Showing posts with label my story. Show all posts
Showing posts with label my story. Show all posts

Ternyata Menjadi Dosen Tidak Sesepi Itu!!


Foto bersama dosen FP3

Kurang lebih sudah delapan tahun saya menyandang title sebagai dosen.

Kalau dipikir-pikir, delapan tahun itu bukan waktu yang sebentar. Kalau dianalogikan seperti orang merantau ke negeri lain, delapan tahun sudah cukup lama untuk membuat seseorang berubah.

Saat kembali, mungkin jalan-jalannya masih sama, gedung-gedungnya masih berdiri di tempat yang sama, tapi cara pandangnya sudah berbeda.

Dan mungkin itu juga yang terjadi pada saya

***

Saya mulai menjadi dosen sekitar tahun 2019.

Waktu itu saya sudah memiliki satu anak yang masih berusia sekitar 10 bulan. Suami jauh di luar kota, kami menjalani LDM, bahkan sampai hari ini.

Jadi kalau diingat-ingat lagi, awal perjalanan saya menjadi dosen, tidak terlalu ideal.

Lebih mirip seseorang yang sedang mencoba tetap waras sambil belajar banyak hal sekaligus: menjadi ibu; menjadi dosen; dan menjalani kehidupan baru yang semuanya terasa asing.

***

Hari pertama saya datang ke kampus masih cukup jelas di ingatan.

Waktu itu kampus kami masih "nebeng" di sekolah. Karena ruangannya dipakai bersama, rapat pembagian mata kuliah dilakukan siang hari setelah aktivitas sekolah selesai.

Sebelum rapat dimulai, saya datang ke ruang dosen untuk berkenalan. Ada satu ruang kelas yang saat itu digunakan sebagai kantor sekaligus tempat transit dosen.

Dengan modal nekat dan sedikit rasa percaya diri 'palsu', saya masuk lalu mengucapkan salam.

Kemudian saya memperkenalkan diri ke dosen-dosen yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Kalau dipikir sekarang, rasanya agak 'cringe' juga.

Bayangkan saja, orang-orang sedang fokus bekerja, lalu tiba-tiba ada dosen baru muncul memperkenalkan diri dengan senyum canggung.

Dan bagian paling lucunya adalah setelah saya selesai memperkenalkan diri... semua kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tidak ada yang penasaran dengan saya hahahahha...

Tidak ada obrolan panjang.

Tidak ada momen dramatis seperti di film-film.

Saya tetap duduk sendirian.

***

Waktu itu saya hanya punya satu kenalan dosen, kebetulan teman SMA yang memang sudah lebih dulu mengajar di sana.

Selain itu, saya benar-benar tidak mengenal siapa-siapa.

Hari-hari mengajar saya lalui seperti mahasiswa kupu-kupu:

datang,

mengajar,

lalu pulang.

Tidak ada nongkrong di ruang dosen.

Tidak ada ngobrol santai.

Tidak ada cerita-cerita antar dosen.

Bahkan saya sendiri waktu itu belum benar-benar tahu siapa saja dosen yang satu prodi dengan saya.

Lucunya lagi, homebase saya saat itu masih di Perikanan, padahal bidang keilmuan saya sebenarnya Agribisnis.

Dan di masa itu, saya mendapat mata kuliah: Tingkah Laku Ikan.

Jujur saja, waktu pertama membaca nama mata kuliah itu, saya sempat berpikir: "Memangnya ikan juga perlu diajarkan sopan santun?"

Di kepala saya waktu itu, mata kuliah tersebut terdengar seperti pelajaran pendidikan karakter versi bawah air.

Absurd sekali memang.

***

Setelah pembagian mata kuliah selesai, muncul kebingungan lain.

Saya harus mengajar seperti apa?

Cara menjadi dosen yang benar itu bagaimana?

Apa saja sebenarnya tugas dosen selain masuk kelas?

Waktu itu saya benar-benar buta tentang dunia akademik.

Tentang jabatan fungsional, BKD, penelitian, publikasi, bahkan TRI DHARMA pun saya belum benar-benar memahami.

Saya hanya tahu satu hal: besok harus masuk kelas dan mengajar mahasiswa.

Itu saja.

***

Tahun 2020 menjadi salah satu titik perubahan besar.

Kampus kami akhirnya memiliki gedung sendiri.

Walaupun waktu itu kondisinya masih sangat sederhana. Bangunannya bediri di tengah area persawahan, panas, gersang, dan belum ada AC sama sekali.

Kalau siang, rasanya seperti sedang diuji ketahanan mental sekaligus ketahanan kulit.

Tapi anehnya, justru di tempat baru itulah semuanya mulai terasa lebih hidup.

Kami mulai punya ruang dosen sendiri.

Mulai punya tempat duduk bersama.

Mulai ada obrolan-obrolan kecil sebelum dan sesudah mengajar.

Dan dari obrolan ringan itulah saya mulai belajar banyak hal.

Tentang jenjang karier dosen.

Tentang BKD.

Tentang penelitian.

Tentang pengabdian.

Tentang publikasi.

dan tentang akreditasi.


Saya baru sadar: ternyata menjadi dosen itu banyak sekali "maratonnya".

***

Saya masih ingat ketika pertama kali ingin mengurus jabatan fungsional.

Salah satu syaratnya adalah memiliki publikasi artikel sebagai penulis pertama.

Masalahnya, selama dua tahun mengajar saya belum pernah publikasi sama sekali.

Penelitian belum ada.

Pengabdian pun belum pernah benar-benar dilakukan.

Lalu saya harus menulis apa?

Di titik itulah kami mulai bergerak bersama.

Mulai membuat penelitian sederhana.

Mulai melakukan pengabdian.

Mulai belajar menulis artikel dan membiasakannya setiap semester.

Mulai saling membantu memahami sistem yang sebelumnya terasa rumit.

Dan perlahan-lahan, semuanya mulai berjalan.

***

Sampai akhirnya hari ini, alhamdulillah saya sudah sampai di jabatan lektor.

Kalau dipikir sekarang, perjalanan itu ternyata cukup panjang juga.

Dan yang paling saya syukuri bukan hanya tentang jabatannya.

Tapi tentang orang-orang yang hadir selama prosesnya.

Karena saya akhirnya sadar: dunia akademik tidak bisa dijalani sendirian.

Dosen mungkin terlihat sibuk dengan target masing-masing.

Tapi pada akhirnya, banyak hal hanya bisa dilewati kalau saling membantu.

Saling mengingatkan.

Saling support.

Saling berbagi informasi.

Dan kadang, saling menguatkan saat sama-sama lelah.

***

Semakin lama menjadi dosen, saya justru semakin merasa bahwa lama mengajar bukan berarti paling tahu segalanya.

Kadang dosen yang baru masuk justru punya semangat dan kemampuan yang jauh lebih hebat.

Dan itu tidak masalah.

Karena dunia akademik seharusnya memang bukan tempat untuk merasa paling tinggi.

Melainkan tempat untuk terus belajar.

***

Pada akhirnya, bagi saya menjadi dosen bukan hanya tentang mengajar di kelas.

Ada banyak proses kehidupan yang ikut tumbuh di dalamnya.

Belajar bekerjasama.

Belajar memahami orang lain.

Belajar menerima perbedaan.

Belajar legowo terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan terlalu jauh.

Karena persinggunan antarmanusia pasti akan selalu ada.

Dan mungkin kedewasaan bukan tentang menghindari itu semua.

Tetapi tentang tetap bisa berjalan bersama meskipun isi kepala setiap orang tidak pernah benar-benar sama.

Dan setelah delapan tahun ini, saya akhirnya mengerti satu hal sederhana:

ternyata menjadi dosen bukan soal siapa yang paling pintar berjalan sendiri. Tetapi siapa yang mau tetap belajar, tetap bertumbuh, dan tetap berjalan bersama orang lain.




Belum Selesai Olahraga, Hidup sudah Kasih Plot Twist

Sudah hampir dua minggu saya tidak olahraga.

Bahkan sekadar jalan santai muterin lapangan sepak bola pun tidak sempat. Entah karena hujan yang belakangan rajin datang pagi dan sore, atau karena pulang dari kampus selalu sudah terlalu petang untuk memulai olahraga.

Weekend pun ikut lewat begitu saja.

Kadang ada anak yang sakit.

Kadang ada urusan pergi.

Kadang memang tubuh dan pikiran sama-sama memilih rebahan dibanding bergerak.

Dan akhirnya, efeknya mulai terasa.

Badan pegal-pegal. Tidur tidak nyaman. Mood gampang naik turun. Pokoknya tubuh mulai protes seperti mahasiswa yang revisinya belum disentuh dosen pembimbing.

***

Hari ini kebetulan tanggal merah.

Dalam hati saya sudah membayangkan: "Ah, akhirnya bisa olahraga sebentar buat menyelamatkan kewarasan".

Walaupun ya... sebagai ibu dengan tiga anak, konsep me time itu sebenarnya cukup abstrak.

Karena bahkan saat ingin  olahraga sendiri pun, tetap ada kemungkinan berangkat bersama anak-anak.

Dan benar saja. Akhirnya saya pergi ke lapangan ditemani dua anak. 

Jujur saja, sebenarnya ada sedikit rasa malas membawa mereka.

Bukan karena tidak senang bersama anak, tapi karena pengalaman selalu mengajarkan: kalau dua anak sudah berkumpul di satu tempat, kemungkinan damai itu tipis.

Biasanya ada saja yang bikin: rebutan; nangis; ngambek; atau tiba-tiba minta pulang saat saya baru mulai pemanasan.

Tapi ya sudahlah.

Kalau ditinggal di rumah juga kasihan uti dan akungnya. Di rumah masih ada si bungsu yang memang tidak saya ajak ke lapangan.

Akhirnya, berangkatlah kami bertiga pagi tadi.

***

Saya mulai berjalan memutari lapangan seperti biasa.

Baru putaran pertama, si kakak bilang, "ummi, pipis".

Subhanallah.

Untung saja ada masjid di depan lapangan. Jadi olahraga pagi ini resmi dimulai dengan menemani anak ke toilet.

Selesai urusan pipis, lanjut lagu muter lapangan.

Dan jujur, memulai olahraga lagi setelah lama berhenti ternyata berat juga. Badan rasanya seperti sedang negosiasi.        

"Yakin mau lanjut?"

"Rebahan aja gimana?"

Tapi, ya harus semangat kan?

Putaran kedua aman.

Putaran ketiga juga masih terkendali.

Masuk putaran keempat, tiba-tiba langkah terasa aneh.

Ada yang terasa longgar di kaki. 

Saya lihat ke bawah.

Dan ternyata....

Sepatu saya copot bagian alasnya. Benar-benar mangap. Persis seperti orang kelaparan yang belum makan dua hari.

Ya Allah...

target jalan kaki belum tercapai, sepatu sudah menyerah duluan.

Sepertinya dia juga kaget melihat pemiliknya tiba-tiba semangat olahraga lagi setelah jeda hampir dua minggu.

Sepatu dah mangap kelaperan

***

Tapi karena semangat masih ada, saya lanjut saja berjalan.

Dengan teknik baru tentunya: lari kecil sambil berharap injakan kaki bisa membuat sepatu "ngelem sendiri".

Tidak ilmiah memang. Tapi kadang manusia memang suka berharap pada hal-hal yang tidak masuk akal.

Sementara itu, anak-anak duduk menunggu di motor sambil sesekali memperhatikan saya yang berjalan dengan sepatu setengah pensiun.

Dan entah kenapa, di momen seperti itu saya merasa hidup memang lucu.

Dulu waktu belum punya anak, olahraga tinggal pakai sepatu lalu pergi.

Sekarang?

Olahraga bisa berubah menjadi: nemenin pipis, melerai anak, ngejar target langkah, sambil memastikan sepatu tidak benar-benar tercerai-berai di tengah lapangan.

***

Akhirnya saya bertahan sampai putaran ketujuh.

Tubuh mulai lelah.

Nafas mulai berat.

Saya pun duduk sebentar untuk istirahat.

Lalu.. Handphone berdering.

Dan biasanya, seorang ibu tahu: telepon di saat seperti itu jarang membawa kabar santai.

Benar saja.

Dari rumah dikabarkan si bungsu demam dan muntah-muntah.

Di titik itu saya cuma diam sebentar, sambil sinar matahari membelai lembut wajah yang berkeringat.

Hmmm... cobaan apa lagi ini ya Allah?

Libur yang sebelumnya saya bayangkan akan diisi dengan sedikit ketenangan, olahraga, dan me time, mendadak berubah menjadi mode siaga.

Dan anehnya, kehidupan ibu-ibu memang sering seperti itu.

Kita merencanakan istirahat.

Tapi hidup punya agenda lain.

***

Namun di perjalanan pulang tadi saya berpikir satu hal.

Mungkin bagi seorang ibu pekerja, terutama yang juga menjadi dosen, hidup memang jarang benar-benar tenang.

Selalu ada yang dipikirkan.

Selalu ada yang dikerjakan.

Selalu ada yang diprioritaskan sebelum diri sendiri.

Kadang kita hanya ingin satu jam saja untuk bernafas pelan, olahraga santai, atau menikmati pagi tanpa drama.

Tapi seringkali, justru di tengah kekacauan kecil itulah hidup berjalan.

Di antara sepatu copot.

Anak pipis mendadak.

Target olahraga yang tidak tercapai.

Dan telepon dari rumah yang membuat langkah harus segera dipercepat pulang.

Mungkin memang begitu bentuk kehidupan seorang ibu.

Tidak selalu rapih.

Tidak selalu sesuai rencana.

Tidak selalu tenang.

Tapi tetap dijalani.

Tetap diusahakan.

Tetap kuat, meskipun sambil menghela nafas panjang.

Dan saya rasa, itu juga bentuk cinta yang paling sederhana.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             

Catatan Kecil Setelah Menguji Skripsi

Kenapa Ruang Ujian Skripsi Selalu Terasa Lebih Panas?

Ruang ujian skripsi selalu terasa berbeda.

Entah kenapa, meskipun pendingin ruangan menyala sejak pagi, suasananya tetap terasa lebih panas dibanding hari-hari biasa. Mungkin bukan karena suhu ruangan yang berubah, melainkan karena ada banyak kepala yang dipenuhi kecemasan di dalamnya.

Dalam pandangan saya, mahasiswa yang akan menjalani sidang skripsi seharusnya sudah cukup siap. Mereka sudah melewati proses panjang: menyusun penelitian, revisi berkali-kali, bertemu dosen pembimbing, memperbaiki kesalahan kecil yang tidak pernah benar-benar habis. Bahkan mungkin ada yang semalaman berlatih presentasi di depan cermin atau membaca ulang isi skripsinya sampai dini hari.

Namun anehnya, ketika sudah duduk di kursi sidang, semua persiapan itu kadang seperti menguap begitu saja.

Jawaban yang sebelumnya terasa lancar mendadak sulit keluar. Tangan mulai dingin. Nada bicara berubah. Pikiran-pikiran sebelum masuk ruang sidang sering kali lebih kuat dibanding kesiapan yang sudah dibangun jauh-jauh hari.

Mungkin memang seperti itu rasanya diuji.

Bukan hanya diuji tentang isi skripsi, tetapi juga diuji tentang seberapa tenang seseorang menghadapi rasa takutnya sendiri.

***

Ada satu bagian dari sidang skripsi yang selalu saya sukai.

Bukan ketika mahasiswa mempresentasikan hasil penelitiannya. Bukan juga saat penguji mulai melontarkan pertanyaan demi pertanyaan.

Melainkan bagian akhir, ketika suasana mulai sedikit mencair dan percakapan perlahan bergerak ke arah yang lebih personal.

Di sesi itu, mahasiswa biasanya tidak lagi berbicara sebagai peserta sidang. Mereka mulai berbicara sebagai manusia yang sedang menyelesaikan satu fase penting dalam hidupnya.

Di situlah sering muncul cerita-cerita yang sebelumnya tidak pernah terlihat.

Tentang perjuangan yang diam-diam dipikul sendiri.
Tentang rasa lelah yang disembunyikan di balik senyum.
Tentang orangtua yang terus berusaha mendukung meskipun keadaan tidak selalu mudah.

Dan di bagian itu pula, saya sering merasa bahwa air mata kadang mampu menjelaskan banyak hal yang tidak sanggup disampaikan kata-kata.

***

Siang kemarin, di sebuah ruang sidang yang sebenarnya cukup dingin, seorang mahasiswa diminta menyampaikan beberapa kalimat setelah sidangnya selesai.

Awalnya semua berjalan biasa saja.

Ucapan terima kasih mengalir lancar dari bibirnya. Ia berterima kasih kepada dosen penguji, dosen pembimbing, dan semua orang yang sudah membantunya sampai di titik itu.

Namun suasana mulai berubah ketika ia mengucapkan kata:
“maaf.”

Kata itu ditujukan kepada dosen pembimbingnya.

Dengan suara yang mulai pelan, ia merasa belum mampu memberikan jawaban terbaik selama sidang berlangsung. Setelah itu, matanya mulai memerah. Beberapa kali ia mencoba menahan tangis, tetapi suaranya mulai bergetar.

Sebagai ketua sidang, saya melihat ada sesuatu yang jauh lebih besar dibanding rasa gugup karena ujian.

Barangkali ada rasa takut mengecewakan.
Barangkali ada rasa lelah yang selama ini ditahan sendiri.

Atau mungkin, ada perasaan bahwa semua perjuangan ini belum benar-benar mampu membalas pengorbanan orangtuanya.

***

Saya kemudian bertanya kepadanya,
“Apa yang ingin kamu sampaikan kepada orangtua di rumah?”

Ruangan mendadak menjadi lebih sunyi.

Ia terdiam cukup lama.

Sampai akhirnya, dengan suara yang mulai terbata karena tangis yang tidak lagi bisa disembunyikan, ia berkata,

“Terima kasih ibu yang sudah mensupport saya sejauh ini.

Maaf kalau sampai sekarang saya masih menjadi beban orangtua.”

Setelah kalimat itu selesai diucapkan, ia kembali diam.

Dan entah kenapa, kalimat itu terasa tinggal cukup lama di dalam kepala saya.

***

Benarkah seorang anak adalah beban bagi orangtuanya?

Saya rasa banyak anak diam-diam pernah memiliki perasaan itu. Terutama ketika melihat orangtuanya bekerja terlalu keras, mengorbankan banyak hal, sementara dirinya sendiri merasa belum mampu memberikan apa-apa.

Padahal mungkin, menjadi anak bukan tentang seberapa cepat bisa membalas semua pengorbanan.

Karena di saat seorang anak sedang belajar menjadi dewasa, orangtua pun sebenarnya sedang belajar menjadi orangtua.

Kalimat dari dosen pembimbingnya siang itu terasa sangat menenangkan.

“Jangan pernah merasa menjadi beban bagi orangtua.

Maafkan orangtua jika dalam bersikap mereka sering lupa bahwa kamu juga baru pertama kali menjadi anak.

Dan maafkan juga orangtua, karena menjadi orangtua pun adalah proses yang baru pertama kali mereka jalani.”

Setelah kalimat itu selesai diucapkan, ruang sidang terasa berubah.

Bukan lagi sekadar ruang ujian skripsi.

Melainkan ruang kecil tempat manusia saling memahami luka, perjuangan, dan perannya masing-masing dalam hidup.

Dan mungkin memang begitu hidup berjalan.

Kita semua sebenarnya sedang belajar menjalani peran yang belum pernah kita jalani sebelumnya.



MENJELANG UMUR 40 TAHUN, HATI-HATI DIINTAI OLEH KOLESTROL

Hai, aku seorang perempuan yang saat ini usiaku mulai merangkak mendekati angka 40 tahun. Di usia yang saat ini di angka 36 tahun, banyak sekali keluhan yang mulai aku rasakan terutama untuk kesehatan. Yang pasti dan sering bahkan setiap bulan menghampiriku adalah keluhan demam, pusing, batuk dan pilek. Penyakit ini hadir tidak hanya mengghinggapi diriku, tetapi juga anak-anakku dan seisi rumah. Memang dari dulu yang namanya flu itu sudah pasti mudah tertular kalau aku. Sejak jaman gadis dan masih sekolah, kalau sudah ada yang kena pilek dan batuk.. hem, jangan nunggu lama, setelah berinteraksi aku akan langsung tertular. Bahkan untuk sembuh, minimal waktu yang aku butuhkan adalah dua minggu, pernah juga sampai sebulan bahkan beberapa bulan. Entah deh, sangkking seringnya kadang malas untuk berobat. Atau, berobat tapi obatnya tidak diminum. Yang penting sudah ke dokter, diperiksa dan dikasih obat. Hadeeeh...

Nah, sekarang ini keluhanku makin banyak. Keluhan yang cukup intens adalah masuk angin dan asam lambung. Penyakit asam lambung atau magh ini sudah aku idap sejak gadis. Jaman masih gadis kalu magh sudah kambuh, bisa-bisa ngguling-ngguling di atas kasur. Karena sesak di bagian ulu hati, dan lambung benar-benar krues-krues sampai muntah. Dan, asam lambung ini terus aku rasakan bahkan sejak menikah dan memiliki anak. Tapi, kalau saya amati, untuk kurun waktu setahun sampai dua tahun ke belakang ini asam lambung saya jarang kambuh dan kalau kambuh tidak melilit seperti jaman gadis atau awal berumah tangga. Alhamdulillah. Kalau ditanya obatnya apa? Sepertinya nggak ada khusus menelateni minum herbal apapun. Saya hanya menjaga pola makan agar tidak terlambat setiap waktunya. Makan tiga kali sehari. Meskipun untuk porsi dan menunya belum bisa saya kontrol.

Selanjutnya, saat ini saya sering merasa pegal linu di beberapa tempat di bagian tubuh. Area pinggang dan pinggul, area pundah dan leher, area lutut, dan area pergelangan tangan dan jari-jari tangan. Keluhan ini makin intens dirasakan setelah memiliki anak ke-tiga. Mungkin karena saya kehilangan banyak kalsium selama proses hamil dan menyusui, tanpa saya  imbangi dengan asupan bergizi dan olahraga teratur. Selain itu juga, saya sering merasa kesemutan atau kebas di area kaki dan tangan. Gringgingan kalau orang bilang. Baru duduk sebentar sudah kesemutan. Sebetulnya keluhan-keluhan ini sudah saya sadari sejak lama. Selama ini saya menduga-duga sebenarnya sakit apa dan saya tidak banyak melakukan perubahan terutama untuk pola hidup saya. Sampai di empat hari yang lalu, saya betul-betul merasa takut karena rahang (area dagu) tiba-tiba seperti mengeras, tegang, kaku, pegel, meskipun saya hanya terdiam (tidak bicara, tidak makan atau bergerak). Sementara dibagian atas kelopak mata, rasanya tegang juga. Ditambah area leher dan pundak yang juga kenceng dan sangat kaku. Tanpa ba bi bu lagi karena merasa sudah tidak nyaman, sebelum kerja saya sempatkan mampir ke bidan untuk periksa. 

Sesampainya di bidan, saya ungkapkan setiap keluhan-keluhan yang saya rasakan dan bidan menyarankan tes kolestrol. Tidak disangka setelah di tes, kolestrol saya di angka 237 dengan tensi darah 120/70. Saat itu, saya benar-benar kaget karena kolestrol saya sangat tinggi (normally di bawah 200). Pantas saja semua tubuh terasa kaku terutama di bagian pundak dan leher, rahang dan area mata. Kalau kliyengan dan pusing sih tidak terlalu saya rasakan. Tapi memang tidak nyaman sama sekali. Untuk bekerja di hari itu, saya sudah merasa tidak nyaman. Ada 5 macam obat yang diberikan oleh bidan, yaitu:

1. Obat asam lambung (Triocid, Suspensi, 60 ml, Zennith) >> 3x1 sebelum makan

2. Vitamin (Neurodex) >> 1x1

3. Obat nyeri rahang (tidak ada nama dan merk) >> 2x1

4. Obat kolestrol (Simvastatin, Selvim,20 mg) >> 1x1

5. Kalsium (Calcifar) >> 1x1

Hari pertama sampai hari keempat (hari ini) saya masih merasakan rahang mengeras, dan bagian mata atas itu pusing. Kepala masih sempoyongan. Semacam hilang timbul begitu sebenarnya, tapi yang jelas di badan tidak nyaman dan tidak fresh. Saya sudah minum rebusan daun salam, jahe dan serai. Dua gelas per hari. Dan hari ke-empat ini tadi saya mulai berjalan kaki. Setelah mengitari lapangan bola sebanyak 5x, memang di badan merasa lebih segar. Hanya saja di kepala ini masih terasa berat. Terutama area rahang dan mata serta leher dan pundak.

Mmmm... disadari atau tidak, saya meyakini bahwa harus ada perubahan pola hidup ke arah yang lebih baik. Atur menu makanan yang dimakan, atur istirahat, dan yang pasti atur pikiran dan emosi. Karena, saya mengamati diri saya sendiri, emosi saya beberapa tahun ke belakang tidak stabil. Efeknya ke anak-anak saya. Saya mudah marah, mudah teriak, dan sulit mengendalikan emosi terlebih kalau ketiga anak saya banyak tingkah. Di satu sisi saya butuh istirahat setelah pulang kerja, tapi di satu sisi anak saya banyak tingkah karena mungkin ingin bermain bersama uminya. Apapun itu, saya berharap setelah ini ada perubahan di diri saya ke arah yang lebih baik. Saya ingin sehat dan hidup lebih lama. Saya harus memupuk tekad untuk mulai sadar kesehatan dengan menjaga pola makan, pola istriahat, dan juga olahraga teratur. Ya Allah, sehatkan badanku, sehatkan pendengaranku, sehatkan penglihatanku. Allahumma baarik.  

Membangun Kebersamaan Dalam Ruang Kerja

Hallo, salah satu kebutuhan dasar manusia adalah adanya ruang yang nyaman dan apresiasi dalam hidup manusia. Menjadi pekerja adalah sunnatullah yang tidak bisa lepas dari seorang manusia. Siapapun ia, bekerja adalah aktivitas yang harus dilakukan demi untuk mendapatkan pundi-pundi untuk menyambung kehidupan. Bekerja adalah aktivitas harian, rutinitas yang akan selalu kita lalui hampir di setiap harinya. Oleh karenanya, banyak orang yang resign dari suatu pekerjaan karena tidak nyaman lagi baginya untuk ada di tempat itu. Tidak sedikit orang yang beralih profesi karena rasa yang tidak nyaman lagi di profesi yang lama. Ketidaknyamanan disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah ruang pertemanan. 

Sama hal nya dengan seorang dosen. Salah satu kenyamanan di tempat bekerja adalah interaksi dan komunikasi yang baik antar sesama dosen. Teman-teman dosen adalah partner kita untuk menyelesaikan tugas-tugas tri dharma yang sangat banyak. Sulit rasanya bagi seorang dosen untuk bekerja sendiri tanpa bantuan dari rekan-rekan seprofesi yang ada di instansi mengajar. Oleh karena itu, merawat pertemenan sesungguhnya adalah menciptakan ruang yang nyaman untuk kita bisa tumbuh dan berkembang dalam profesi yang kita geluti.

Foto Pagi Hari Sebelum Mulai Mengajar

Hal yang paling menyenangkan bagi saya selama mengajar dan menjadi dosen di UNU Lampung adalah rasa kekeluargaan dan pertemanan yang terbangun dengan baik. Khususnya di Fakultas Pertanian Perikanan dan Peternakan UNU Lampung. Rasa kekeluargaan ini kami tunjukkan dengan komunikasi dan interaksi yang tidak kaku dan tidak terlalu formal. Barangkali karena usia kami yang masih sebaya. Selain itu, mengadakan acara-acara syukuran kecil-kecilan sering dilakukan untuk membangun kebersamaan.

Acara Syukuran Bu Suci Hardina karena mendapatkan beasiswa S3 dari BAZNAS

Hal-hal kecil lainnya adalah ketika saling membawa dan berbagi cemilan. Makan bersama dan mengadakan kegiatan di luar pengajaran bersama-sama. Saling berkunjung ketika ada salah satu dosen yang memiliki hajat atau ditimpa musibah adalah cara kami membangun kebersamaan. Kami juga saling bercerita tentang berbagai pengalaman kehidupan dan sesekali keluhan-keluhan di rumah tangga. hehehehe...


Takziyah di rumah orangtua Pak Rohmatul Anwar karena Ayahanda Meninggal Dunia

Kami juga saling support ketika ada satu capaian yang ingin kami kejar seperti saat penyusunan berkas-berkas untuk setifikasi dosen. Kami saling memotivasi para dosen yang akan mengajukan serdos, mengerjakan bersama-sama di kampus untuk kelancaran penyusunan serdos. Masih banyak lagi yang sudah kami lakukan untuk saling membangun ruang kebersamaan ini. Saya berharap ke depannya komunikasi dan interaksi diantara kami semakin lebih baik agar kami juga semakin nyaman berada di tempat bekerja saat ini.


Dilema Dosen Dalam Mengevaluasi Hasil Belajar Mahasiswa

Sebagai dosen, kadangkala kita mengalami dilema soal pemberian nilai kepada mahasiswa. Apalagi kalau mengajar di kampus swasta. Tidak semua kampus swasta memang "mudah" dalam memberikan penilaian hasil kinerja mahasiswa. Akan tetapi, sudah menjadi rahasia umum, di kampus swasta cenderung mudah untuk mendapatkan nilai lebih baik dibandingkan kampus negeri. Namun demikian, setiap pribadi dosen memiliki prinsip masing-masing. Ada dosen yang mengajar di kampus swasta, tapi pemberian nilai tetap harus melalui prosedur yang seharusnya. Ada dosen yang memang "tidak pelit" dalam memberikan nilai, yang penting rajin berangkat mahasiswanya. 

Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas

Untuk tipe dosen yang pertama, saya rasa saya adalah salah satunya. Saya adalah dosen yang tidak segan memberikan nilai D dan E kepada mahasiswa saya. Kenapa tidak? Karena memang mahasiswa tersebut tidak pernah masuk, nilai tugas tidak ada, hanya datang saat UTS dan PAS, itu pun nilai UTS dan PAS nya tidak bagus. Mungkin karena tidak pernah berangkat kuliah, jadi tidak tahu harus menjawab apa pada lembar jawabnya. Dalam memberikan penilaian-sebagai evaluasi hasil belajar- mahasiswa tentu ada tata caranya. Salah satunya, di awal pembelajaran kita sudah menyepakati persentase pembagian dari setiap poin yang dinilai seperti kehadiran, tugas, UTS dan PAS. Setelah satu semester berlalu, dan hasil belajar mahasiswa kita evaluasi, tentu kita akan mendapatkan data nilai mata kuliah yang kita ampu dari mahasiswa kita. Sedih rasanya, jika rata-rata nilai kelas pun sangat rendah. Seringkali saya merenung, apakah ini kesalahan saya sebagai dosen? Mengapa mahasiswa saya nilainya banyak yang rendah? Apakah cara mengajar saya salah? Apakah saya harus mengganti metode belajar saya? Di sisi lain, bahan ajar sudah saya berikan sebelum pembelajaran diimulai, yakni di elektronik website akademik (smartunulampung). Harusnya, mahasiswa bisa mempelajari atau membaca sebelum kelas dimulai. Saya pun selalu bertanya di dalam kelas, adakah yang tidak jelas
dengan penjelasan saya? Ada yang mau ditanyakan? Tetapi, seringkali tidak ada respon dari mahasiswa. Mahasiswa diam, saya pun menganggap mereka sudah paham dengan penjelasan saya. Walau sebenarnya saya juga ragu, apa benar mereka sudah paham. Setiap minggu, saya juga memberikan tugas mandiri. Harapan saya, dengan tugas mandiri ini mahasiswa bisa belajar di rumah. Membuka catatan di kelas, dan kemudian membaca bahan ajar yang sudah saya berikan. Tapi, jika ternyata nilai akhir dari mata kuliah itu rendah, bahkan rata-rata nilai kelas, lalu bagaimanakah ini? Apakah soalnya terlalu sulit? Padahal soal yang saya berikan sudah saya ukur sesuai dengan kemampuan mahasiswa. Soal yang saya berikan, sudah saya ulas di dalam kelas. Juga sudah dikerjakan mahasiswa sebagai tugas mingguan. Hmmm... Jadi apa penyebab yang sebenarnya? Adakah mahasiswa yang malas belajar? Beberapa mata kuliah bahkan ujiannya dilaksanakan secara open book, tapi kenyataannya nilai yang didapatkan juga rendah. Kalau sudah begini, alamat dosen kerja dua kali. hehehe...

Ya, saya selalu memberikan kesempatan perbaikan nilai kepada mahasiswa saya. Durasi waktunya, biasanya satu minggu sejak nilai terpublikasi di Sistem Langitan. Dalam satu minggu, mahasiswa saya minta untuk mengerjakan perbaikan. Setiap mahasiswa akan berbeda-beda penugasannya tergantung dari poin mana yang rendah (tugas, UTS atau PAS). Setelah satu minggu, mahasiswa yang tidak melakukan perbaikan ya nilai di sistem langitan akan apa adanya. Jika ada perubahan, berarti bukan saya yang merubah. Sudah di luar tanggung jawab saya sebagai dosen. Penilaian saya terhadap mata kuliah yang saya ampu biasanya terdiri dari: kehadiran 10%, tugas 25%, UTS 30% dan PAS 35%. Persentase ini bisa berubah sesuai dengan kesepakatan mahasiswa di awal kontrak perkuliahan. 

Menurut saya, metode evaluasi yang saya lakukan efektif bagi mahasiswa agar di semester selanjutnya memperbaiki sikap dan perilakunya dalam belajar. Karena tidak hanya satu semester bukan mahasiswa akan bertemu saya? Jadi saya menekankan bahwa metode pembelajaran yang saya lakukan "seperti ini", dimana tugas mingguan selalu ada. Maka, mahasiswa harus bisa menyesuaikan. 

Pada dasarnya, proses pembelajaran ini tidak semata-mata untuk melihat capaian nilai dalam wujud angka pada mata kuliah yang saya ampu. Tetapi saya melihat proses mereka, kesungguhan mereka dalam belajar, dan usaha mereka dalam memaksimumkan kemampuannya. Hal ini berguna bagi saya, pada saat membimbing mahasiswa skripsi, saya akan tahu siapa saja mahasiswa yang "berpotensi" untuk diberikan judul penelitian yang secara level lebih rumit. Tentu saja bukan dalam rangka mempersulit mahasiswa, tentu bukan. Sebagai dosen kita pasti tahu, setiap Program Studi memiliki rencana strategis penelitian. Capaian penelitian yang harus dicapai, untuk nantinya digunakan dalam akreditasi program studi. Kaitannya dengan mahasiswa adalah, tentu justru akan menyulitkan nantinya ketika kita memberikan judul skripsi yang dimana kemampuan mahasiswa belum "layak" mengerjakan judul tersebut. Ini bisa kita lihat dari "keseharian" mereka dalam mengikuti pembelajaran selama kurang lebih 7 semester. Mahasiswa yang tidak pernah hadir, sebut saja mahasiswa "siluman", kemudian ketika tiba waktunya skripsi kita berikan judul skripsi yang levelnya menengah ke atas, tentu akan menyulitkannya. Oleh karena itu, penting bagi dosen untuk mengetahui karakter dan juga perilaku mahasiswanya dalam proses pembelajaran. Semoga cerita singkat ini bisa memberikan gambaran bagi rekan-rekan dosen baru untuk menentukan sikap dan keputusannya terutama dalam evaluasi hasil pembelajaran mahasiswanya.




SENANGNYA BISA LULUS SERDOS

Sejak TMT 2017, tahun 2024 alhamdulillah saya baru dinyatakan lulus dalam seleksi kompetensi dosen atau sertifikasi dosen. TMT saya memang 2017, tetapi saya diberikan mata kuliah untuk mengajar baru 2019. Hal ini karena program studi yang menaungi saya baru dibuka/berdiri tahun 2019. Kemudian tahun 2021 saya lulus dalam jabatan fungsional asisten ahli dan dua tahun kemudian yakni pada 2023 saya baru bisa mengajukan serdos. Syarat serdos salah satunya adalah dua tahun dari inpassing asisten ahli. 

Pengajuan serdos dilakukan melalui sister kemendikbud. Waktu itu saya eligible untuk pengajuan serdos di bulan Agustus 2023. Ada kurang lebih 8 orang dari kampus kami yang sudah eligible. Pada saat pengumuman, hanya dua orang yang lulus yaitu yang sudah S3. Sementara kami, 6 orang lainnya belum S3. Data yang sudah masuk di sister, tetap tersimpan dan kemudian data kami diproses di periode berikutnya yaitu periode 0 di awal tahun 2024. 

Seperti mendapatkan durian runtuh, tengah malam grub whatsup ribut karena sudah pengumuman serdos gelombang 0 tahun 2024. Sementara, saya baru check hp di pagi hari karena sudah kelelahan mengurus anak dan rumah. Qodarullah, sinyal di rumah jelek sekali. Teman saya, 5 orang yang lain sudah dinyatakan lulus serdos. Tinggalah saya sendiri yang belum tahu hasilnya karena harus di check di akun sister masing-masing. Pagi hari jam 8, alhamdulillah berhasil membuka sister dan ternyata saya dinyatakan LULUS SERDOS!!

Lulus serdos menurut saya hadiah luar biasa, khususnya bagi dosen di kampus swasta yang belum lama berdiri. Tidak dipungkiri, gaji dosen memang tidak pernah besar baik di swasta maupun di negeri. Dan serdos adalah sumber pendapatan lain yang bisa kita terima untuk menunjang kebutuhan hidup para dosen. Namun, di luar dari itu, mendapatkan sertifikasi dosen artinya kerja kita harus lebih besar. Kinerja harus ditingkatkan. Prestasi harus dikembangkan. Dan kemampuan akan tri dharma juga harus ditingkatkan.

Setiap dosen yang mengajukan serdos juga pasti mempunyai cerita sendiri, cerita yang mengharukan, baik sedih ataupun senang pada saat proses pengajuannya. Begitupun dengan saya. Jika boleh mengenang, H-1 dari hari terakhir pengajuan, video microteaching yang sudah saya upload di youtube harus diperbaiki karena durasi waktu yang terlalu pendek. Tidak mudah mengedit video microteaching. Tidak hanya saya, teman-teman saya pun juga harus mengedit video tersebut. Kami pun lembur di kampus untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Meski harus memaksa badan yang sudah sangat lelah, alhamdulillah video itu kelar juga di tengah malam. Sebelum jam 12 malam, video saya sudah selesai  reupload di youtube. Sungguh perjuangan yang mengharukan bila diingat-ingat ^-^

Idul Fitri 1445H, Lebaran Paling Menyedihkan

 

Lebaran Idul Fitri 2024 terasa sepi karena bapak dan ibu di rumah sakit

Idul Fitri adalah hari yang identik dengan kebahagiaan. Setelah puasa selama satu bulan penuh, idul fitri dinanti-nanti untuk bisa saling berkumpul dan silaturrahim dengan keluarga, kerabat dan sahabat. Bahkan sejak jauh-jauh hari kita sudah mempersiapkan baju lebaran, angpau, kue-kue lebaran untuk persiapan idul fitri. Walau pengeluaran biasanya jauh membengkak, tapi justru jebahagiaan yang kita rasakan.

Pun dengan idul fitri tahun ini, suami saya libur lebih lama dibandingkan lebaran-lebaran sebelumnya. Bayangan ingin berkunjung ke rumah teman-teman sudah direncanakan. Tetapi qodarullah, lebaran tahun ini justru kami terbaring sakit, terpapar DBD. 

Awal mula yang terkena DBD adalah adik saya, bahkan harus rawat inap di rumah sakit dua hari sebelum lebaran. Jadilah bapak dan ibu saya menunggu adik saya di rumah sakit. Hmmm... Begini ya rasanya lebaran pertama tidak ada bapak dan ibu di rumah. Selesai sholat idul fitri, saya dan suami berkunjung ke rumah sakit untuk berlebaran dengan bapak dan ibu. Sorenya, ternyata adik saya sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah.. Esok harinya, lebaran kedua, bapak munta-muntah, demam, menggigil dan pusing. Lalu malamnya, berangkat ke rumah sakit dan harus opname. Jadilah, bapak dan ibu bermalam lagi di rumah sakit. Esok harinya, giliran saya yang demam, menggigil, dan pusing sekali. Ya, tepat lebaran ketiga, saya sakit dan tidak bertenaga. Saya pun periksa dan check darah di rumah sakit. Hasilnya trombosit turun dan harus dirawat inap. Saya menolak, karena saya memiliki bayi di rumah. Di lain itu, adik saya yang baru pulang dari rumah sakit belum sembuh total. Suami dan anak-anak saya tidak mungkin saya tinggal. Saya pun tidak ada yang menemani kalau dirawat di rumah sakit 😓 Jadi saya memutuskan untuk rawat jalan.

Hari kelima ibu saya pulang dari rumah sakit, dengan tujuan merawat saya di rumah sehingga suami bisa fokus ke anak-anak. FYI, suami sebetulnya juga sudah habis cuti dan harus kembali bekerja. Tapi saya tahan karena di rumah benar-benar tidak ada yang bisa merawat saya atau menemani saya menjaga anak-anak. Lebaran keenam, gantian ibu saya yang demam, menggigil, pusing dan lemas. Siang bapak pulang dari rumah sakit, malamnya ibu berangkat ke rumah sakit untuk opname. Subhanallah, benar-benar lebaran yang menyedihkan dan tidak terduga kami akan sakit bergiliran seperti ini. Bersyukur, anak-anak saya tidak sampai demam dan sakit. 

Sepuluh hari berlalu sejak idul fitri, suami pun sudah pulang ke bekasi untuk bekerja. Hari-hari sudah seperti biasa karena kegiatan belajar mengajar di kampus sudah masuk. Seketika saya di telpon ibu mertua, suami di rawat di rumah sakit karena types. Ya Allah, tenang-tenang-tenang. Semua ujian kesulitan akan diikuti dengan kemudahan. Ya sudah karena saya dan suami berjauhan, saya putuskan tidak pulang ke bekasi. Jadi suami ditemani ibu mertua di rumah sakit. 

Alhamdulillah, sekarang semua sudah sehat. Tinggal anak-anak yang masih ada sisa-sisa pilek dan batuk dari minggu lalu. Ya Allah, semoga anak-anak, saya dan suami serta keluarga besar diberikan kesehatan agar bisa menjalani hari-hari dengan bahagia. Aamiin ya Rabb.

Testimoni SKB Wawancara CPNS DOSEN 2023

Hallo sobat dosen atau calon dosen semua. Tahun ini, adakah yang sama seperti saya mengikuti CPNS Dosen? Di tahun ini, saya mencoba lagi untuk kali ke-7 mengikuti CPNS 😋 Sudah banyak ya... Bagaimana dengan sobat semua? Semoga lulus ya kita di CPNS tahun 2023 ini. Tahun 2018 saya sudah pernah mengikuti CPNS dosen, sudah sampai tahap akhir yaitu SKB. Hanya saja nilai akhir saya lebih rendah dari saingan saya, sehingga saya tidak lolos. Tahun 2019 dan 2021 saya mengikuti CPNS juga, tapi saya mengambil formasi fungsional. Entah salah strategi atau memang belum rezeki, saya juga tidak lolos SKB karena tidak lulus rangking walau sebenarnya lulus passinggrade. Tahun 2023 ini saya akhirnya memutuskan untuk mengambil formasi dosen. Di tahun ini, usia saya menginjak 34 tahun, setahun lagi sudah tidak bisa mengikuti CPNS. Hehehehe...

Alhamdulillah CPNS tahun ini saya lolos passinggrade untuk SKD dan maju ke tahap selanjutnya yaitu SKB. Hari ini, Senin 11 Desember 2023 adalah jadwal SKB wawancara. Tidak terlalu banyak yang saya persiapkan hanya lihat di youtube tips-tips menjawab interview, dan mencari tahu apa saja yang sekiranya akan ditanyakan pada saat wawancara. Wawancara SKB dilaksanakan secara daring menggunakan aplikasi zoom. Perasaan nervoeus sudah hadir sejak sehari sebelum wawancara, bahkan mungkin sampai tegangnya sampai hadir di mimpi saat tidur lho sobat  😂

Tiga puluh menit sebelum mulai saya sudah standbye di zoom. Panitia membuatkan beberapa ruang zoom untuk kita sebelum sampai pada tahap wawancara dengan pewawancara. Setidaknya ada 4 ruang yaitu ruang tunggu, ruang validasi, ruang token dan ruang wawancara. Di ruang tunggu panitia memastikan kita mendengar apa yang mereka sampaikan. Panitia juga meminta kita untuk mengisi fakta integritas. Kemudian di ruang validasi panitia meminta kita menunjukkan KTP dan kartu ujian SKB. Di ruang token panitia memberikan kode token untuk masuk ke ruang wawancara. Dan ruang terakhir adalah ruang wawancara, tempat dimana pewawancara akan mengajukan berbagai pertanyaan.

Sobat dosen penasaran dengan apa saja pertanyaan wawancara yang diajukan? Sebelumnya, ada penyesalan dari saya pada saat masuk ke ruang wawancara saya tidak mengenali dan tidak mengetahui nama pewawancara. Mereka juga tidak memperkenalkan diri mereka, sehingga saya tidak menyapanya dengan menyebut nama mereka. Jadi, untuk sobat calon dosen yang masuk sampai tahap wawancara ada baiknya mencari tahu terlebih dahulu petinggi kampus yang akan kita tuju. Sebetulnya saya sudah mencari tahu sebelumnya, tapi di luar dugaan, saya kira pewawancara adalah wakil direktur bidang kemahasiswaan dan kajur dari prodi yang saya inginkan. Ternyata, yang mewawancarai saya adalah wakil direktur bidang kerjasama dan satu lagi ibu-ibu tapi saya tidak tahu.

Baik sobat, berikut ini adalah daftar pertanyaan yang saya ingat dan ditanyakan pada saat interview CPNS SKB Dosen. Semoga daftar pertanyaan ini membantu sobat yang sedang berupaya untuk melamar dosen baik itu CPNS atau non-PNS. Adapun untuk jawaban, sobat bisa menyusun atau menuliskannya sendiri menurut pendapat sobat sekalian. Karena menurut saya setiap orang memiliki situasi dan alasan yang berbeda-beda. Semoga membantu ya 😊

  1. Perkenalkan diri anda
  2. Pengertian toleransi dan contohnya
  3. Saya pernah tidak melanggar peraturan sebagai dosen
  4. Saya memiliki masalah atau konflik tidak dengan teman kerja
  5. Saya pernah tidak mendapatkan perintah dari atasan secara mendadak dan tidak mengerjakan perintah atasan
  6. Jika saya sedang memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, kemudian teman seprofesi atau atasan meminta pertolongan kita atau memberikan perintah kepada kita, bagaimana tindakan kita?
  7. Suami kerja dimana
  8. Saya tinggal dimana
  9. Mengapa saya melamar dosen ASN padahal sudah menjadi dosen
  10. Komitmen dan integritas saya seperti apa
  11. Apakah memiliki masalah dengan lingkungan
  12. Jika diterima dikampus yang saya tuju dengan pluralismenya, bagaimana sikap saya
  13. Dimana pendidikan S2 saya dan mengapa mengambil S2 di kampus tersebut
  14. Capaian saat ini dan target untuk ke depannya
Adapun testimoni dari saya untuk wawancara SKB CPNS dosen kali ini, menurut saya sangat efektif. Dari sisi waktu, tempat dan biaya sangat memudahkan. Hal ini karena wawancara dilaksanakan secara daring. Tahun 2018, saya melakukan SKB wawancara harus datang ke kampus yang saya tuju. Kemudian secara teknis, tepat waktu dan teratur dengan baik proses atau tahapnya. Saya berharap penilaian dari SKB wawancara ini dilakukan secara obyektif. Dan saya juga berharap agar saya lolos dalam CPNS tahun ini. Tetapi apapun hasilnya, semoga itu adalah yang terbaik untuk saya. 

PERSIAPAN SKB WAWANCARA DOSEN 2023 POLINELA

1. Perkenalkan diri anda!

Assalamu'alaikum Wr.Wb. Baik terimakasih Bapak/ibu atas waktu dan kesempatan yang diberikan. Perkenalkan nama saya Eny Ivan's, S.P., M.Sc. Saya merupakan lulusan dari magister ekonomi pertanian UGM. Sedangkan S1 saya berasal dari Agribisnis UNILA. Alhamdulillah, sejak 2019 saya telah menjadi dosen tetap di Prodi Agribisnis, FP3, UNU Lampung. Selama 4 tahun mengajar, capaian saya adalah sudah mengajukan sertifikasi dosen dan sedang proses di LLDIKTI. Kemudian sudah menginput data untuk pengajuan lektor. Beberapa mata kuliah yang pernah saya ampu antara lain Pengantar Ilmu Ekonomi, Ekonomi Pertanian, Ekonomi Produksi, Pemasaran Agribisnis, Analisis Kelayakan Usaha, Ekonometrika, Kewirausahaan, dan beberapa mata kuliah lainnya. Adapun untuk dharma penelitian dan pengabdian, alhamdulillah rutin saya lakukan di setiap semester, sehingga saya bisa mengikuti BKD dan sudah eligible untuk serdos. 

2. Mengapa anda ingin menjadi dosen?

Baik terimakasih untuk pertanyaannya. Saya akan menjawabnya dengan membaginy pada dua hal. Pertama, secara filosofis saya meyakini bahwa setiap ilmu yang diamalkan adalah pahala jariyah yang akan kita terima. Selama menjadi siswa dan mahasiswa, saya mendapatkan banyak ilmu dari para guru dan dosen saya. Saya ingin meneruskan estafet itu. Dengan menjadi dosen saya berpikir bahwa ruang untuk membagi ilmu akan lebih besar dan lebih luas. Ilmu yang dibagikan tidak akan pernah surut dan menyusut, bahkan seringkali justru bisa menambah ilmu itu sendiri menjadi lebih banyak. Karena kadangkala, mahasiswa kita lebih pintar, lebih dahulu punya pengalaman, dan dari mereka kita mendapatkan ilmu juga. 

Kedua, mengajar adalah passion dan panggilan hati. Pada dasarnya mengajar bukan hanya menjadi dosen. Saya pernah mengajar privat, pernah terlibat aktif mengisi pengajian di komplek perumahan saya sewaktu jadi mahasiswa, pernah menjadi tutor adik-adik SMA dan teman-teman saya dulu saat kuliah merasa lebih mudah memahami materi ketika saya yang menerangkan. Mengajar adalah seni meyampaikan sesuatu untuk lebih dimengerti. Ada banyak metode yang bisa kita gunakan agar mahasiswa kita bisa memahami materi. Dan semua itu, dapat dilakukan oleh seorang dosen.

3. Mengapa ingin menjadi ASN? Padahal gaji ASN kecil?

Menurut saya ASN adalah abdi negara. Sebagai abdi negara, maka sudah selayaknya memberikan waktu dan tenaganya untuk melayani publik, dalam hal ini sebagai dosen ASN.  Sebagai dosen ASN, maka peran utamanya adalah turut memajukan dan mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan, sesuai dengan amanat UUD 1945. Selayaknya profesi yang lain, yang menguntungkan dari ASN adalah pemerintah menunaikan hak ASN dengan menjamin kesejahteraanya melalui upah bulanan dan tunjangan yang lain. Selain itu, ada kesempatan yang lebih besar bagi dosen ASN untuk memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan lanjutan (S3). 

4. Mengapa memilih polinela? Mengapa tidak mengambil universitas padahal anda sudah mengajar di suatu universitas?

Baik terimakasih pertanyaannya. Pertama saya melihat formasi. Kebetulan untuk universitas yang ada di lampung, kualifikasi pendidikan yang diminta tidak ada yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan S2 saya. 

Kedua, saya melihat Polinela adalah kampus yang sudah cukup lama berdiri dan dikenal oleh masyarakat luas khususnya di lampung. Visi dari Polinela adalah menjadi pendidikan tinggi vokasi yang berorientasi pada akhlak mulia, disiplin, terampil, mandiri dan kompetitif. Visi ini menurut saya telah terbukti dengan banyak prestasi yang diraih oleh polinela. Yang terbaru adalah mahasiswa polinela mendapatkan juara pada program film dokumenter dan film pendek di ajang e-KTB award yang diselenggarakan oleh Pemprov Lampung.

Adapun keputusan saya memilih prodi pengelolaan agribisnis dikarenakan salah satu tujuannya adalah ingin menghasilkan lulusan yang memiliki jiwa entrepreneuship. Selain menjadi dosen, saya sendiri adalah seorang perintis usaha mikro dengan produknya kripik pisang. Usaha saya sudah berjalan dari 2021 dengan nama pasar @kripikbawen_lampung. Alhamdulillah produk saya sudah PIRT. Penjualan saya lakukan secara online dan offline. Online saya pasarkan melalui media sosial, sedangkan offline saya masukkan ke toko oleh-oleh di Metro. Jadi antara goals dari prodi pengelolaan agribisnis dengan aktivitas keseharian saya sangat berhubungan. Oleh karena itu saya berminat untuk begabung di prodi Pengelolaan Agribisnis. 

5. Apa bedanya polinela dengan universitas?

Baik terimakasih pak. Menurut saya polinela adalah perguruan tinggi yang menyediakan pendidikan berbasis vokasi. Vokasi yang saya tahu adalah pendidikan yang lebih berfokus pada praktek kerja yang dapat menunjang keahlian di bidang studi tertentu. Alumni dari Polinela dipersiapkan untuk menjadi tenaga yang siap bekerja dan mampu bersaing secara global di bidangnya, yang dibekali dengan keterampilan, keteknikan dan teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Sementara Universitas adalah pendidikan tinggi yang menyediakan interdisipliner ilmu yang terdiri dari berbagai macam fakultas sebagai payung dari setiap rumpun bidang keilmuan yang ada. Jenjang pendidikan di dalam universitas terdiri dari sarjana, magister dan doktor dimana alumni dari universitas dipersiapkan selain untuk dunia kerja juga untuk menghasilkan para ahli di suatu bidang ilmu.

6. Apa keunggulan anda sehingga kami dapat memilih anda?

Baik terimakasih. Dalam Tridarma, untuk pengajaran saya sudah mengajar banyak mata kuliah keprodian. Beberapa metode pengajaran yang pernah saya terapkan seperti studi kasus, project based learning, ceramah, dan student center learning. Saya juga sudah memiliki beberapa modul pembelajaran (ekonomi pertanian, pengantar ilmu ekonomi, perilaku konsumen, kewirausahaan, ekonomi produksi pertanian, teknologi produksi agribisnis), namun belum sampai diterbitkan. 

Adapun dari sisi penelitian, saya sudah terbiasa mempublikasikan karya ilmiah di berbagai jurnal baik yang bersinta maupun belum. Publikasi saya bisa dilihat di google scholar. Artikel publikasi saya hasilkan setiap semester untuk BKD dosen. Dari penelitian itu juga bisa saya konversikan ke dalam materi ajar seperti misalnya analisis studi kelayakan di suatu UMKM. Karena saya mengajar kewirausahaan dan analisis studi kelayakan usaha, maka hasil penelitian tersebut saya gunakan untuk bahan ajar di perkuliahan.

Tridarma yang ketiga yaitu PKM. Memang dari tiga tridarma tersebut, saya cenderung menyukai kegiatan pengabdian masyarakat. Alhamdulillah, saya sudah dua kali mendapatkan dana hibah internal dari kampus saat ini mengajar untuk pengabdian dan penelitian. Beberapa materi yang pernah saya sampaikan dalam kegiatan PKM adalah pembuatan pupuk organik, pembuatan cocopeat, penyusunan bisnis model canvas, pengolahan bunga rosela menjadi ragam varian makanan, sosialisasi gemar menanam dan praktik menanam hidroponik, dan yang terbaru adalah pembuatan pupuk kompos dan pembuatan ecobreak bersama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan PT Pertamina. 

7. Bagaimana target atau mission anda ketika lolos menjadi dosen di polinela?

Baik terimakasih. Mission job saya ketika lolos menjadi dosen tentunya berkaitan dengan Tridarma. 

1) untuk pengajaran, saya akan lebih mengeksplore metode pembelajaran berbasis project. menurut saya metode PBL sangat relevan untuk dipakai oleh manusia dewasa seperti mahasiswa. Dengan PBL mahasiswa diberikan ruang dan kebebasan untuk mengeksplore kemampuan dirinya sendiri. Sementara dosen menjadi fasilitator. Saya juga berencana untuk menerbitkan buku ajar yang sudah saya buat, sehingga dapat digunakan oleh mahasiswa untuk belajar.

2) untuk penelitian, sejauh ini alhamdulillah saya dapat melaksanakannya secara rutin di setiap semester. Penelitian yang sudah saya lakukan, sebagian besar membahas tentang kelayakan suatu usaha (entrepreneur) dan tentang produksi pangan khususnya padi. Target saya adalah dapat secara rutin melakukan publikasi pada jurnal bersinta atau terakreditasi, dan juga ingin mendapatkan hibah penelitian sehingga bisa mengembangkan atau mengambil topik penelitian yang lebih berbobot terutama kaitannya dengan teknologi di sektor pertanian. 

3) untuk pengabdian, saya akan berkolaborasi dengan berbagai stakeholder seperti pemerintah, organisasi, petani, masyarakat dan elemen lainnya untuk menciptakan suatu kegiatan yang bermanfaat. saya juga berharap bisa mendapatkan dana hibah eksternal seperti PDP. Sejauh ini, dari tiga dharma, passion saya atau kecenderungan minat saya lebih besar kepada kegiatan PKM. Menurut saya, sebagai pendidik profesional, ilmu yang kita miliki dapat lebih besar manfaatnya dirasakan tidak hanya oleh mahasiswa tetapi juga masyarakat luas. 

Adapun untuk upgrade bidang keilmuan, saya berencana untuk melanjutkan pendidikan S3. Pendidikan S3 ingin saya tempuh setidaknya setelah 2 sampai 3 tahun mengabdi menjadi ASN di kampus baru. Kampus yang ingin saya tuju adalah kampus di IPB atau UGM. Adapun tema disertasi yang ingin saya ambil berjudul, "Konsep Kelembagaan dan Hilirisasi Produk Pertanian di Provinsi Lampung". 

Sebetulnya untuk pemerintah provinsi lampung, sudah menyadari pentingnya hilirisasi produk pertanian diantaranya dengan mengeluarkan program e-KTB yang bertujuan untuk mengintegrasikan semua kepentingan pertanian sehingga meningkatkan kesejahteraan petani. Akan tetapi, pada realisasinya saya check pada menu e-pemasaran program e-KTB ini tidak ada produk yang ditawarkan. Hal ini menunjukkan bahwa ada banyak bentuk atau masalah pada sub sistem hilir sehingga perlu dicari strategi yang pas. 

Polinela sendiri bulan desember ini menjuarai ajang e-KPB melalui ajang film pendek dan film dokumenter oleh mahasiswa polinela. Melalui ajang ini sebetulnya kita bisa menampilkan atau menceritakan problem petani pada kondisi real terutama di sub sistem hilir, sehingga bisa kita cari solusinya bersama-sama. 

8. Anda kan sudah bekerja sebagai dosen tetap di kampus anda saat ini kurang lebih 4 tahun. Bagaimana seandainya anda lolos menjadi ASN tetapi tidak disetujui oleh pimpinan anda di kampus anda saat ini?

Baik pak, terimakasih. Saya tidak menampikkan bahwa pekerjaan saya di kampus yang sekarang telah membentuk pribadi saya lebih baik terutama dalam menjalani profesi dosen. Itu adalah anugrah dan amanat yang saya terima dan jalankan. Saya merasa jika saya mengikuti CPNS kemudian saya lolos dan saya pergi dari kampus saya mengajar saat ini, saya tidak mengkhianati siapapun. Karena memang tidak ada tandatangan kontrak atau kesepakatan tertulis yang terjadi antara saya sebagai pegawai dan kampus sebagai instansi saya bekerja. Tentu ketika pimpinan tidak memperbolehkan, pasti ada alasan logisnya. Dan saya akan mengajak beliau untuk berdiskusi, mencari solusi bersama-sama jika itu soal jumlah minimum dosen prodi yang berkurang dan secara bijak meminta kesediaannya untuk memberikan surat lolos butuh. Adapun jika beliau menolak, saya akan mengikuti prosedur yang ada, diantaranya adalah meminta bantuan dari LLDIKTI 2 untuk membantu menguruskannya seperti cerita teman2 saya yang pernah mengalami hal serupa. Pada intinya, saya tidak merugikan pihak manapun. Selama ini saya menjalankan kewajiban saya dengan baik, bahkan ijazah saya lah yang menjadi pondasi untuk berdirinya program studi agribisnis di kampus saya mengajar saat ini.

Tentang Kebersamaan, Makan Siang, dan Hubungan yang Perlu Dirawat

Di dunia kerja, sering kali kita terlalu fokus pada target, laporan, deadline, dan berbagai pekerjaan yang harus diselesaikan. Hari demi har...