Hari Minggu itu selalu punya harapan yang sama.
Santai.
Rebahan.
Minum teh atau kopi tanpa buru-buru.
Dan kalau bisa… tidak mendengar kata:
“Umiii…”
minimal
selama lima belas menit.
Karena
setelah empat hari (kebetulan minggu ini ada libur tanggal merah dan cuti) berkutat dengan pekerjaan kampus, mengajar, mahasiswa,
revisi, dan segala drama kehidupan orang dewasa, rasanya hari Minggu memang
identik dengan keinginan untuk sedikit memulihkan kewarasan.
Tapi
ya begitulah hidup emak-emak.
Semesta
sering kali punya agenda lain.
![]() |
| Belajar Tahsin sama Ibu Guru |
***
Hari
ini sebenarnya ada agenda di sekolah anak saya.
Sekolah
mengadakan kegiatan tasqif untuk wali murid. Semacam penguatan atau
kajian rutin untuk orang tua siswa. Tema hari ini adalah tafsir QS. Al-Kautsar.
Dan
jujur saja, saya sebenarnya cukup semangat ingin hadir.
Karena
selama hampir setahun menjadi wali murid di sekolah anak saya, belum pernah
sekali pun saya bisa datang ke kegiatan tasqif sebelumnya.
Biasanya
acara diadakan hari Sabtu.
Dan hari Sabtu adalah hari saya mengajar di kampus.
Jadi
ketika kali ini acaranya hari Minggu dan saya sedang tidak ada agenda, dalam
hati saya langsung berkata:
“Pokoknya harus hadir.”
Niatnya
sudah kuat sekali.
Tapi
seperti biasa…
ujian pertama seorang ibu bukan dimulai di luar rumah.
Melainkan
di dalam rumah sendiri.
***
Undangan
dimulai jam 8 pagi.
Namun
sampai jam 9…
saya masih belum siap berangkat.
Entah
kenapa pagi ini anak-anak seperti sedang menguji kesabaran ibunya berjamaah.
Dari
bangun tidur sampai menjelang jam 9, kegiatan saya isinya:
ngurus bocil,
nyuci,
beberes,
gendong anak,
dan menenangkan anak yang entah kenapa rewel sejak pagi.
Si
adek yang biasanya bisa tidur lagi setelah digendong, hari ini justru semakin
segar.
Sudah
dikelonin.
Sudah digendong.
Sudah dibujuk.
Tetap
saja tidak mau tidur.
Dan
yang bikin suasana makin lengkap, abang juga ikut-ikutan rewel.
Di
titik itu saya sudah hampir menyerah.
Rasanya
lebih realistis untuk rebahan di rumah dibanding memaksakan datang ke sekolah
dalam keadaan telat.
Sampai
akhirnya uti berkata:
“Udah sana siap-siap aja dulu.”
Saya
langsung menjawab,
“Lah udah telat ini. Undangannya aja jam 8.”
Dan
seperti kebanyakan orang tua yang sudah kenyang pengalaman datang ke acara
tepat waktu tapi acaranya belum mulai, uti menjawab santai:
“Paling juga belum dimulai.”
Ditambah
lagi suasana pagi tadi gerimis dan mendung.
Akhirnya
si adek diajak keluar sama uti dan abang untuk bermain sebentar.
Dan
saya pun mulai siap-siap dengan kecepatan emak-emak yang sudah pasrah tapi
tetap berusaha.
***
Sampai
di sekolah, ternyata benar.
Acara
masih berlangsung di sesi sambutan.
Masjid
sekolah sudah cukup ramai oleh wali murid.
Dan
seperti kebanyakan acara sekolah lainnya, jumlah ibu-ibu jauh lebih banyak
dibanding bapak-bapak.
Saya
kadang memang penasaran.
Kenapa
ya urusan sekolah anak lebih sering dihadiri ibu dibanding ayah?
Padahal
kalau dipikir-pikir, anaknya kan milik bersama.
Atau
mungkin memang para ibu punya kekuatan khusus:
tetap datang ke acara sekolah meskipun sebelumnya sudah bertarung dengan drama
rumah sejak pagi.
***
Setelah
sambutan, acara dilanjutkan dengan sosialisasi koperasi sekolah.
Programnya
ada tabungan hari raya dan arisan barang.
Sampai
siang tadi saya masih belum tergoda untuk ikut.
Entahlah.
Mungkin karena isi kepala emak-emak sudah terlalu penuh dengan rincian anggaran kehidupan lainnya.
***
Acara
kemudian dilanjutkan dengan belajar tahsin untuk wali murid.
Materinya
QS. Al-Ikhlas dan Al-Lahab.
Dan
jujur saja, bagian ini ternyata cukup menyenangkan.
Saya
jadi teringat masa-masa dulu saat masih sering ikut belajar tahsin di
masjid-masjid waktu kuliah.
Bahkan
saat S2 saya sempat ikut semacam kursus tahsin juga.
Walaupun
ya…
sekarang banyak lupanya.
Ternyata
hafalan orang dewasa itu unik.
Yang diingat sering kali justru lirik lagu lama dibanding panjang pendek bacaan
mad.
***
Setelah
tahsin selesai, acara dilanjutkan dengan tausiyah dari Ustad Rokib Lc tentang
tafsir QS. Al-Kautsar.
Awalnya
saya sempat berpikir:
“Ah, cuma tiga ayat.”
Tapi
ternyata pembahasannya hampir dua jam.
Dan
justru di situ saya sadar:
kadang sesuatu yang pendek belum tentu sederhana.
QS.
Al-Kautsar yang hanya terdiri dari tiga ayat ternyata punya makna yang sangat
dalam.
Tentang
nikmat.
Tentang sholat.
Tentang berkurban.
Tentang bagaimana manusia seharusnya bersyukur atas apa yang sudah diberikan
Allah.
Dan
rasanya pas sekali.
Karena besok sudah mulai 1 Dzulhijjah.
Artinya
sebentar lagi Idul Adha datang.
***
Alhamdulillah,
tahun ini saya dan keluarga bisa mulai berkurban lagi setelah beberapa tahun
sebelumnya kami lebih memprioritaskan akikah anak.
Dan
entah kenapa, mendengar pembahasan tentang kurban hari ini terasa lebih
mengena.
Mungkin
karena semakin bertambah usia, kita mulai sadar bahwa ibadah bukan hanya soal
menggugurkan kewajiban.
Tetapi
juga soal belajar ikhlas melepaskan sesuatu yang kita sayangi.
***
Di
perjalanan pulang tadi saya sempat berpikir satu hal.
Kadang
seorang ibu memang harus melewati banyak drama kecil hanya untuk bisa duduk
tenang menghadiri satu majelis ilmu.
Mulai
dari anak rewel.
Rumah yang belum rapi.
Waktu yang molor.
Sampai rasa malas yang sebenarnya sudah muncul sejak pagi.
Namun
ternyata, ada hal-hal baik yang memang perlu sedikit diperjuangkan untuk
didatangi.
Dan
mungkin hari ini saya belajar bahwa:
meskipun hidup sering terasa sibuk dan melelahkan, jiwa juga tetap perlu diisi.
Karena
tubuh manusia mungkin lelah oleh pekerjaan.
Tapi
hati…
sering kali lelah karena terlalu lama jauh dari pengingat-pengingat kebaikan.

No comments:
Post a Comment