![]() |
| Lebaran Idul Fitri 2024 terasa sepi karena bapak dan ibu di rumah sakit |
Idul Fitri adalah hari yang identik dengan kebahagiaan. Setelah puasa selama satu bulan penuh, idul fitri dinanti-nanti untuk bisa saling berkumpul dan silaturrahim dengan keluarga, kerabat dan sahabat. Bahkan sejak jauh-jauh hari kita sudah mempersiapkan baju lebaran, angpau, kue-kue lebaran untuk persiapan idul fitri. Walau pengeluaran biasanya jauh membengkak, tapi justru jebahagiaan yang kita rasakan.
Pun dengan idul fitri tahun ini, suami saya libur lebih lama dibandingkan lebaran-lebaran sebelumnya. Bayangan ingin berkunjung ke rumah teman-teman sudah direncanakan. Tetapi qodarullah, lebaran tahun ini justru kami terbaring sakit, terpapar DBD.
Awal mula yang terkena DBD adalah adik saya, bahkan harus rawat inap di rumah sakit dua hari sebelum lebaran. Jadilah bapak dan ibu saya menunggu adik saya di rumah sakit. Hmmm... Begini ya rasanya lebaran pertama tidak ada bapak dan ibu di rumah. Selesai sholat idul fitri, saya dan suami berkunjung ke rumah sakit untuk berlebaran dengan bapak dan ibu. Sorenya, ternyata adik saya sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah.. Esok harinya, lebaran kedua, bapak munta-muntah, demam, menggigil dan pusing. Lalu malamnya, berangkat ke rumah sakit dan harus opname. Jadilah, bapak dan ibu bermalam lagi di rumah sakit. Esok harinya, giliran saya yang demam, menggigil, dan pusing sekali. Ya, tepat lebaran ketiga, saya sakit dan tidak bertenaga. Saya pun periksa dan check darah di rumah sakit. Hasilnya trombosit turun dan harus dirawat inap. Saya menolak, karena saya memiliki bayi di rumah. Di lain itu, adik saya yang baru pulang dari rumah sakit belum sembuh total. Suami dan anak-anak saya tidak mungkin saya tinggal. Saya pun tidak ada yang menemani kalau dirawat di rumah sakit 😓 Jadi saya memutuskan untuk rawat jalan.
Hari kelima ibu saya pulang dari rumah sakit, dengan tujuan merawat saya di rumah sehingga suami bisa fokus ke anak-anak. FYI, suami sebetulnya juga sudah habis cuti dan harus kembali bekerja. Tapi saya tahan karena di rumah benar-benar tidak ada yang bisa merawat saya atau menemani saya menjaga anak-anak. Lebaran keenam, gantian ibu saya yang demam, menggigil, pusing dan lemas. Siang bapak pulang dari rumah sakit, malamnya ibu berangkat ke rumah sakit untuk opname. Subhanallah, benar-benar lebaran yang menyedihkan dan tidak terduga kami akan sakit bergiliran seperti ini. Bersyukur, anak-anak saya tidak sampai demam dan sakit.
Sepuluh hari berlalu sejak idul fitri, suami pun sudah pulang ke bekasi untuk bekerja. Hari-hari sudah seperti biasa karena kegiatan belajar mengajar di kampus sudah masuk. Seketika saya di telpon ibu mertua, suami di rawat di rumah sakit karena types. Ya Allah, tenang-tenang-tenang. Semua ujian kesulitan akan diikuti dengan kemudahan. Ya sudah karena saya dan suami berjauhan, saya putuskan tidak pulang ke bekasi. Jadi suami ditemani ibu mertua di rumah sakit.
Alhamdulillah, sekarang semua sudah sehat. Tinggal anak-anak yang masih ada sisa-sisa pilek dan batuk dari minggu lalu. Ya Allah, semoga anak-anak, saya dan suami serta keluarga besar diberikan kesehatan agar bisa menjalani hari-hari dengan bahagia. Aamiin ya Rabb.

Comments
Post a Comment