![]() |
| Foto bersama dosen FP3 |
Kurang lebih sudah delapan tahun saya menyandang title sebagai dosen.
Kalau dipikir-pikir, delapan tahun itu bukan waktu yang sebentar. Kalau dianalogikan seperti orang merantau ke negeri lain, delapan tahun sudah cukup lama untuk membuat seseorang berubah.
Saat kembali, mungkin jalan-jalannya masih sama, gedung-gedungnya masih berdiri di tempat yang sama, tapi cara pandangnya sudah berbeda.
Dan mungkin itu juga yang terjadi pada saya
***
Saya mulai menjadi dosen sekitar tahun 2019.
Waktu itu saya sudah memiliki satu anak yang masih berusia sekitar 10 bulan. Suami jauh di luar kota, kami menjalani LDM, bahkan sampai hari ini.
Jadi kalau diingat-ingat lagi, awal perjalanan saya menjadi dosen, tidak terlalu ideal.
Lebih mirip seseorang yang sedang mencoba tetap waras sambil belajar banyak hal sekaligus: menjadi ibu; menjadi dosen; dan menjalani kehidupan baru yang semuanya terasa asing.
***
Hari pertama saya datang ke kampus masih cukup jelas di ingatan.
Waktu itu kampus kami masih "nebeng" di sekolah. Karena ruangannya dipakai bersama, rapat pembagian mata kuliah dilakukan siang hari setelah aktivitas sekolah selesai.
Sebelum rapat dimulai, saya datang ke ruang dosen untuk berkenalan. Ada satu ruang kelas yang saat itu digunakan sebagai kantor sekaligus tempat transit dosen.
Dengan modal nekat dan sedikit rasa percaya diri 'palsu', saya masuk lalu mengucapkan salam.
Kemudian saya memperkenalkan diri ke dosen-dosen yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Kalau dipikir sekarang, rasanya agak 'cringe' juga.
Bayangkan saja, orang-orang sedang fokus bekerja, lalu tiba-tiba ada dosen baru muncul memperkenalkan diri dengan senyum canggung.
Dan bagian paling lucunya adalah setelah saya selesai memperkenalkan diri... semua kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tidak ada yang penasaran dengan saya hahahahha...
Tidak ada obrolan panjang.
Tidak ada momen dramatis seperti di film-film.
Saya tetap duduk sendirian.
***
Waktu itu saya hanya punya satu kenalan dosen, kebetulan teman SMA yang memang sudah lebih dulu mengajar di sana.
Selain itu, saya benar-benar tidak mengenal siapa-siapa.
Hari-hari mengajar saya lalui seperti mahasiswa kupu-kupu:
datang,
mengajar,
lalu pulang.
Tidak ada nongkrong di ruang dosen.
Tidak ada ngobrol santai.
Tidak ada cerita-cerita antar dosen.
Bahkan saya sendiri waktu itu belum benar-benar tahu siapa saja dosen yang satu prodi dengan saya.
Lucunya lagi, homebase saya saat itu masih di Perikanan, padahal bidang keilmuan saya sebenarnya Agribisnis.
Dan di masa itu, saya mendapat mata kuliah: Tingkah Laku Ikan.
Jujur saja, waktu pertama membaca nama mata kuliah itu, saya sempat berpikir: "Memangnya ikan juga perlu diajarkan sopan santun?"
Di kepala saya waktu itu, mata kuliah tersebut terdengar seperti pelajaran pendidikan karakter versi bawah air.
Absurd sekali memang.
***
Setelah pembagian mata kuliah selesai, muncul kebingungan lain.
Saya harus mengajar seperti apa?
Cara menjadi dosen yang benar itu bagaimana?
Apa saja sebenarnya tugas dosen selain masuk kelas?
Waktu itu saya benar-benar buta tentang dunia akademik.
Tentang jabatan fungsional, BKD, penelitian, publikasi, bahkan TRI DHARMA pun saya belum benar-benar memahami.
Saya hanya tahu satu hal: besok harus masuk kelas dan mengajar mahasiswa.
Itu saja.
***
Tahun 2020 menjadi salah satu titik perubahan besar.
Kampus kami akhirnya memiliki gedung sendiri.
Walaupun waktu itu kondisinya masih sangat sederhana. Bangunannya bediri di tengah area persawahan, panas, gersang, dan belum ada AC sama sekali.
Kalau siang, rasanya seperti sedang diuji ketahanan mental sekaligus ketahanan kulit.
Tapi anehnya, justru di tempat baru itulah semuanya mulai terasa lebih hidup.
Kami mulai punya ruang dosen sendiri.
Mulai punya tempat duduk bersama.
Mulai ada obrolan-obrolan kecil sebelum dan sesudah mengajar.
Dan dari obrolan ringan itulah saya mulai belajar banyak hal.
Tentang jenjang karier dosen.
Tentang BKD.
Tentang penelitian.
Tentang pengabdian.
Tentang publikasi.
dan tentang akreditasi.
Saya baru sadar: ternyata menjadi dosen itu banyak sekali "maratonnya".
***
Saya masih ingat ketika pertama kali ingin mengurus jabatan fungsional.
Salah satu syaratnya adalah memiliki publikasi artikel sebagai penulis pertama.
Masalahnya, selama dua tahun mengajar saya belum pernah publikasi sama sekali.
Penelitian belum ada.
Pengabdian pun belum pernah benar-benar dilakukan.
Lalu saya harus menulis apa?
Di titik itulah kami mulai bergerak bersama.
Mulai membuat penelitian sederhana.
Mulai melakukan pengabdian.
Mulai belajar menulis artikel dan membiasakannya setiap semester.
Mulai saling membantu memahami sistem yang sebelumnya terasa rumit.
Dan perlahan-lahan, semuanya mulai berjalan.
***
Sampai akhirnya hari ini, alhamdulillah saya sudah sampai di jabatan lektor.
Kalau dipikir sekarang, perjalanan itu ternyata cukup panjang juga.
Dan yang paling saya syukuri bukan hanya tentang jabatannya.
Tapi tentang orang-orang yang hadir selama prosesnya.
Karena saya akhirnya sadar: dunia akademik tidak bisa dijalani sendirian.
Dosen mungkin terlihat sibuk dengan target masing-masing.
Tapi pada akhirnya, banyak hal hanya bisa dilewati kalau saling membantu.
Saling mengingatkan.
Saling support.
Saling berbagi informasi.
Dan kadang, saling menguatkan saat sama-sama lelah.
***
Semakin lama menjadi dosen, saya justru semakin merasa bahwa lama mengajar bukan berarti paling tahu segalanya.
Kadang dosen yang baru masuk justru punya semangat dan kemampuan yang jauh lebih hebat.
Dan itu tidak masalah.
Karena dunia akademik seharusnya memang bukan tempat untuk merasa paling tinggi.
Melainkan tempat untuk terus belajar.
***
Pada akhirnya, bagi saya menjadi dosen bukan hanya tentang mengajar di kelas.
Ada banyak proses kehidupan yang ikut tumbuh di dalamnya.
Belajar bekerjasama.
Belajar memahami orang lain.
Belajar menerima perbedaan.
Belajar legowo terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan terlalu jauh.
Karena persinggunan antarmanusia pasti akan selalu ada.
Dan mungkin kedewasaan bukan tentang menghindari itu semua.
Tetapi tentang tetap bisa berjalan bersama meskipun isi kepala setiap orang tidak pernah benar-benar sama.
Dan setelah delapan tahun ini, saya akhirnya mengerti satu hal sederhana:
ternyata menjadi dosen bukan soal siapa yang paling pintar berjalan sendiri. Tetapi siapa yang mau tetap belajar, tetap bertumbuh, dan tetap berjalan bersama orang lain.

No comments:
Post a Comment