Ternyata Menjadi Dosen Tidak Sesepi Itu!!


Foto bersama dosen FP3

Kurang lebih sudah delapan tahun saya menyandang title sebagai dosen.

Kalau dipikir-pikir, delapan tahun itu bukan waktu yang sebentar. Kalau dianalogikan seperti orang merantau ke negeri lain, delapan tahun sudah cukup lama untuk membuat seseorang berubah.

Saat kembali, mungkin jalan-jalannya masih sama, gedung-gedungnya masih berdiri di tempat yang sama, tapi cara pandangnya sudah berbeda.

Dan mungkin itu juga yang terjadi pada saya

***

Saya mulai menjadi dosen sekitar tahun 2019.

Waktu itu saya sudah memiliki satu anak yang masih berusia sekitar 10 bulan. Suami jauh di luar kota, kami menjalani LDM, bahkan sampai hari ini.

Jadi kalau diingat-ingat lagi, awal perjalanan saya menjadi dosen, tidak terlalu ideal.

Lebih mirip seseorang yang sedang mencoba tetap waras sambil belajar banyak hal sekaligus: menjadi ibu; menjadi dosen; dan menjalani kehidupan baru yang semuanya terasa asing.

***

Hari pertama saya datang ke kampus masih cukup jelas di ingatan.

Waktu itu kampus kami masih "nebeng" di sekolah. Karena ruangannya dipakai bersama, rapat pembagian mata kuliah dilakukan siang hari setelah aktivitas sekolah selesai.

Sebelum rapat dimulai, saya datang ke ruang dosen untuk berkenalan. Ada satu ruang kelas yang saat itu digunakan sebagai kantor sekaligus tempat transit dosen.

Dengan modal nekat dan sedikit rasa percaya diri 'palsu', saya masuk lalu mengucapkan salam.

Kemudian saya memperkenalkan diri ke dosen-dosen yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Kalau dipikir sekarang, rasanya agak 'cringe' juga.

Bayangkan saja, orang-orang sedang fokus bekerja, lalu tiba-tiba ada dosen baru muncul memperkenalkan diri dengan senyum canggung.

Dan bagian paling lucunya adalah setelah saya selesai memperkenalkan diri... semua kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tidak ada yang penasaran dengan saya hahahahha...

Tidak ada obrolan panjang.

Tidak ada momen dramatis seperti di film-film.

Saya tetap duduk sendirian.

***

Waktu itu saya hanya punya satu kenalan dosen, kebetulan teman SMA yang memang sudah lebih dulu mengajar di sana.

Selain itu, saya benar-benar tidak mengenal siapa-siapa.

Hari-hari mengajar saya lalui seperti mahasiswa kupu-kupu:

datang,

mengajar,

lalu pulang.

Tidak ada nongkrong di ruang dosen.

Tidak ada ngobrol santai.

Tidak ada cerita-cerita antar dosen.

Bahkan saya sendiri waktu itu belum benar-benar tahu siapa saja dosen yang satu prodi dengan saya.

Lucunya lagi, homebase saya saat itu masih di Perikanan, padahal bidang keilmuan saya sebenarnya Agribisnis.

Dan di masa itu, saya mendapat mata kuliah: Tingkah Laku Ikan.

Jujur saja, waktu pertama membaca nama mata kuliah itu, saya sempat berpikir: "Memangnya ikan juga perlu diajarkan sopan santun?"

Di kepala saya waktu itu, mata kuliah tersebut terdengar seperti pelajaran pendidikan karakter versi bawah air.

Absurd sekali memang.

***

Setelah pembagian mata kuliah selesai, muncul kebingungan lain.

Saya harus mengajar seperti apa?

Cara menjadi dosen yang benar itu bagaimana?

Apa saja sebenarnya tugas dosen selain masuk kelas?

Waktu itu saya benar-benar buta tentang dunia akademik.

Tentang jabatan fungsional, BKD, penelitian, publikasi, bahkan TRI DHARMA pun saya belum benar-benar memahami.

Saya hanya tahu satu hal: besok harus masuk kelas dan mengajar mahasiswa.

Itu saja.

***

Tahun 2020 menjadi salah satu titik perubahan besar.

Kampus kami akhirnya memiliki gedung sendiri.

Walaupun waktu itu kondisinya masih sangat sederhana. Bangunannya bediri di tengah area persawahan, panas, gersang, dan belum ada AC sama sekali.

Kalau siang, rasanya seperti sedang diuji ketahanan mental sekaligus ketahanan kulit.

Tapi anehnya, justru di tempat baru itulah semuanya mulai terasa lebih hidup.

Kami mulai punya ruang dosen sendiri.

Mulai punya tempat duduk bersama.

Mulai ada obrolan-obrolan kecil sebelum dan sesudah mengajar.

Dan dari obrolan ringan itulah saya mulai belajar banyak hal.

Tentang jenjang karier dosen.

Tentang BKD.

Tentang penelitian.

Tentang pengabdian.

Tentang publikasi.

dan tentang akreditasi.


Saya baru sadar: ternyata menjadi dosen itu banyak sekali "maratonnya".

***

Saya masih ingat ketika pertama kali ingin mengurus jabatan fungsional.

Salah satu syaratnya adalah memiliki publikasi artikel sebagai penulis pertama.

Masalahnya, selama dua tahun mengajar saya belum pernah publikasi sama sekali.

Penelitian belum ada.

Pengabdian pun belum pernah benar-benar dilakukan.

Lalu saya harus menulis apa?

Di titik itulah kami mulai bergerak bersama.

Mulai membuat penelitian sederhana.

Mulai melakukan pengabdian.

Mulai belajar menulis artikel dan membiasakannya setiap semester.

Mulai saling membantu memahami sistem yang sebelumnya terasa rumit.

Dan perlahan-lahan, semuanya mulai berjalan.

***

Sampai akhirnya hari ini, alhamdulillah saya sudah sampai di jabatan lektor.

Kalau dipikir sekarang, perjalanan itu ternyata cukup panjang juga.

Dan yang paling saya syukuri bukan hanya tentang jabatannya.

Tapi tentang orang-orang yang hadir selama prosesnya.

Karena saya akhirnya sadar: dunia akademik tidak bisa dijalani sendirian.

Dosen mungkin terlihat sibuk dengan target masing-masing.

Tapi pada akhirnya, banyak hal hanya bisa dilewati kalau saling membantu.

Saling mengingatkan.

Saling support.

Saling berbagi informasi.

Dan kadang, saling menguatkan saat sama-sama lelah.

***

Semakin lama menjadi dosen, saya justru semakin merasa bahwa lama mengajar bukan berarti paling tahu segalanya.

Kadang dosen yang baru masuk justru punya semangat dan kemampuan yang jauh lebih hebat.

Dan itu tidak masalah.

Karena dunia akademik seharusnya memang bukan tempat untuk merasa paling tinggi.

Melainkan tempat untuk terus belajar.

***

Pada akhirnya, bagi saya menjadi dosen bukan hanya tentang mengajar di kelas.

Ada banyak proses kehidupan yang ikut tumbuh di dalamnya.

Belajar bekerjasama.

Belajar memahami orang lain.

Belajar menerima perbedaan.

Belajar legowo terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan terlalu jauh.

Karena persinggunan antarmanusia pasti akan selalu ada.

Dan mungkin kedewasaan bukan tentang menghindari itu semua.

Tetapi tentang tetap bisa berjalan bersama meskipun isi kepala setiap orang tidak pernah benar-benar sama.

Dan setelah delapan tahun ini, saya akhirnya mengerti satu hal sederhana:

ternyata menjadi dosen bukan soal siapa yang paling pintar berjalan sendiri. Tetapi siapa yang mau tetap belajar, tetap bertumbuh, dan tetap berjalan bersama orang lain.




Belum Selesai Olahraga, Hidup sudah Kasih Plot Twist

Sudah hampir dua minggu saya tidak olahraga.

Bahkan sekadar jalan santai muterin lapangan sepak bola pun tidak sempat. Entah karena hujan yang belakangan rajin datang pagi dan sore, atau karena pulang dari kampus selalu sudah terlalu petang untuk memulai olahraga.

Weekend pun ikut lewat begitu saja.

Kadang ada anak yang sakit.

Kadang ada urusan pergi.

Kadang memang tubuh dan pikiran sama-sama memilih rebahan dibanding bergerak.

Dan akhirnya, efeknya mulai terasa.

Badan pegal-pegal. Tidur tidak nyaman. Mood gampang naik turun. Pokoknya tubuh mulai protes seperti mahasiswa yang revisinya belum disentuh dosen pembimbing.

***

Hari ini kebetulan tanggal merah.

Dalam hati saya sudah membayangkan: "Ah, akhirnya bisa olahraga sebentar buat menyelamatkan kewarasan".

Walaupun ya... sebagai ibu dengan tiga anak, konsep me time itu sebenarnya cukup abstrak.

Karena bahkan saat ingin  olahraga sendiri pun, tetap ada kemungkinan berangkat bersama anak-anak.

Dan benar saja. Akhirnya saya pergi ke lapangan ditemani dua anak. 

Jujur saja, sebenarnya ada sedikit rasa malas membawa mereka.

Bukan karena tidak senang bersama anak, tapi karena pengalaman selalu mengajarkan: kalau dua anak sudah berkumpul di satu tempat, kemungkinan damai itu tipis.

Biasanya ada saja yang bikin: rebutan; nangis; ngambek; atau tiba-tiba minta pulang saat saya baru mulai pemanasan.

Tapi ya sudahlah.

Kalau ditinggal di rumah juga kasihan uti dan akungnya. Di rumah masih ada si bungsu yang memang tidak saya ajak ke lapangan.

Akhirnya, berangkatlah kami bertiga pagi tadi.

***

Saya mulai berjalan memutari lapangan seperti biasa.

Baru putaran pertama, si kakak bilang, "ummi, pipis".

Subhanallah.

Untung saja ada masjid di depan lapangan. Jadi olahraga pagi ini resmi dimulai dengan menemani anak ke toilet.

Selesai urusan pipis, lanjut lagu muter lapangan.

Dan jujur, memulai olahraga lagi setelah lama berhenti ternyata berat juga. Badan rasanya seperti sedang negosiasi.        

"Yakin mau lanjut?"

"Rebahan aja gimana?"

Tapi, ya harus semangat kan?

Putaran kedua aman.

Putaran ketiga juga masih terkendali.

Masuk putaran keempat, tiba-tiba langkah terasa aneh.

Ada yang terasa longgar di kaki. 

Saya lihat ke bawah.

Dan ternyata....

Sepatu saya copot bagian alasnya. Benar-benar mangap. Persis seperti orang kelaparan yang belum makan dua hari.

Ya Allah...

target jalan kaki belum tercapai, sepatu sudah menyerah duluan.

Sepertinya dia juga kaget melihat pemiliknya tiba-tiba semangat olahraga lagi setelah jeda hampir dua minggu.

Sepatu dah mangap kelaperan

***

Tapi karena semangat masih ada, saya lanjut saja berjalan.

Dengan teknik baru tentunya: lari kecil sambil berharap injakan kaki bisa membuat sepatu "ngelem sendiri".

Tidak ilmiah memang. Tapi kadang manusia memang suka berharap pada hal-hal yang tidak masuk akal.

Sementara itu, anak-anak duduk menunggu di motor sambil sesekali memperhatikan saya yang berjalan dengan sepatu setengah pensiun.

Dan entah kenapa, di momen seperti itu saya merasa hidup memang lucu.

Dulu waktu belum punya anak, olahraga tinggal pakai sepatu lalu pergi.

Sekarang?

Olahraga bisa berubah menjadi: nemenin pipis, melerai anak, ngejar target langkah, sambil memastikan sepatu tidak benar-benar tercerai-berai di tengah lapangan.

***

Akhirnya saya bertahan sampai putaran ketujuh.

Tubuh mulai lelah.

Nafas mulai berat.

Saya pun duduk sebentar untuk istirahat.

Lalu.. Handphone berdering.

Dan biasanya, seorang ibu tahu: telepon di saat seperti itu jarang membawa kabar santai.

Benar saja.

Dari rumah dikabarkan si bungsu demam dan muntah-muntah.

Di titik itu saya cuma diam sebentar, sambil sinar matahari membelai lembut wajah yang berkeringat.

Hmmm... cobaan apa lagi ini ya Allah?

Libur yang sebelumnya saya bayangkan akan diisi dengan sedikit ketenangan, olahraga, dan me time, mendadak berubah menjadi mode siaga.

Dan anehnya, kehidupan ibu-ibu memang sering seperti itu.

Kita merencanakan istirahat.

Tapi hidup punya agenda lain.

***

Namun di perjalanan pulang tadi saya berpikir satu hal.

Mungkin bagi seorang ibu pekerja, terutama yang juga menjadi dosen, hidup memang jarang benar-benar tenang.

Selalu ada yang dipikirkan.

Selalu ada yang dikerjakan.

Selalu ada yang diprioritaskan sebelum diri sendiri.

Kadang kita hanya ingin satu jam saja untuk bernafas pelan, olahraga santai, atau menikmati pagi tanpa drama.

Tapi seringkali, justru di tengah kekacauan kecil itulah hidup berjalan.

Di antara sepatu copot.

Anak pipis mendadak.

Target olahraga yang tidak tercapai.

Dan telepon dari rumah yang membuat langkah harus segera dipercepat pulang.

Mungkin memang begitu bentuk kehidupan seorang ibu.

Tidak selalu rapih.

Tidak selalu sesuai rencana.

Tidak selalu tenang.

Tapi tetap dijalani.

Tetap diusahakan.

Tetap kuat, meskipun sambil menghela nafas panjang.

Dan saya rasa, itu juga bentuk cinta yang paling sederhana.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             

Ketika Penyuluhan Berubah Menjadi Simulasi Evakuasi Massal

Hari ini kegiatan pengabdian masyarakat berlangsung cukup menyenangkan. 

PKM Prodi Agribisnis UNU Lampung

    Mahasiswa diminta praktik langsung melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Jadi, posisi kami para dosen hari ini lebih banyak mengamati, menilai, dan sesekali membantu jika ada bagia yang mulai tidak terkendali.

Keadaan masih kondusif sewaktu mahasiswa memberikan penyuluhan

    Mitranya adalah Kelompok Wanita Tani (KWT). Kurang lebih ada sekitar 15 ibu-ibu peserta dari KWT dan 18 mahasiswa yang bertugas menjadi penyuluh hari ini. Sebagian membawa catatan kecil, sebagian membawa rasa penasaran, sebagian membawa anak kecil bahkan bayi yang turut meramaikan suasana dan sebagian membawa banyolan. Nah, yang terakhir ini yang bikin suasana jadi happy sepanjang kegiatan. Banyolan khas ibu-ibu, ngapak lagi kan. "Ora ngapak, ora kepenak".

    Topik penyuluhannya cukup menarik. Pembuatan ecoenzym dan Pupuk Cair Organik (POC). Bahan dasarnya ada yang dari kulit nanas, sayuran segar, sampah sisa dapur, pelepah pisang dan urin sapi.

    Mahasiswa dibagi menjadi enam kelompok. Masing-masing tampil bergantian menjelaskan materi dan mempraktikkan proses pembuatannya secara langsung. Tidak lupa mahasiswa sudah membawa sampel hasil dari praktik sebelumnya di rumah.

    Dan jujur saja, melihat mahasiswa berdiri di depan masyarakat selalu menjadi pengalaman yang menarik.  Karena saat praktik seperti itu, mereka bukan hanya diuji soal penguasaan materi. Mereka juga belajar: bagaimana berbicara dengan masyarakat, bagaimana menghadapi audiens, bagaimana menjelaskan hal teknis dengan bahasa sederhana, dan bagaimana tetap tenang ketika situasi di lapangan tidak sesuai rencana. 

    Yang terakhir itu ternyata yang paling penting.

***

    Secara umum semua kelompok berjalan lancar. Ibu-ibu KWT terlihat sangat antusias. Mereka aktif menjawab pertanyaan, ikut berdiskusi, bahkan semangat sekali ketika mahasiswa mulai membagikan doorprize kecil-kecilan.

    Ada kebahagiaan sederhana ketika melihat suasana penyuluhan terasa hidup seperti itu.

    Karena keberhasilan penyuluhan sebenarnya bukan di seberapa panjang materi disampaikan, tetapi di seberapa nyaman orang mau terlibat dalam percakapan.

    Dan ibu-ibu hari ini benar-benar membuat suasasna terasa hangat, meskipun faktanya sangat panas dan bikin keringat mengalir deras.

***

    Namun, seperti banyak kegiatan lapangan lainnya, selalu ada satu momen yang akhirnya paling diingat dibanding seluruh rangkaian acara.

    Dan momen itu datang dari kelompok terakhir.

    Mereka mendapat tema : Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Urin Sapi.

    Awalnya semua terlihat normal.

    Mahasiswa datang dengan penuh percaya diri sambil membawa sebuah drigen berukuran cukup besar. Dari wajah mereka terlihat meyakinkan bahwa praktik kali ini akan berjalan sukses. 

    Sampai akhirnyaa.... 

    Drigen itu dibuka.

    Dan dalam hitungan detik, keadaan berubah drastis.

***

    Aroma urin sapi langsung menyerbu area praktik tanpa ampun.

    Bukan aroma yang samar-samar.

    Bukan juga aroma yang masih bisa ditoleransi sambil pura-pura kuat.

    Ini tipe aroma yang membuat manusia tiba-tiba mempertanyakan keputusan hidupnya. Diam di tempat atau lariiii!!!

    Masalahnya, urin yang dibawa ternyata belum difermentasi.

    Jadi ketika tutup drigen dibuka, angin siang itu dengan sangat setia membantu menyebarkan aromanya ke segala arah.

    Dan pemandangan berikutnya benar-benar di luar materi penyuluhan.

    Ibu-ibu mulai bubar perlahan meninggalkan panggung sandiwara mahasiswa.

    Beberapa menutup hidung. Ada yang batuk-batuk. Ada yang mual bahkan sampai muntah. Perut rasanya seperti dikocok atau mabok laut. Mirip-miriplah.

    Yang paling lucu, dosen-dosennya pun ikut menyelamatkan diri. Siapa yang mau tenggelam bersama aroma urin busuk itu hah???

Keadaan saat masih kondusif untuk foto-foto

    Tidak ada lagi wibawa akademik saat itu. Semua setara di hadapan aroma urin sapi.

***

    Saya masih ingat bagaimana area praktik mendadak berubah seperti simulasi evakuasi darurat. Padahal beberapa menit sebelumnya suasana masih penuh diskusi ilmiah tentang pembuatan ecoenzyme dan pupuk cair organik. Bahkan di kelompok pertama, aroma ecoenzyme dari kulit nanas begitu wangi atau harum. Tapi kenapa di akhir sesi justru aroma urin yang hadir menggantikannya??

produk ecoenzyme kulit nanas hasil praktik mahasiswa

    Untung saja itu kelompok terakhir.

    Kalau bukan, mungkin setelah itu tidak ada lagi peserta yang bersedia mendekat ke area praktik. 

    Dan untungnya, ibu-ibu KWT tetap tertawa menghadapi kekacauan kecil tersebut. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang tersinggung. Justru suasana berubah menjadi penuh cerita dan candaan.

    Kadang memang kegiatan lapangan yang paling diingat bukan yang paling sempurna, tetapi yang paling manusiawi dan yang paling memberi kesan.

***

    Di balik kejadian lucu hari ini, saya rasa ada pelajaran sederhana yang cukup penting untuk mahasiswa.  Bahwa praktik lapangan tidak selalu berjalan sesuai teori di kelas. 

    Kadang alat yang dipersiapkan bermasalah. Kadang situasi berubah tiba-tiba. Kadang ada hal-hal kecil yang luput diperhatikan, tetapi justru menjadi pusat perhatian semua orang.

    Dan dari situ mahasiswa belajar satu hal penting: bahwa ilmu di lapangan bukan hanya soal benar atua salah, tetapi juga soal kesiapan menghadapi keadaan yang tidak terduga.

***

    Namun di luar semua kekacauan aroma tadi, saya cukup senang melihat bagaimana mahasiswa mulai belajar berbicara langsung dengan masyarakat.

    Karena menjadi sarjana bukan hanya tentang memahami teori.

    Tetapi juga tentang: mampu menjelaskan ilmu dengan sederhana; mampu berinteraksi dengan masyarakat; dan mampu tetap tenang.... meskipun sedang dikejar aroma urin sapi yang menyengat ke segala arah.

    Dan saya rasa, itu adalah bentuk pembelajaran yang tidak akan mudah mereka lupakan.

    Well, apapun cerita hari ini, terimakasih sudah membuat suasana hati saya baik dan semakin baik. 









Catatan Kecil Setelah Menguji Skripsi

Kenapa Ruang Ujian Skripsi Selalu Terasa Lebih Panas?

Ruang ujian skripsi selalu terasa berbeda.

Entah kenapa, meskipun pendingin ruangan menyala sejak pagi, suasananya tetap terasa lebih panas dibanding hari-hari biasa. Mungkin bukan karena suhu ruangan yang berubah, melainkan karena ada banyak kepala yang dipenuhi kecemasan di dalamnya.

Dalam pandangan saya, mahasiswa yang akan menjalani sidang skripsi seharusnya sudah cukup siap. Mereka sudah melewati proses panjang: menyusun penelitian, revisi berkali-kali, bertemu dosen pembimbing, memperbaiki kesalahan kecil yang tidak pernah benar-benar habis. Bahkan mungkin ada yang semalaman berlatih presentasi di depan cermin atau membaca ulang isi skripsinya sampai dini hari.

Namun anehnya, ketika sudah duduk di kursi sidang, semua persiapan itu kadang seperti menguap begitu saja.

Jawaban yang sebelumnya terasa lancar mendadak sulit keluar. Tangan mulai dingin. Nada bicara berubah. Pikiran-pikiran sebelum masuk ruang sidang sering kali lebih kuat dibanding kesiapan yang sudah dibangun jauh-jauh hari.

Mungkin memang seperti itu rasanya diuji.

Bukan hanya diuji tentang isi skripsi, tetapi juga diuji tentang seberapa tenang seseorang menghadapi rasa takutnya sendiri.

***

Ada satu bagian dari sidang skripsi yang selalu saya sukai.

Bukan ketika mahasiswa mempresentasikan hasil penelitiannya. Bukan juga saat penguji mulai melontarkan pertanyaan demi pertanyaan.

Melainkan bagian akhir, ketika suasana mulai sedikit mencair dan percakapan perlahan bergerak ke arah yang lebih personal.

Di sesi itu, mahasiswa biasanya tidak lagi berbicara sebagai peserta sidang. Mereka mulai berbicara sebagai manusia yang sedang menyelesaikan satu fase penting dalam hidupnya.

Di situlah sering muncul cerita-cerita yang sebelumnya tidak pernah terlihat.

Tentang perjuangan yang diam-diam dipikul sendiri.
Tentang rasa lelah yang disembunyikan di balik senyum.
Tentang orangtua yang terus berusaha mendukung meskipun keadaan tidak selalu mudah.

Dan di bagian itu pula, saya sering merasa bahwa air mata kadang mampu menjelaskan banyak hal yang tidak sanggup disampaikan kata-kata.

***

Siang kemarin, di sebuah ruang sidang yang sebenarnya cukup dingin, seorang mahasiswa diminta menyampaikan beberapa kalimat setelah sidangnya selesai.

Awalnya semua berjalan biasa saja.

Ucapan terima kasih mengalir lancar dari bibirnya. Ia berterima kasih kepada dosen penguji, dosen pembimbing, dan semua orang yang sudah membantunya sampai di titik itu.

Namun suasana mulai berubah ketika ia mengucapkan kata:
“maaf.”

Kata itu ditujukan kepada dosen pembimbingnya.

Dengan suara yang mulai pelan, ia merasa belum mampu memberikan jawaban terbaik selama sidang berlangsung. Setelah itu, matanya mulai memerah. Beberapa kali ia mencoba menahan tangis, tetapi suaranya mulai bergetar.

Sebagai ketua sidang, saya melihat ada sesuatu yang jauh lebih besar dibanding rasa gugup karena ujian.

Barangkali ada rasa takut mengecewakan.
Barangkali ada rasa lelah yang selama ini ditahan sendiri.

Atau mungkin, ada perasaan bahwa semua perjuangan ini belum benar-benar mampu membalas pengorbanan orangtuanya.

***

Saya kemudian bertanya kepadanya,
“Apa yang ingin kamu sampaikan kepada orangtua di rumah?”

Ruangan mendadak menjadi lebih sunyi.

Ia terdiam cukup lama.

Sampai akhirnya, dengan suara yang mulai terbata karena tangis yang tidak lagi bisa disembunyikan, ia berkata,

“Terima kasih ibu yang sudah mensupport saya sejauh ini.

Maaf kalau sampai sekarang saya masih menjadi beban orangtua.”

Setelah kalimat itu selesai diucapkan, ia kembali diam.

Dan entah kenapa, kalimat itu terasa tinggal cukup lama di dalam kepala saya.

***

Benarkah seorang anak adalah beban bagi orangtuanya?

Saya rasa banyak anak diam-diam pernah memiliki perasaan itu. Terutama ketika melihat orangtuanya bekerja terlalu keras, mengorbankan banyak hal, sementara dirinya sendiri merasa belum mampu memberikan apa-apa.

Padahal mungkin, menjadi anak bukan tentang seberapa cepat bisa membalas semua pengorbanan.

Karena di saat seorang anak sedang belajar menjadi dewasa, orangtua pun sebenarnya sedang belajar menjadi orangtua.

Kalimat dari dosen pembimbingnya siang itu terasa sangat menenangkan.

“Jangan pernah merasa menjadi beban bagi orangtua.

Maafkan orangtua jika dalam bersikap mereka sering lupa bahwa kamu juga baru pertama kali menjadi anak.

Dan maafkan juga orangtua, karena menjadi orangtua pun adalah proses yang baru pertama kali mereka jalani.”

Setelah kalimat itu selesai diucapkan, ruang sidang terasa berubah.

Bukan lagi sekadar ruang ujian skripsi.

Melainkan ruang kecil tempat manusia saling memahami luka, perjuangan, dan perannya masing-masing dalam hidup.

Dan mungkin memang begitu hidup berjalan.

Kita semua sebenarnya sedang belajar menjalani peran yang belum pernah kita jalani sebelumnya.



Ternyata Menjadi Dosen Tidak Sesepi Itu!!

Foto bersama dosen FP3 Kurang lebih sudah delapan tahun saya menyandang title sebagai dosen. Kalau dipikir-pikir, delapan tahun itu bukan wa...