Di dunia kerja, sering kali kita terlalu fokus pada target, laporan, deadline, dan berbagai pekerjaan yang harus diselesaikan. Hari demi hari berlalu dengan ritme yang hampir sama. Datang ke kantor, bekerja, menghadiri rapat, menyelesaikan tugas, lalu pulang. Tanpa disadari, hubungan antarindividu di dalam organisasi terkadang hanya sebatas hubungan profesional.
Padahal, saya semakin percaya bahwa sebuah pekerjaan akan berjalan lebih baik ketika hubungan emosional di antara orang-orang yang mengerjakannya juga terbangun dengan baik.
Kita mungkin bekerja di institusi yang sama, duduk di ruangan yang berdekatan, bahkan bertemu hampir setiap hari. Namun belum tentu kita benar-benar saling mengenal. Belum tentu kita memahami apa yang sedang dipikirkan teman kerja kita, tantangan yang mereka hadapi, atau sekadar cerita-cerita sederhana tentang kehidupan mereka di luar pekerjaan.
Di lingkungan kampus, khususnya di fakultas kami, tekanan pekerjaan tentu bukan hal yang asing. Ada target yang harus dicapai, administrasi yang harus diselesaikan, kegiatan akademik yang harus dijalankan, hingga berbagai deadline yang datang silih berganti. Dalam situasi seperti ini, menjaga kesehatan hubungan antar rekan kerja menjadi sesuatu yang penting.
Karena itulah, kami mencoba membangun kebersamaan melalui hal-hal yang sederhana. Tidak selalu harus melalui kegiatan besar, pelatihan mahal, atau acara yang dirancang secara formal. Kadang-kadang cukup dengan meluangkan waktu untuk duduk bersama, berbincang santai, lalu menikmati makanan di tempat yang berbeda dari biasanya.
Ada sebuah pepatah yang cukup sering kita dengar: kebersamaan dimulai dari makanan. Mungkin terdengar sederhana, tetapi saya mulai merasakan kebenarannya.
Saat makan bersama, pembicaraan yang muncul biasanya jauh lebih cair. Tidak selalu tentang pekerjaan. Kadang tentang keluarga, pengalaman masa kuliah, cerita lucu saat mengajar, hobi, atau bahkan hal-hal sepele yang justru membuat suasana menjadi hangat. Dari situ kita mulai mengenal satu sama lain sebagai manusia, bukan hanya sebagai rekan kerja dengan jabatan dan tugas masing-masing.
Belakangan ini kami memang mulai lebih sering makan di luar bersama. Bukan karena tidak ada pekerjaan, justru karena pekerjaan sedang banyak-banyaknya. Momen makan bersama menjadi semacam jeda sejenak untuk mengurangi ketegangan, mengisi ulang energi, dan mengingatkan diri bahwa kita tidak sedang berjuang sendirian.
Menariknya, setelah hubungan menjadi lebih dekat, komunikasi dalam pekerjaan juga terasa lebih mudah. Diskusi menjadi lebih terbuka. Koordinasi menjadi lebih lancar. Ketika ada masalah, orang tidak segan untuk saling membantu. Ketika ada perbedaan pendapat, semuanya bisa dibicarakan dengan lebih santai dan dewasa.
Saya belajar bahwa membangun tim yang solid tidak selalu dimulai dari ruang rapat. Kadang justru dimulai dari satu meja makan yang sama.
Pada akhirnya, organisasi bukan hanya kumpulan aturan, struktur, dan program kerja. Organisasi adalah kumpulan manusia dengan berbagai karakter, harapan, dan tantangannya masing-masing. Dan sebagaimana hubungan lainnya, kebersamaan di tempat kerja juga perlu dirawat.
Mungkin caranya tidak harus selalu sama. Bisa dengan makan siang bersama, minum kopi setelah jam kerja, atau sekadar menyempatkan diri untuk bertanya, "Apa kabar hari ini?"
Karena sering kali, pekerjaan yang berat akan terasa lebih ringan ketika dikerjakan bersama orang-orang yang memiliki hubungan yang baik satu sama lain.
Dan siapa sangka, semua itu bisa dimulai dari satu ajakan sederhana:
"Ayo, makan di luar hari ini." 😊






.jpeg)
.jpeg)
