Kenapa Ruang Ujian Skripsi Selalu Terasa Lebih Panas?
Ruang ujian skripsi selalu terasa berbeda.
Entah kenapa, meskipun pendingin ruangan menyala sejak pagi, suasananya tetap terasa lebih panas dibanding hari-hari biasa. Mungkin bukan karena suhu ruangan yang berubah, melainkan karena ada banyak kepala yang dipenuhi kecemasan di dalamnya.
Dalam pandangan saya, mahasiswa yang akan menjalani sidang skripsi seharusnya sudah cukup siap. Mereka sudah melewati proses panjang: menyusun penelitian, revisi berkali-kali, bertemu dosen pembimbing, memperbaiki kesalahan kecil yang tidak pernah benar-benar habis. Bahkan mungkin ada yang semalaman berlatih presentasi di depan cermin atau membaca ulang isi skripsinya sampai dini hari.
Namun anehnya, ketika sudah duduk di kursi sidang, semua persiapan itu kadang seperti menguap begitu saja.
Jawaban yang sebelumnya terasa lancar mendadak sulit keluar. Tangan mulai dingin. Nada bicara berubah. Pikiran-pikiran sebelum masuk ruang sidang sering kali lebih kuat dibanding kesiapan yang sudah dibangun jauh-jauh hari.
Mungkin memang seperti itu rasanya diuji.
Bukan hanya diuji tentang isi skripsi, tetapi juga diuji tentang seberapa tenang seseorang menghadapi rasa takutnya sendiri.
***
Ada satu bagian dari sidang skripsi yang selalu saya sukai.
Bukan ketika mahasiswa mempresentasikan hasil penelitiannya. Bukan juga saat penguji mulai melontarkan pertanyaan demi pertanyaan.
Melainkan bagian akhir, ketika suasana mulai sedikit mencair dan percakapan perlahan bergerak ke arah yang lebih personal.
Di sesi itu, mahasiswa biasanya tidak lagi berbicara sebagai peserta sidang. Mereka mulai berbicara sebagai manusia yang sedang menyelesaikan satu fase penting dalam hidupnya.
Di situlah sering muncul cerita-cerita yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
Dan di bagian itu pula, saya sering merasa bahwa air mata kadang mampu menjelaskan banyak hal yang tidak sanggup disampaikan kata-kata.
***
Siang kemarin, di sebuah ruang sidang yang sebenarnya cukup dingin, seorang mahasiswa diminta menyampaikan beberapa kalimat setelah sidangnya selesai.
Awalnya semua berjalan biasa saja.
Ucapan terima kasih mengalir lancar dari bibirnya. Ia berterima kasih kepada dosen penguji, dosen pembimbing, dan semua orang yang sudah membantunya sampai di titik itu.
Kata itu ditujukan kepada dosen pembimbingnya.
Dengan suara yang mulai pelan, ia merasa belum mampu memberikan jawaban terbaik selama sidang berlangsung. Setelah itu, matanya mulai memerah. Beberapa kali ia mencoba menahan tangis, tetapi suaranya mulai bergetar.
Sebagai ketua sidang, saya melihat ada sesuatu yang jauh lebih besar dibanding rasa gugup karena ujian.
Atau mungkin, ada perasaan bahwa semua perjuangan ini belum benar-benar mampu membalas pengorbanan orangtuanya.
***
Ruangan mendadak menjadi lebih sunyi.
Ia terdiam cukup lama.
Sampai akhirnya, dengan suara yang mulai terbata karena tangis yang tidak lagi bisa disembunyikan, ia berkata,
“Terima kasih ibu yang sudah mensupport saya sejauh ini.
Maaf kalau sampai sekarang saya masih menjadi beban orangtua.”
Setelah kalimat itu selesai diucapkan, ia kembali diam.
Dan entah kenapa, kalimat itu terasa tinggal cukup lama di dalam kepala saya.
***
Benarkah seorang anak adalah beban bagi orangtuanya?
Saya rasa banyak anak diam-diam pernah memiliki perasaan itu. Terutama ketika melihat orangtuanya bekerja terlalu keras, mengorbankan banyak hal, sementara dirinya sendiri merasa belum mampu memberikan apa-apa.
Padahal mungkin, menjadi anak bukan tentang seberapa cepat bisa membalas semua pengorbanan.
Karena di saat seorang anak sedang belajar menjadi dewasa, orangtua pun sebenarnya sedang belajar menjadi orangtua.
Kalimat dari dosen pembimbingnya siang itu terasa sangat menenangkan.
“Jangan pernah merasa menjadi beban bagi orangtua.
Maafkan orangtua jika dalam bersikap mereka sering lupa bahwa kamu juga baru pertama kali menjadi anak.
Dan maafkan juga orangtua, karena menjadi orangtua pun adalah proses yang baru pertama kali mereka jalani.”
Setelah kalimat itu selesai diucapkan, ruang sidang terasa berubah.
Bukan lagi sekadar ruang ujian skripsi.
Melainkan ruang kecil tempat manusia saling memahami luka, perjuangan, dan perannya masing-masing dalam hidup.
Dan mungkin memang begitu hidup berjalan.
Kita semua sebenarnya sedang belajar menjalani peran yang belum pernah kita jalani sebelumnya.

No comments:
Post a Comment