Ketika Penyuluhan Berubah Menjadi Simulasi Evakuasi Massal

Hari ini kegiatan pengabdian masyarakat berlangsung cukup menyenangkan. 

PKM Prodi Agribisnis UNU Lampung

    Mahasiswa diminta praktik langsung melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Jadi, posisi kami para dosen hari ini lebih banyak mengamati, menilai, dan sesekali membantu jika ada bagia yang mulai tidak terkendali.

Keadaan masih kondusif sewaktu mahasiswa memberikan penyuluhan

    Mitranya adalah Kelompok Wanita Tani (KWT). Kurang lebih ada sekitar 15 ibu-ibu peserta dari KWT dan 18 mahasiswa yang bertugas menjadi penyuluh hari ini. Sebagian membawa catatan kecil, sebagian membawa rasa penasaran, sebagian membawa anak kecil bahkan bayi yang turut meramaikan suasana dan sebagian membawa banyolan. Nah, yang terakhir ini yang bikin suasana jadi happy sepanjang kegiatan. Banyolan khas ibu-ibu, ngapak lagi kan. "Ora ngapak, ora kepenak".

    Topik penyuluhannya cukup menarik. Pembuatan ecoenzym dan Pupuk Cair Organik (POC). Bahan dasarnya ada yang dari kulit nanas, sayuran segar, sampah sisa dapur, pelepah pisang dan urin sapi.

    Mahasiswa dibagi menjadi enam kelompok. Masing-masing tampil bergantian menjelaskan materi dan mempraktikkan proses pembuatannya secara langsung. Tidak lupa mahasiswa sudah membawa sampel hasil dari praktik sebelumnya di rumah.

    Dan jujur saja, melihat mahasiswa berdiri di depan masyarakat selalu menjadi pengalaman yang menarik.  Karena saat praktik seperti itu, mereka bukan hanya diuji soal penguasaan materi. Mereka juga belajar: bagaimana berbicara dengan masyarakat, bagaimana menghadapi audiens, bagaimana menjelaskan hal teknis dengan bahasa sederhana, dan bagaimana tetap tenang ketika situasi di lapangan tidak sesuai rencana. 

    Yang terakhir itu ternyata yang paling penting.

***

    Secara umum semua kelompok berjalan lancar. Ibu-ibu KWT terlihat sangat antusias. Mereka aktif menjawab pertanyaan, ikut berdiskusi, bahkan semangat sekali ketika mahasiswa mulai membagikan doorprize kecil-kecilan.

    Ada kebahagiaan sederhana ketika melihat suasana penyuluhan terasa hidup seperti itu.

    Karena keberhasilan penyuluhan sebenarnya bukan di seberapa panjang materi disampaikan, tetapi di seberapa nyaman orang mau terlibat dalam percakapan.

    Dan ibu-ibu hari ini benar-benar membuat suasasna terasa hangat, meskipun faktanya sangat panas dan bikin keringat mengalir deras.

***

    Namun, seperti banyak kegiatan lapangan lainnya, selalu ada satu momen yang akhirnya paling diingat dibanding seluruh rangkaian acara.

    Dan momen itu datang dari kelompok terakhir.

    Mereka mendapat tema : Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Urin Sapi.

    Awalnya semua terlihat normal.

    Mahasiswa datang dengan penuh percaya diri sambil membawa sebuah drigen berukuran cukup besar. Dari wajah mereka terlihat meyakinkan bahwa praktik kali ini akan berjalan sukses. 

    Sampai akhirnyaa.... 

    Drigen itu dibuka.

    Dan dalam hitungan detik, keadaan berubah drastis.

***

    Aroma urin sapi langsung menyerbu area praktik tanpa ampun.

    Bukan aroma yang samar-samar.

    Bukan juga aroma yang masih bisa ditoleransi sambil pura-pura kuat.

    Ini tipe aroma yang membuat manusia tiba-tiba mempertanyakan keputusan hidupnya. Diam di tempat atau lariiii!!!

    Masalahnya, urin yang dibawa ternyata belum difermentasi.

    Jadi ketika tutup drigen dibuka, angin siang itu dengan sangat setia membantu menyebarkan aromanya ke segala arah.

    Dan pemandangan berikutnya benar-benar di luar materi penyuluhan.

    Ibu-ibu mulai bubar perlahan meninggalkan panggung sandiwara mahasiswa.

    Beberapa menutup hidung. Ada yang batuk-batuk. Ada yang mual bahkan sampai muntah. Perut rasanya seperti dikocok atau mabok laut. Mirip-miriplah.

    Yang paling lucu, dosen-dosennya pun ikut menyelamatkan diri. Siapa yang mau tenggelam bersama aroma urin busuk itu hah???

Keadaan saat masih kondusif untuk foto-foto

    Tidak ada lagi wibawa akademik saat itu. Semua setara di hadapan aroma urin sapi.

***

    Saya masih ingat bagaimana area praktik mendadak berubah seperti simulasi evakuasi darurat. Padahal beberapa menit sebelumnya suasana masih penuh diskusi ilmiah tentang pembuatan ecoenzyme dan pupuk cair organik. Bahkan di kelompok pertama, aroma ecoenzyme dari kulit nanas begitu wangi atau harum. Tapi kenapa di akhir sesi justru aroma urin yang hadir menggantikannya??

produk ecoenzyme kulit nanas hasil praktik mahasiswa

    Untung saja itu kelompok terakhir.

    Kalau bukan, mungkin setelah itu tidak ada lagi peserta yang bersedia mendekat ke area praktik. 

    Dan untungnya, ibu-ibu KWT tetap tertawa menghadapi kekacauan kecil tersebut. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang tersinggung. Justru suasana berubah menjadi penuh cerita dan candaan.

    Kadang memang kegiatan lapangan yang paling diingat bukan yang paling sempurna, tetapi yang paling manusiawi dan yang paling memberi kesan.

***

    Di balik kejadian lucu hari ini, saya rasa ada pelajaran sederhana yang cukup penting untuk mahasiswa.  Bahwa praktik lapangan tidak selalu berjalan sesuai teori di kelas. 

    Kadang alat yang dipersiapkan bermasalah. Kadang situasi berubah tiba-tiba. Kadang ada hal-hal kecil yang luput diperhatikan, tetapi justru menjadi pusat perhatian semua orang.

    Dan dari situ mahasiswa belajar satu hal penting: bahwa ilmu di lapangan bukan hanya soal benar atua salah, tetapi juga soal kesiapan menghadapi keadaan yang tidak terduga.

***

    Namun di luar semua kekacauan aroma tadi, saya cukup senang melihat bagaimana mahasiswa mulai belajar berbicara langsung dengan masyarakat.

    Karena menjadi sarjana bukan hanya tentang memahami teori.

    Tetapi juga tentang: mampu menjelaskan ilmu dengan sederhana; mampu berinteraksi dengan masyarakat; dan mampu tetap tenang.... meskipun sedang dikejar aroma urin sapi yang menyengat ke segala arah.

    Dan saya rasa, itu adalah bentuk pembelajaran yang tidak akan mudah mereka lupakan.

    Well, apapun cerita hari ini, terimakasih sudah membuat suasana hati saya baik dan semakin baik. 









No comments:

Post a Comment

Ternyata Menjadi Dosen Tidak Sesepi Itu!!

Foto bersama dosen FP3 Kurang lebih sudah delapan tahun saya menyandang title sebagai dosen. Kalau dipikir-pikir, delapan tahun itu bukan wa...