia pertanian. Oleh karena itu perlu giat atau sosialisasi kepada generasi muda bahwa pertanian adalah sektor yang menjanjikan dan bisa dikomersilkan. Pertanian hanyalah tempat, sedangkan cara mengelolanya generasi millenial bisa menerapkan kemajuan dan perkembangan IPTK. 

2. Kepemilikan lahan pertanian

Rata-rata kepemilikan lahan pertanian (lahan sawah) petani Indonesia hanyalah 0,25 hektar. Kepemilikan yang sempit ini, tidak banyak bisa dikelola dengan teknologi mesin. Penggunaan SDM manusia adalah yang paling tepat. Jika ingin memaksimumkan hasil pada pertanian lahan sempit, maka teknologi yang tepat bukan pada teknologi mesin melainkan intensifikasi seperti penggunaan benih unggul, tumpang sari, serta irigasi yang memadai.

3. Pengangguran

Jika teknologi yang dimaksudkan hanya pada penggunaan mesin-mesin, maka dampak nyatanya adalah makin meningkatnya pengangguran. Penduduk Indonesia yang cukup besar, dengan luas lahan pertanian yang banyk terkonversi menjadi lahan non pertanian, berakibat pada terciptanya pengangguran. Jika teknologi mesin makin marak bahkan sampai di tingkat pedesaan, bagaimana dengan tenaga kerja manusia yang selama ini digunakan oleh para petani Indonesia?

4. Tingginya biaya perawatan

Penggunaan teknologi mesin tentu harus diiringi dengan perawatan yang intensif. Perawatan mesin dan gadget teknologi modern mahal, sehingga petani tidak mampu mengimbanginya. 

Jadi, dari paparan di atas sikap seperti apa yang harus kita ambil? Di satu sisi teknologi memberikan peluang untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Namun, di sisi lain ada dampak yang harus ditanggung. Menurut hemat saya, disinilah peran pemerintah. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan, adalah entitas yang paling paham keadaan pertanian secara keseluruhan di Indonesia. Kebijakan-kebijakan yang dibuat harus berdasarkan karakter dan kebutuhan petani baik di pedesaan maupun di perkotaan. Contohnya penerapan drone untuk menyebar pupuk atau menyemprot pestisida akan cocok jika diterapkan di areal lahan yang luas. Misalnya perusahaan perkebunan. Namun bagi petani dengan lahan sempit, penggunaan drone tentu tidak pas. Karena biaya untuk membeli drone-nya saja sudah mahal. Kecuali jika drone ini dikelola oleh gapoktan yang diperoleh sebagai bentuk bantuan subsidi input alsintan dari pemerintah. Drone dimanfaatkan oleh gapoktan untuk menjalankan unit penyewaan input. Anggota gapoktan yang mau menggunakan drone harus membayar uang sewa. Sehingga bisa menjadi pemasukan bagi gapoktan. Nah, demikian opini saya terhadap pertanian modern. Semoga bermanfaat ya ^.^

Ternyata Menjadi Dosen Tidak Sesepi Itu!!

Foto bersama dosen FP3 Kurang lebih sudah delapan tahun saya menyandang title sebagai dosen. Kalau dipikir-pikir, delapan tahun itu bukan wa...