sumber : https://www.detik.com/jabar/berita/d-7329222/mentan-ingin-bangun-klaster-pertanian-modern/2
Hallo, di ruang ini kita akan membahas artikel pada gambar di atas (link di bawah gambar). Menteri Pertanian Amran Sulaiman berencana akan membangun klaster pertanian modern yang nantinya SDM yang digunakan adalah generasi millenial. Menurutnya, pertanian modern akan menghemat anggaran hingga triliunan. Nah, apa sebenarnya pertanian modern dan bagaimana pertanian modern itu? Simak yuk, penjelasan di bawah ini.
Pertanian modern adalah pertanian yang bertujuan untuk membantu petani dalam meningkatkan efisiensi dan mengurangi jumlah sumberdaya alam seperti air, tanah, dan energi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan, bahan bakar, dan serat. Perwujudan dari pertanian modern adalah aktivitas agribisnis, pertanian intensif, pertanian organik dan pertanian berkelanjutan.
Penerapan pertanian modern diharapkan mampu meningkatkan pasokan pangan, menjamin keamanan pangan, meningkatkan keberlanjutan dan menghasilkan lebih banyak biofuel. Namun, pertanian modern yang tidak terjaga dapat menimbulkan efek negatif terutama terhadap lingkungan. Hal ini karena secara teori pertanian modern menginginkan output yang tinggi dengan menggunakan input yang tinggi pula termasuk pestisida dan pupuk kimia.
Ada banyak contoh penerapan pertanian modern terutama dalam penggunaan teknologi, diantaranya:
1. Sensor tanah dan tanaman
Saat ini banyak peralatan pertanian yang dilengkapi dengan sensor cerdas yang dapat membaca segala sesuatu yang berhubungan dengan tanaman. Contoh teknologi sensor digunakan untuk membaca kesehatan tanaman, tingkat kandungan nitrogen esensial di dalam air. Teknologi sensor bisa digunakan untuk mengukur konduktivitas listrik tanah, lantas dasar, kandungan bahan organik, bahkan karakteristik tanah seperti pH. Dengan menggunakan sensor, petani dapat memeriksa tanamannya dari jarak jauh berdasarkan kondisi lapangan secara real-time.
2. Tanaman yang terhubung dengan Wi-Fi
Penerapan sistem Wifi pada tanaman memiliki mekanisme sebagai berikut: areal pertanian (peternakan) dipasang wifi dan sensor yang dapat merekam dan mengirimkan instruksi ke sistem irigasi otomatis pertanian. Di lain kasus, bisa menambahkan dosis pupuk yang tepat sesuai dengan kebutuhan, sebelum jumlah air yang tepat disebarkan melalui pipa tetes, kemudian pupuk dan air nanti dapat mengalir secara bersamaan ke tanaman. Adanya teknologi ini dapat memaksimalkan efisiensi, mendistribusikan jumlah air yang tepat secara berkala, serta mencegah pemborosan input dan juga biaya. Adapun petani dapat mengakses aktivitas pemantauannya ini melalui gadget atau ponsel pintar.
3. Teknologi bus
Teknologi BUS (Sistem Unit Biner) adalah serangkaian kawat yang membentuk kabel besar yang dihubungkan antara monitor (terminal vitual) dengan implementator. Teknologi yang diaktifkan disebut ISOBUS, sebuah protool komunikasi berdasarkan standar elektronik pertanian ISO 11783 dan Teknologi Controller Area Network atau Cannabis.
4. Robot petani
Salah satu teknologi modern di dunia pertanian adalah penggunaan teknologi drone. Saat ini, sektor pertanian bisa memanfaatkan drone yang bisa digunakan dalam membantu pemupukan dan penyemprotan tanaman di lahan sawah. Teknologi drone dapat menghemat waktu dan biaya tenaga kerja. Teknologi ini dilengkapi dengan GPS yang tepat sehingga mereka dapat dengan mudah menavigasi ruang sempit diantara barisan tanaman. Teknologi drone dapat membantu petani dalam memilih strobery yang matang, selada yang bagus, memotong anggur dan lain-lain.
5. Manajemen panjang gelombang
Pertanian rumahan di perkotaan dan pertanian vertikal saat ini sedang marak dan populer di masyarakat. Penerapannya diantaranya dengan menciptakan panjang gelombang sinar matahari ideal yang disesuaikan dengan pertumbuhan dalam ruangan yang terkompresi. Hal ini memberikan petani kesempatan untuk bercocok tanam sepanjang tahun.
Mungkin masih banyak lagi jenis teknologi yang diadopsi dalam dunia pertanian modern. Namun demikian, pertanian modern menurut saya juga memiliki kelemahan. Apa saja?
1. SDM petani Indonesia
Meskipun teknologi modern untuk pertanian saat ini mulai berkembang, akan tetapi kalau petani Indonesia saat ini berada pada usia di atas 40 tahun saya rasa ini bisa menjadi kendala. Mengapa? Karena untuk mengaplikasikan teknologi perlu SDM yang fresh dan melek teknologi dan informasi. SDM yang paling tepat adalah generasi millenial. Namun masalahnya, banyak pemuda yang tidak tertarik pada dunia pertanian. Oleh karena itu perlu giat atau sosialisasi kepada generasi muda bahwa pertanian adalah sektor yang menjanjikan dan bisa dikomersilkan. Pertanian hanyalah tempat, sedangkan cara mengelolanya generasi millenial bisa menerapkan kemajuan dan perkembangan IPTK.
2. Kepemilikan lahan pertanian
Rata-rata kepemilikan lahan pertanian (lahan sawah) petani Indonesia hanyalah 0,25 hektar. Kepemilikan yang sempit ini, tidak banyak bisa dikelola dengan teknologi mesin. Penggunaan SDM manusia adalah yang paling tepat. Jika ingin memaksimumkan hasil pada pertanian lahan sempit, maka teknologi yang tepat bukan pada teknologi mesin melainkan intensifikasi seperti penggunaan benih unggul, tumpang sari, serta irigasi yang memadai.
3. Pengangguran
Jika teknologi yang dimaksudkan hanya pada penggunaan mesin-mesin, maka dampak nyatanya adalah makin meningkatnya pengangguran. Penduduk Indonesia yang cukup besar, dengan luas lahan pertanian yang banyk terkonversi menjadi lahan non pertanian, berakibat pada terciptanya pengangguran. Jika teknologi mesin makin marak bahkan sampai di tingkat pedesaan, bagaimana dengan tenaga kerja manusia yang selama ini digunakan oleh para petani Indonesia?
4. Tingginya biaya perawatan
Penggunaan teknologi mesin tentu harus diiringi dengan perawatan yang intensif. Perawatan mesin dan gadget teknologi modern mahal, sehingga petani tidak mampu mengimbanginya.
Jadi, dari paparan di atas sikap seperti apa yang harus kita ambil? Di satu sisi teknologi memberikan peluang untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Namun, di sisi lain ada dampak yang harus ditanggung. Menurut hemat saya, disinilah peran pemerintah. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan, adalah entitas yang paling paham keadaan pertanian secara keseluruhan di Indonesia. Kebijakan-kebijakan yang dibuat harus berdasarkan karakter dan kebutuhan petani baik di pedesaan maupun di perkotaan. Contohnya penerapan drone untuk menyebar pupuk atau menyemprot pestisida akan cocok jika diterapkan di areal lahan yang luas. Misalnya perusahaan perkebunan. Namun bagi petani dengan lahan sempit, penggunaan drone tentu tidak pas. Karena biaya untuk membeli drone-nya saja sudah mahal. Kecuali jika drone ini dikelola oleh gapoktan yang diperoleh sebagai bentuk bantuan subsidi input alsintan dari pemerintah. Drone dimanfaatkan oleh gapoktan untuk menjalankan unit penyewaan input. Anggota gapoktan yang mau menggunakan drone harus membayar uang sewa. Sehingga bisa menjadi pemasukan bagi gapoktan. Nah, demikian opini saya terhadap pertanian modern. Semoga bermanfaat ya ^.^

Comments
Post a Comment