Persoalan Sektor
Pertanian
Di balik
tanaman-tanaman hijau yang tumbuh di lahan-lahan pertanian, sesungguhnya sektor
pertanian memiliki polemik yang saling berhubungan dari subsistem hulu hingga
hilir. Persoalan sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan sisi ekonomi
pertanian, tetapi juga menyangkut hubungan sosial dan budaya yang ada di
masyarakat. Oleh karena itu, penyelesaian masalah di sektor pertanian tidak
bisa dilakukan hanya secara parsial tetapi juga secara utuh melihat dari semua
aspek.
Menurut Kementerian
Pertanian (2019), dalam melaksanakan pembangunan pertanian saat ini, persoalan
yang dihadapi antara lain (1) kerusakan lingkungan dan perubahan iklim; (2)
infrastruktur, sarana prasarana, lahan dan air; (3) sempitnya kepemilikan
lahan; (4) sistem perbenihan dan perbibitan; (5) akses petani terhadap
permodalan, kelembagaan dan penyuluhan; (6) koordinasi antar sektor.
Saat ini, tenaga
kerja pertanian semakin menurun. Petani aktif saat ini berada pada rentang usia
55-64 tahun, yang dapat mengganggu keberlanjutan pembangunan pertanian.
Urbanisasi pemuda dari desa ke kota salah satunya disebabkan karena kurangnya
peran pendidikan pada ketersediaan on
farm sumberdaya manusia pada pelaku dan pembangunan pertanian.
Sementara itu, luas
lahan garapan petani juga semakin menurun. Rata-rata kepemilikan lahan sawah di
Indonesia kurang dari 0,25 hektar. Penyebab menurunnya lahan pertanian akibat
semakin besarnya alih fungsi lahan sawah menjadi lahan pemukiman. Sempitnya
kepemilikan lahan pertanian tidak didukung dengan upaya adopsi teknologi
semakin membuat produksi dan produktivitas hasil pertanian menurun.
Pada konteks
lingkungan global, terjadi perubahan ekologi kawasan dan perubahan fungsi lahan
berpotensi mengurangi kualitas sumberdaya alam. Penggunaan pupuk kimia dan
pestisida yang terus menerus mengakibatkan kerusakan ekosistem lahan pertanian
dan menjadikan hama penyakit bersifat resisten.
Kemudian dari sisi
kelembagaan, sebagian petani masih cenderung bergerak secara individu terutama
dalam perannya sebagai price taker.
Petani tidak memiliki kedudukan untuk menentukan harga-harga pangan hasil
panennya sendiri. Petani juga tidak mendapatkan pendampingan secara utuh karena
dari sisi kelembagaan penyuluh juga mengalami kekurangan tenaga. Dalam
pandangan yang lebih ekstrem, kelembagaan pertanian dibentuk hanya untuk
mensukseskan proyek-proyek pemerintah semata tetapi implementasinya tidak
memberikan kemudahan pada petani bahkan tidak berujung pada kesejahteraan
petani.
Beberapa hal yang
disebutkan di atas adalah berbagai macam polemik yang ada di sektor pertanian
negara kita, Indonesia. Namun anehnya, berbagai polemik di atas (meski harus
tetap diselesaikan) tidak menghambat sektor pertanian untuk bisa menjadi
penyelamat ekonomi nasional. Itulah mengapa sektor pertanian dikatakan sebagai
sektor penyangga ekonomi nasional.
Sektor Pertanian
Penyelamat Ekonomi Nasional
Sektor pertanian di Indonesia masih menjadi
sektor penyangga bagi perekonomian nasional. Struktur perekonomian Indonesia
menurut lapangan usaha selama kurun waktu 2019-2022 ditopang oleh tiga sektor
penting yaitu industry manufacturing dengan
rata-rata kontribusi sebesar 19,29%, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan
dengan rata-rata kontribusi sebesar 13,02% serta sektor perdagangan besar dan
eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dengan kontribusi rata-rata sebesar
12,93% (BPS, 2023).
Pada masa tersebut, pandemi Covid-19 tengah
menjadi perhatian nasional bahkan internasional. Roda perekonomian berjalan
lambat, akses distribusi dan pemasaran barang-barang dibatasi serta aktivitas
manusia tidak seperti biasanya. Impact-nya, terjadi PHK besar-besaran (≥1,5
juta pekerja dirumahkan), penurunan PMI Manufacturing Indonesia mencapai 45,3%
pada tahun 2020, penurunan impor sebesar 3,7% pada triwulan I, dan nilai
inflasi naik mencapai angka 2,96% yang disumbangkan dari harga emas dan
komoditas pangan (Yamali dan Putri, 2020).
Melihat pada sejarah yang lebih jauh, tahun
2008 dunia mengalami krisis pangan. Penyebabnya adalah karena kenaikan harga
minyak bumi dan pupuk serta adanya sepekulasi harga pangan oleh para pedagang
internasional. Negara-negara eksportir seperti Thailand dan Vietnam bahkan
harus memperketat kebutuhan domestik pangannya sendiri. Hal ini mengakibatkan
negara-negara miskin bergejolak secara sosial, ekonomi dan politik karena
adanya transmisi harga dari pasar internasional ke pasar domestik. Untungnya,
Indonesia saat itu, mampu melindungi pasar domestiknya sendiri dengan
berswasembada pangan dan mengisolasi pasar beras domestik dari keran impor.
Berfungsinya Bulog sebagai lembaga parastatral saat itu, membantu pemerintah
dalam mengangkat harga gabah dan beras di tingkat petani. Hal ini mendorong
peningkatan pendapatan petani, memperbesar kesempatan kerja di pedesaan,
mengurangi kemiskinan dan mendorong pembangunan pertanian dan pedesaan.
Sungguh, sektor pertanian adalah penyelamat ekonomi nasional.
Pada krisis moneter tahun 1998 (Santosa,
2005) pertanian memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi
nasional. Saat itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada titik -13,66%.
Seluruh sektor mengalami pertumbuhan yang negatif kecuali sektor pertanian yang
mengalami pertumbuhan positif. Sumbangan sektor pertanian dalam PDB tahun 1998
sebesar 0,26%. Meskipun kontribusi sektor pertanian hanya kecil (namun
positif), akan tetapi pembangunan pertanian saat itu memiliki makna yang
penting. Sektor pertanian mampu memikat hati rakyat untuk kembali terjun ke
dunia pertanian sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang sebagian besar
terdampak PHK. Sektor ini juga mampu mendayagunakan usaha kecil dan menengah
sehingga dapat berkompetisi dalam pemasaran. Disinilah titik mula sektor
pertanian yang awalnya hanya dijadikan sebagai “pendukung” berubah menjadi
“mesin penggerak” roda perekonomian.
Kesimpulan
Berbagai polemik yang mendera sektor
pertanian seharusnya tidak menjadi kendala untuk berupaya mengembangkan sektor
pertanian sebagai mesin penggerak ekonomi nasional. Sejarah membuktikan bahwa
pertanian adalah nafas panjang bagi bangsa ini untuk tetap eksis sebagai bangsa
besar yang memiliki pengaruh global. Namun demikian, pembangunan sektor
pertanian juga harus diikuti sektor lainnya. Hal ini karena sektor pertanian
memiliki keterkaitan baik ke depan maupun ke belakang dengan sektor-sektor yang
lain.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. 2023. Produk Domestik Bruto
Indonesia Triwulanan. BPS Indonesia.
Kementerian Pertanian. 2019. Policy Brief: Permasalahan, Tantangan dan Kebijakan Pembangunan
Pertanian 2020-2024. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Sekretariat Jenderal,
Kementerian Pertanian.
Santosa, Purbayu Budi. 2005. Pembangunan Sektor
Pertanian Melalui Agribisnis Menuju Ketangguhan Perekonomian Indonesia. JIAKP,
Vol.2, No.1, Januari 2005: 674-685.
Yamali, F.R dan Putri, R.N. 2020. Dampak Covid-19
Terhadap Ekonomi Indonesia. Journal of Economics and Business, 4(2), September
2020: 384-388.

Comments
Post a Comment