Sudah hampir dua minggu saya tidak olahraga.
Bahkan sekadar jalan santai muterin lapangan sepak bola pun tidak sempat. Entah karena hujan yang belakangan rajin datang pagi dan sore, atau karena pulang dari kampus selalu sudah terlalu petang untuk memulai olahraga.
Weekend pun ikut lewat begitu saja.
Kadang ada anak yang sakit.
Kadang ada urusan pergi.
Kadang memang tubuh dan pikiran sama-sama memilih rebahan dibanding bergerak.
Dan akhirnya, efeknya mulai terasa.
Badan pegal-pegal. Tidur tidak nyaman. Mood gampang naik turun. Pokoknya tubuh mulai protes seperti mahasiswa yang revisinya belum disentuh dosen pembimbing.
***
Hari ini kebetulan tanggal merah.
Dalam hati saya sudah membayangkan: "Ah, akhirnya bisa olahraga sebentar buat menyelamatkan kewarasan".
Walaupun ya... sebagai ibu dengan tiga anak, konsep me time itu sebenarnya cukup abstrak.
Karena bahkan saat ingin olahraga sendiri pun, tetap ada kemungkinan berangkat bersama anak-anak.
Dan benar saja. Akhirnya saya pergi ke lapangan ditemani dua anak.
Jujur saja, sebenarnya ada sedikit rasa malas membawa mereka.
Bukan karena tidak senang bersama anak, tapi karena pengalaman selalu mengajarkan: kalau dua anak sudah berkumpul di satu tempat, kemungkinan damai itu tipis.
Biasanya ada saja yang bikin: rebutan; nangis; ngambek; atau tiba-tiba minta pulang saat saya baru mulai pemanasan.
Tapi ya sudahlah.
Kalau ditinggal di rumah juga kasihan uti dan akungnya. Di rumah masih ada si bungsu yang memang tidak saya ajak ke lapangan.
Akhirnya, berangkatlah kami bertiga pagi tadi.
***
Saya mulai berjalan memutari lapangan seperti biasa.
Baru putaran pertama, si kakak bilang, "ummi, pipis".
Subhanallah.
Untung saja ada masjid di depan lapangan. Jadi olahraga pagi ini resmi dimulai dengan menemani anak ke toilet.
Selesai urusan pipis, lanjut lagu muter lapangan.
Dan jujur, memulai olahraga lagi setelah lama berhenti ternyata berat juga. Badan rasanya seperti sedang negosiasi.
"Yakin mau lanjut?"
"Rebahan aja gimana?"
Tapi, ya harus semangat kan?
Putaran kedua aman.
Putaran ketiga juga masih terkendali.
Masuk putaran keempat, tiba-tiba langkah terasa aneh.
Ada yang terasa longgar di kaki.
Saya lihat ke bawah.
Dan ternyata....
Sepatu saya copot bagian alasnya. Benar-benar mangap. Persis seperti orang kelaparan yang belum makan dua hari.
Ya Allah...
target jalan kaki belum tercapai, sepatu sudah menyerah duluan.
Sepertinya dia juga kaget melihat pemiliknya tiba-tiba semangat olahraga lagi setelah jeda hampir dua minggu.
![]() |
| Sepatu dah mangap kelaperan |
***
Tapi karena semangat masih ada, saya lanjut saja berjalan.
Dengan teknik baru tentunya: lari kecil sambil berharap injakan kaki bisa membuat sepatu "ngelem sendiri".
Tidak ilmiah memang. Tapi kadang manusia memang suka berharap pada hal-hal yang tidak masuk akal.
Sementara itu, anak-anak duduk menunggu di motor sambil sesekali memperhatikan saya yang berjalan dengan sepatu setengah pensiun.
Dan entah kenapa, di momen seperti itu saya merasa hidup memang lucu.
Dulu waktu belum punya anak, olahraga tinggal pakai sepatu lalu pergi.
Sekarang?
Olahraga bisa berubah menjadi: nemenin pipis, melerai anak, ngejar target langkah, sambil memastikan sepatu tidak benar-benar tercerai-berai di tengah lapangan.
***
Akhirnya saya bertahan sampai putaran ketujuh.
Tubuh mulai lelah.
Nafas mulai berat.
Saya pun duduk sebentar untuk istirahat.
Lalu.. Handphone berdering.
Dan biasanya, seorang ibu tahu: telepon di saat seperti itu jarang membawa kabar santai.
Benar saja.
Dari rumah dikabarkan si bungsu demam dan muntah-muntah.
Di titik itu saya cuma diam sebentar, sambil sinar matahari membelai lembut wajah yang berkeringat.
Hmmm... cobaan apa lagi ini ya Allah?
Libur yang sebelumnya saya bayangkan akan diisi dengan sedikit ketenangan, olahraga, dan me time, mendadak berubah menjadi mode siaga.
Dan anehnya, kehidupan ibu-ibu memang sering seperti itu.
Kita merencanakan istirahat.
Tapi hidup punya agenda lain.
***
Namun di perjalanan pulang tadi saya berpikir satu hal.
Mungkin bagi seorang ibu pekerja, terutama yang juga menjadi dosen, hidup memang jarang benar-benar tenang.
Selalu ada yang dipikirkan.
Selalu ada yang dikerjakan.
Selalu ada yang diprioritaskan sebelum diri sendiri.
Kadang kita hanya ingin satu jam saja untuk bernafas pelan, olahraga santai, atau menikmati pagi tanpa drama.
Tapi seringkali, justru di tengah kekacauan kecil itulah hidup berjalan.
Di antara sepatu copot.
Anak pipis mendadak.
Target olahraga yang tidak tercapai.
Dan telepon dari rumah yang membuat langkah harus segera dipercepat pulang.
Mungkin memang begitu bentuk kehidupan seorang ibu.
Tidak selalu rapih.
Tidak selalu sesuai rencana.
Tidak selalu tenang.
Tapi tetap dijalani.
Tetap diusahakan.
Tetap kuat, meskipun sambil menghela nafas panjang.
Dan saya rasa, itu juga bentuk cinta yang paling sederhana.

No comments:
Post a Comment