Sebagai dosen, kadangkala kita mengalami dilema soal pemberian nilai kepada mahasiswa. Apalagi kalau mengajar di kampus swasta. Tidak semua kampus swasta memang "mudah" dalam memberikan penilaian hasil kinerja mahasiswa. Akan tetapi, sudah menjadi rahasia umum, di kampus swasta cenderung mudah untuk mendapatkan nilai lebih baik dibandingkan kampus negeri. Namun demikian, setiap pribadi dosen memiliki prinsip masing-masing. Ada dosen yang mengajar di kampus swasta, tapi pemberian nilai tetap harus melalui prosedur yang seharusnya. Ada dosen yang memang "tidak pelit" dalam memberikan nilai, yang penting rajin berangkat mahasiswanya.
![]() |
| Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas |
Untuk tipe dosen yang pertama, saya rasa saya adalah salah satunya. Saya adalah dosen yang tidak segan memberikan nilai D dan E kepada mahasiswa saya. Kenapa tidak? Karena memang mahasiswa tersebut tidak pernah masuk, nilai tugas tidak ada, hanya datang saat UTS dan PAS, itu pun nilai UTS dan PAS nya tidak bagus. Mungkin karena tidak pernah berangkat kuliah, jadi tidak tahu harus menjawab apa pada lembar jawabnya. Dalam memberikan penilaian-sebagai evaluasi hasil belajar- mahasiswa tentu ada tata caranya. Salah satunya, di awal pembelajaran kita sudah menyepakati persentase pembagian dari setiap poin yang dinilai seperti kehadiran, tugas, UTS dan PAS. Setelah satu semester berlalu, dan hasil belajar mahasiswa kita evaluasi, tentu kita akan mendapatkan data nilai mata kuliah yang kita ampu dari mahasiswa kita. Sedih rasanya, jika rata-rata nilai kelas pun sangat rendah. Seringkali saya merenung, apakah ini kesalahan saya sebagai dosen? Mengapa mahasiswa saya nilainya banyak yang rendah? Apakah cara mengajar saya salah? Apakah saya harus mengganti metode belajar saya? Di sisi lain, bahan ajar sudah saya berikan sebelum pembelajaran diimulai, yakni di elektronik website akademik (smartunulampung). Harusnya, mahasiswa bisa mempelajari atau membaca sebelum kelas dimulai. Saya pun selalu bertanya di dalam kelas, adakah yang tidak jelas
dengan penjelasan saya? Ada yang mau ditanyakan? Tetapi, seringkali tidak ada respon dari mahasiswa. Mahasiswa diam, saya pun menganggap mereka sudah paham dengan penjelasan saya. Walau sebenarnya saya juga ragu, apa benar mereka sudah paham. Setiap minggu, saya juga memberikan tugas mandiri. Harapan saya, dengan tugas mandiri ini mahasiswa bisa belajar di rumah. Membuka catatan di kelas, dan kemudian membaca bahan ajar yang sudah saya berikan. Tapi, jika ternyata nilai akhir dari mata kuliah itu rendah, bahkan rata-rata nilai kelas, lalu bagaimanakah ini? Apakah soalnya terlalu sulit? Padahal soal yang saya berikan sudah saya ukur sesuai dengan kemampuan mahasiswa. Soal yang saya berikan, sudah saya ulas di dalam kelas. Juga sudah dikerjakan mahasiswa sebagai tugas mingguan. Hmmm... Jadi apa penyebab yang sebenarnya? Adakah mahasiswa yang malas belajar? Beberapa mata kuliah bahkan ujiannya dilaksanakan secara open book, tapi kenyataannya nilai yang didapatkan juga rendah. Kalau sudah begini, alamat dosen kerja dua kali. hehehe...
Ya, saya selalu memberikan kesempatan perbaikan nilai kepada mahasiswa saya. Durasi waktunya, biasanya satu minggu sejak nilai terpublikasi di Sistem Langitan. Dalam satu minggu, mahasiswa saya minta untuk mengerjakan perbaikan. Setiap mahasiswa akan berbeda-beda penugasannya tergantung dari poin mana yang rendah (tugas, UTS atau PAS). Setelah satu minggu, mahasiswa yang tidak melakukan perbaikan ya nilai di sistem langitan akan apa adanya. Jika ada perubahan, berarti bukan saya yang merubah. Sudah di luar tanggung jawab saya sebagai dosen. Penilaian saya terhadap mata kuliah yang saya ampu biasanya terdiri dari: kehadiran 10%, tugas 25%, UTS 30% dan PAS 35%. Persentase ini bisa berubah sesuai dengan kesepakatan mahasiswa di awal kontrak perkuliahan.
Menurut saya, metode evaluasi yang saya lakukan efektif bagi mahasiswa agar di semester selanjutnya memperbaiki sikap dan perilakunya dalam belajar. Karena tidak hanya satu semester bukan mahasiswa akan bertemu saya? Jadi saya menekankan bahwa metode pembelajaran yang saya lakukan "seperti ini", dimana tugas mingguan selalu ada. Maka, mahasiswa harus bisa menyesuaikan.
Pada dasarnya, proses pembelajaran ini tidak semata-mata untuk melihat capaian nilai dalam wujud angka pada mata kuliah yang saya ampu. Tetapi saya melihat proses mereka, kesungguhan mereka dalam belajar, dan usaha mereka dalam memaksimumkan kemampuannya. Hal ini berguna bagi saya, pada saat membimbing mahasiswa skripsi, saya akan tahu siapa saja mahasiswa yang "berpotensi" untuk diberikan judul penelitian yang secara level lebih rumit. Tentu saja bukan dalam rangka mempersulit mahasiswa, tentu bukan. Sebagai dosen kita pasti tahu, setiap Program Studi memiliki rencana strategis penelitian. Capaian penelitian yang harus dicapai, untuk nantinya digunakan dalam akreditasi program studi. Kaitannya dengan mahasiswa adalah, tentu justru akan menyulitkan nantinya ketika kita memberikan judul skripsi yang dimana kemampuan mahasiswa belum "layak" mengerjakan judul tersebut. Ini bisa kita lihat dari "keseharian" mereka dalam mengikuti pembelajaran selama kurang lebih 7 semester. Mahasiswa yang tidak pernah hadir, sebut saja mahasiswa "siluman", kemudian ketika tiba waktunya skripsi kita berikan judul skripsi yang levelnya menengah ke atas, tentu akan menyulitkannya. Oleh karena itu, penting bagi dosen untuk mengetahui karakter dan juga perilaku mahasiswanya dalam proses pembelajaran. Semoga cerita singkat ini bisa memberikan gambaran bagi rekan-rekan dosen baru untuk menentukan sikap dan keputusannya terutama dalam evaluasi hasil pembelajaran mahasiswanya.

Comments
Post a Comment