Di artikel sebelumnya saya sudah menuliskan kegiatan PKM yang membahas tentang penyuluhan dan workshop pembuatan cocopeat. Jadi sebenarnya, dalam satu kegiatan PKM di tempat yang sama kami membuat dua agenda workshop yaitu membuat cocopeat dan pupuk organik. Untuk pupuk organik kami juga mempraktikkan langsung. Sebagai ketua dan pemateri penyuluhan pupuk organik adalah saya sendiri (Eny Ivan's, SP., M.Sc).
Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair, dapat dipercaya dengan bahan mineral, dan/atau mikroba yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Permentan No. 70 Tahun 2011). Penggunaan pupuk organik dirasakan lebih bermanfaat ketika pupuk kimia tidak lagi memberikan hasil yang tinggi terhadap produktivitas panen. Namun demikian, penggunaan pupuk organik tidak banyak dilakukan petani karena petani merasa masih tergantung dengan pupuk kimia. Disisi lain pupuk organik harus didapatkan dengan memakan waktu yang lama untuk produksinya. Apalagi jika dalam jumlah besar, produksi pupuk organik masih sangat sulit untuk dilakukan.
Pembuatan pupuk organik di PKM kali ini menggunakan bahan-bahan antara lain kotoran sapi yang sudah mengering, EM4, merang atau sekam padi, air gula merah, kapur atau dolomit dan air. Cara membuat pupuk organik padat ini adalah dengan mencampurkan semua bahan-bahan dan diaduk dengan rata. Setelah campuran bahan-bahan itu rata, kemudian ditutup dengan plastik atau terpal agar terjadi proses fermentasi dan penguraian oleh bakteri yang berasal dari EM4. Pupuk organik di fermentasi dalam kurun waktu 2-4 minggu untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus. Setelah itu, pupuk organik bisa dimanfaatkan untuk memupuk tanaman di lahan pertanian atau bisa digunakan sebagai media tanam langsung di pot-pot atau karung.
Kegiatan PKM alhamdulillah berjalan lancar. Siswa-siswi di SMK Darul Fatah memperoleh pengalaman langsung dalam praktik pembuatan pupuk organik. Kami berharap, kegiatan pembuatan pupuk organik ini bisa berjalan kontinyu yang dilakukan oleh para siswa agar selain bisa dimanfaatkan langsung di lahan pertanian sekolah, bisa juga menjadi sumber wirausaha bagi para siswa dan pihak sekolah. Output dari kegiatan PKM ini adalah laporan pengabdian masyarakat. Semoga ke depan kegiatan PKM oleh dosen Agribisnis UNU Lampung bisa berkolaborasi dengan para penggiat pertanian lainnya agar mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih komprehensif.


Comments
Post a Comment