Hallo, hari ini saya ada jadwal ngajar di kampus mata kuliah Dasar-dasar Agronomi. Materi hari ini tentang perkembangbiakan pada tanaman. Perkembangbiakan artinya proses biologis dimana tanaman menghasilkan individu baru untuk melestarikan jenisnya. Secara umum perkembangbiakan tanaman terdiri dari perkembangbiakan generatif (seksual) dan perkembangbiakan vegetatif (aseksual). Perkembangbiakan generatif yaitu perkembangbiakan melalui pembuahan, melibatkan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina yang hasilnya berupa biji. Sedangkan perkembangbiakan vegetatif adalah perkembangbiakan tanpa melalui pembuahan, yang terjadi secara alami maupun buatan.
Pada pertemuan hari ini saya membuka sesi tanya jawab dengan mahasiswa dan ada dua pertanyaan dari mahasiswa yang berhubungan dengan topik terkait.
1. Pertanyaan pertama
Para petani padi seringkali melakukan penyemprotan BOOM padi pada tanaman padi di usia 40-45 dan 50-60 hari setelah tanam. Penyemprotan padi menggunakan BOOM padi bertujuan untuk meningkatkan kualitas panen dan memperbanyak pengisian biji dan buah pada tanaman padi. Pertanyaannya, penggunaan BOOM padi apakah termasuk perkembangbiakan vegetatif buatan atau modifikasi tanaman?
2. Pertanyaan kedua
Pertanyaan (a) : Apa yang membedakan antara perkembangbiakan tanaman melalui cara generatif dan vegetatif agar tanaman cepat berbuah?
Pertanyaan (b) : Bagaimana cara kita mendapatkan keturunan F1 dari tanaman yang kita tanam? Agar dapat menghemat pembelian benih yang terlalu mahal di masa tanam selanjutnya?
Baik, pada kesempatan ini saya akan menjawab kedua pertanyaan setelah sebelumnya saya mencoba menjawab di kelas pada saat kuliah berlangsung. Namun, karena saya merasa jawaban saya saat di kelas belum sistematis dan perlu tambahan referensi serta penjelasan maka saya mencoba menerangkan lebih detail di blog ini. Untuk jawabannya sebagai berikut:
1. Jawaban Pertanyaan dari Penanya Pertama
Pertama, kita mesti tahu apa itu BOOM padi dan apa itu modifikasi tanaman. BOOM padi selama ini diketahui memiliki manfaat untuk memaksimalkan pengisian malai padi dan meningkatkan kualitas gabah sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi. Berdasarkan kandungannya, BOOM padi merupakan gabungan tiga produk yang terdiri dari Recor 250 EC, Bigest 40 EC dan produk pupuk majemuk Multi NPK Padi (Sumber Jurnal :file:///C:/Users/Lenovo/Downloads/jurnaladmin,+Artikel+9_compressPdf.pdf). BOOM Padi merupakan istilah populer yang merujuk pada paket lengkap nutrisi dan perlindungan tanaman padi, yang dirancang untuk meningkatkan hasil panen. Paket ini biasanya terdiri dari pupuk, fungisida dan zat pengatur tumbuh (ZPT). Artinya, BOOM padi merupakan salah satu jenis pupuk dan berarti merupakan salah satu jenis input produksi dalam usahatani padi. Salah satu merk dagang BOOM Padi adalah BOOM Flower. BOOM Flower merupakan suplemen tanaman yang salah satunya mengandung 2,2% nitrogen aromatik. Nitrogen aromatik ini berbeda dengan nitrogen massal yang biasa digunakan seperti urea dan amonium sulfat. Nitrogen aromatik merupakan suplemen untuk pupuk nitrogen massal dan dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dengan cepat. Cara kerja BOOM Flower adalah sebagai berikut:
- Boom flower disemprotkan pada permukaan daun. Langsung diserap tanaman melalui stomata dan dialirkan ke seluruh sistem tanaman.
- Boom flower bekerja secara translaminar dan sistemik pada jaringan tanaman.
- Bool flower bergerak melalui jaringan meristematik tanaman yang sedang tumbuh.
- Suplemen ini dapat memperkuat pertumbuhan vegetatif dengan meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi serta membantu proses pembungaan dan pembentukan buah.
Adapun yang dimaksud dengan
Modifikasi Tanaman adalah penggunaan teknik bioteknologi modern untuk merubah sifat gen dari tumbuhan. Tumbuhan yang telah dirubah dengan teknik modifikasi genetik ini biasa disebut dengan istilah Genetically Modified Organism (GMO). Ada beberapa jenis teknik modifikasi tanaman antara lain perkawinan silang, fusi protoplas, pengeditan genom, mutagenesis, poliploidi dan transgenesis. Untuk mengetahui masing-masing definisi atau konsep dari teknik modifikasi di atas bisa kita baca pada (Sumber Artikel :
https://croplifeindonesia.or.id/jenis-jenis-modifikasi-tanaman/).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka menurut hemat saya, saya dapat menyimpulkan bahwa penggunaan BOOM padi pada tanaman padi TIDAK atau BUKAN termasuk upaya perkembangbiakan vegetatif buatan maupun upaya modifikasi tanaman. Perlu diingat kembali bahwa perkembangbiakan tanaman secara vegetatif buatan adalah teknik perkembangbiakan tumbuhan yang dilakukan oleh manusia tanpa melalui proses perkawinan. Tujuannya adalah untuk memperbanyak jumlah tanaman tersebut. Sementara BOOM Padi bertujuan untuk memperbanyak jumlah produksi padi yang dihasilkan. Memang, salah satu cara kerja BOOM Padi adalah dapat memperkuat pada fase pertumbuhan vegetatif tanaman, hal ini bukan berarti BOOM Padi dapat disebut sebagai salah satu metode atau teknik perkembangbiakan vegetatif buatan. Memperkuat fase pertumbuhan vegetatif artinya tahap pertumbuhan pada tanaman yang dimulai dari tahap perkecambahan benih dimana tunas dan akar pertama mulai tumbuh. Selanjutnya, fase vegetatif terus berlanjut hingga tanaan mulai menunjukkan tanda-tanda akan berbunga. Penggunaan BOOM Padi juga bukan merupakan upaya modifikasi tanaman karena modifikasi tanaman adalah proses perubahan sifat genetik tumbuhan melalui teknik bioteknologi, khususnya rekayasa genetika, untuk menghasilkan sifat yang diinginkan, seperti tahan hama, tahan penakit atau peningkatan hasil panen. Di dalam modifikasi tanaman, sifat-sifat ini melekat sejak tanaman ini ditanam. Sementara BOOM Padi dilakukan pada saat tanaman sudah mencapai umur 40-60 hari setelah tanam. Dengan demikian, BOOM padi hanyalah salah satu upaya peningkatan jumlah produksi dengan menggunakan pupuk yang mengandung nitrogen aromatik, bukan salah satu bentuk teknik perkembangbiakan pada tanaman ataupun modifikasi tanaman.
2. Jawaban Pertanyaan dari Penanya Kedua
(a) Berdasarkan konsep atau definisi, perkembangbiakan generatif melibatkan sel kelamin jantan dan betina pada tanaman yang prosesnya dilakukan melalui penyerbukan baik secara alami maupun buatan (bantuan manusia atau hewan). Sementara perkembangbiakan vegetatif tidak melibatkan sel kelamin jantan dan betina (aseksual). Dilihat dari keuntungannya, perkembangbiakan generatif dapat menghasilkan variasi genetik baru sehingga tanaman diharapkan akan lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan. Sementara perkembangbiakan vegetatif, tujuannya untuk mempercepat menghasilkan tanaman baru dimana tanaman baru yang dihasilkan akan memiliki sifat genetik yang sama persis dengan induknya (tanpa variasi). Hal yang paling mendasar dari kedua perkembangbiakan di atas, menurut hemat saya adalah orientasi yang diinginkan atau diharapkan apakah untuk tujuan bisnis atau bukan. Jika secara generatif, dalam konteks usahatani komersil, petani akan lama dalam memperoleh hasil produksi, karena fase pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman harus dimulai dari perkecambahan atau tunas sampai nanti menghasilkan buah atau biji yang akan dipanen. Sementara, dengan metode perkembangbiakan vegetatif, petani dapat memangkas waktu fase pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman (terutama vase pertumbuhan vegetatif tanaman). Jika produk yang dihasilkan oleh petani berupa bibit tanaman, maka petani tidak perlu menunggu proses penyerbukan dan pembuahan untuk menghasilkan tanaman baru. Petani dapat melakukannya dengan sistem okulasi atau cangkok atau teknik vegetatif lainnya sehingga bibit tanaman yang dihasilkan akan lebih banyak jika dalam waktu yang sama dibanding dengan teknik generatif.
(b) Apa sih tanaman F1 atau Fillial 1? Di dalam ilmu pemuliaan tanaman, tanaman F1 adalah tanaman yang dihasilkan dari proses persilangan suatu tanaman indukan yang memiliki sifat genetik tertentu. Sebagai contoh, jika kita menyilangkan tanaman kacang berbunga merah, dengan tanaman kacang berbunga putih, maka hasil persilangan tersebut adalah tanaman F1 yang mungkin akan menghasilkan warna baru misalnya campuran merah dan putih yaitu pink. Barangkali pertanyaannya yang lebih tepat, apakah ketika petani menanam tanaman F1 kemudian panen, dan hasilnya digunakan kembali untuk benih, hasil panennya akan didapatkan kualitas yang sama?? Misalnya, petani ingin menanam kembali kacang yang berbunga pink (karena di pasaran mungkin belum ada benih serupa). Bagaimana mendapatkan benih kacang berwarna pink yang bermutu??
Salah satu input usahatani adalah penggunaan benih. Benih yang diharapkan tentu saja benih yang bermutu dan berkualitas, sehingga produksi yang didapatkan akan tinggi. Benih bermutu dapat dilihat dari 3 hal yaitu mutu genetis, mutu fisiologis, dan mutu fisik benih. Mutu genetis yaitu penampilan benih murni dari varietas tertentu yang menunjukkan identitas genetis dari tanaman induknya. Mutu fisiologis yaitu kemampuan daya hidup (viabilitas) benih yang mencakup daya kecambah dan kekuatan tumbuh benih. Mutu fisik benih yaitu penampilan benih secara prima dilihat dari ukuran homogen, bernas, bersih dari campuran, bebas hama dan penyakit maupun kemasan yang aman.
Benih bermutu tidak harus berupa benih bersertifikat yang diperoleh dari produsen benih tetapi juga bisa diproduksi sendiri asalkan dengan metode yang benar. Selama ini, petani yang menggunakan benih bersertifikat terkendala oleh faktor biaya, karena harganya yang mahal. Petani bisa saja melakukan upaya menghasilkan benih sendiri dari kegiatan usahataninya, dalam rangka menurunkan biaya produksi khususnya untuk perolehan atau pembelian benih sebagai input produksi. Untuk memproduksi benih bermutu, petani harus memperhatikan aspek budidaya mulai dari penyiapan lahan sampai panen. Antara lain: pengaturan jarak tanam, pemupukan, pengairan, perlindungan terhadap OPT, pemupukan harus tepat jenis, dosis, waktu dan frekuensi serta pemeliharaan seperti roguing. Saat pemanenan juga harus dilakukan dengan baik dianjurkan secara manual agar tidak menurunkan kualitas benih, dan dilakukan pada tingkat masak fisiologis. Untuk mendapatkan benih bermutu dan tahan disimpan, biji yang sudah dipanen perlu dikeringkan sampai dengan kadar air tertentu (padi 13%) kemudian dilakukan pembersihan dan pemilahan. Sambil menunggu musim tanam, benih yang sudah didapatkan hendaknya disimpan dalam wadah yang kedap udara seperti toples, kaleng, atau plastik poy etilen.
Dengan demikian, menurut hemat saya sangat memungkin petani untuk menghasilkan benih sendiri dari kegiatan usahatani yang dilakukannya. Hanya perlu diperhatikan metode-metode yang baik dan benar dalam proses menghasilkan benih tersebut. Perlu diingat juga bahwa keberhasilan suatu produksi usahatani selain dipengaruhi oleh kualitas benih juga oleh input-input produksi lainnya seperti kualitas lahan, pupuk, pengendalian hama penyakit, keadaan air, dan lainnya. Jadi, jika benihnya bermutu tapi kondisi lingkungan mikro lainnya dan input yang lain tidak diperhatikan maka produksi yang dihasilkan bisa jadi gagal sekalipun penggunaan benih bersertifikat.
Demikian jawaban saya untuk pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan. Terimakasih atas atensinya semoga bisa dipahami dengan baik.
Comments
Post a Comment